Cari Blog Ini

Selasa, 22 Januari 2013

Kisah Perjalanan Bebek Palupi Surabaya





BIODATA USAHA

Nama usaha    : Bebek Palupi
Alamat           : Jl.Raya Rungkut Asri Tengah no.10
Jenis usaha     : kuliner
Berdiri Sejak   : 1996
Pemilik usaha : Sam Iadi


sam iadi, pemilik bebek palupi

Menilik Kesuksesan Bebek Palupi

"Orang Surabaya jika tak kenal bebek Palupi maka bisa dibilang kuper (kurang pergaulan) hahaha," ungkap Axellya Nikita, pelanggan bebek goreng Palupi yang terletak di Jalan Rungkut Asri Tengah no. 10, Surabaya.

Warga Surabaya bila ditanya tentang kuliner bebek goreng, pasti menyebut nama Bebek Palupi. Didirikan sejak 1996, usaha kuliner bebek Palupi mulai menunjukkan ketenarannya sejak 2006. Butuh waktu 10 tahun untuk sukses! Bagaimana perjalanan Bebek Palupi menuji kesuksesannya? Tentu menarik untuk disimak.

Pemilik usaha, Sam Aidi, mengisahkan bahwa ia memulai usahanya dengan berjualan kaki lima. Saat itu usahanya terletak di depan perpustakaan daerah di jalan Rungkut Asri Tengah, Surabaya. "Saya memulai usaha dari nol. Berdagang kaki lima sejak tahun 1996," ujarnya. Pada saat itu menu bebek goreng menjadi andalannya.

Pada 1996 pemilik usaha, Sam Aidi mengalami banyak kisah suka dan duka. Saat berdagang kaki lima, ia kerap kesulitan saat turun hujan, juga setiap saat selalu berhadapan dengan satpol PP yang mengobrak dagangannya. "Saat itu kehidupan saya benar-benar susah dan sempat sangat putus asa," ujarnya.

Karena tak kunjung mendapat keuntungan, Sam Iadi beralih untuk berdagang nasi goreng. "Berjualan nasi goreng adalah periode paling susah dalam kehidupan saya. Bagaimana tidak, saat itu sehari hanya laku 3 porsi saja," ungkapnya. Dan, karena berjualan nasi goreng membuatnya semakin terpuruk, ia memilih untuk berjualan sari laut. "Jualan sari lautpun juga tak begitu banyak memberikan keuntungan," ungkapnya.

Rupanya semangat dan kepercayaan diri Sam Iadi masih terus membara. Sekalipun perjalanan meniti kariernya penuh dengan kesulitan, Sam Iadi dengan tabungan yang ia punya pada akhirnya memberanikan diri untuk mengontrak sebuah gudang di Rungkut Asri, Surabaya. Pada saat itu ia memutuskan untuk beralih dari sari laut dan kembali ke usaha awalnya, yakni bebek goreng.

Berdasarkan pengalaman masa lalunya, ia melihat bahwa usahanya yang cukup memberikan keuntungan adalah usaha awalnya, yakni bebek goreng. "Jika dipikir-pikir, usaha saya yang dulu memang tidak berkembang, namun dulu usaha bebek goreng keuntungannya lebih banyak daripada saat saya berjualan nasi goreng atau sari laut," paparnya.

Maka pada 2006 ketika ia memberanikan diri untuk melanjutkan usaha kulinernya, dengan semangat bangkit dari keterpurukan masa lalu, ia mulai mencoba untuk survei di beberapa depot bebek goreng di berbagai daerah demi mendapatkan resep yang pas. "Dari survei itu saya kembangkan sendiri cara memasak bebek goreng yang pas. Akhirnya, jadilah masakan bebek goreng saya sekarang ini," ujarnya.

Berdasarkan kegemarannya terhadap langgam Jawa, ia menamakan usahanya itu 'Palupi'. Terangnya, 'Palupi' adalah jenis langgam jawa yang mendayu-dayu dan membuat orang terbawa akan nada-nada nyaringnya. "Harapannya, masakan saya dapat membuat orang hanyut dalam kelezatannya, seperti saya yang setiap kali hanyut dalam melodi indah langgam Jawa," ujarnya sambil tertawa.

Dalam perjalanannya, bebek Palupi meraih banyak pelanggan. Usaha itu mempromosikan kelezatan makanannya dari mulut ke mulut, yakni berasal dari pembeli yang merasakan masakannya, kemudian pembeli itu mengabarkan pada kawan-kawan dan relasi-relasinya. Alhasil, Bebek Palupi meraih banyak pelanggan dan hingga kini telah memiliki karyawan sebanyak 10 orang.

"Apalagi waktu itu usaha kuliner bebek goreng masih jarang di Surabaya," ujar Sam Iadi. Ia menjelaskan bahwa ketika mendirikan usaha, seseorang harus pandai memanfaatkan peluang yang ada.

Bebek Palupi saat ini, selain dipimpin oleh Sam Iadi, ia juga dibantu sang istri, Ma'rufah. Mereka berdua bahu-membahu dalam mengerjakan segala sesuatunya. Hingga saat ini banyak ditawari kerjasama oleh beberapa perusahaan minuman, bahkan salah satu perusahaan minuman terkemuka di Indonesia menaruh produk dan menuliskan brand usahanya di dinding bebek Palupi.

Setiap harinya Bebek Palupi didatangi oleh ratusan pelanggan dan tiap bulannya meraup omzet kisaran 15 juta per bulan. Ditanya mengenai resep suksesnya, Sam Iadi menjelaskan bahwa kemauan dan kerja keras adalah salah satu hal yang dapat menunjang kesuksesan seseorang. " jangan berhenti pada satu titik, jangan memikirkan untung-ruginya, yang penting mau melangkah. Juga, buatlah usaha yang sesuai dengan kemampuan dan jangan sekali-kali mencoba membuat usaha bila tidak memiliki pengetahuan tentang usahanya itu," ungkap bapak satu anak itu. Ia juga menandaskan bahwa mutu produk harus dijaga dengan baik, berikut rasa dan kebersihannya.


Bebek Palupi Berbagi Resep: Kelezatan dan Pengelolaan Usaha

"Bagaimana? Empuk, bukan?," tanya Ma'rufah, istri Sam Iadi yang menawarkan kepada Surabaya Post untuk mencicipi masakan bebek gorengnya.

Memang, daging bebek yang empuk dipadu dengan bumbu gurih menjadi citarasa khas Bebek Palupi yang tidak dimiliki oleh usaha sejenis lainnya di Surabaya. Pemilik usaha, Sam Iadi tak segan-segan membeberkan tips kepada Surabaya Post tentang cara untuk membuat daging bebek menjadi empuk.

"Pertama, pilihlah daging bebek muda. Kemudian rebus dan harus pandai-pandai mengatur suhu panasnya. Itu saja sebenarnya. Sederhana, kan?," ungkap Sam Iadi. Daging bebek itu kemudian dipadu dengan bumbu gurih racikannya dengan lalapan timun dan kemangi. "Soal rasa kami berani bersaing dengan usaha bebek goreng di lain tempat. Apalagi soal keempukan daging bebek," ungkap Sam Iadi. Ia juga menerangkan bahwa ia melakukan kontrol langsung terhadap proses produksi memasak, juga melakukan pengawasan terhadap rasa dan kebersihannya.

Selain membeberkan resep cara menjaga kualitas masakan, Sam Iadi juga membeberkan resep menjaga suasana usaha agar selalu solid dalam melayani pelanggan. Ia memaparkan bahwa menjaga keakraban dan persaudaraan antara ia dan para karyawannya merupakan hal yang sangat penting. "Disini kami semua akrab dan tak ada batas. Semuanya adalah saudara dan kami semua bekerja bersama-sama. Itu yang penting. Suatu usaha yang sedang berjalan, harus sangat memperhatikan intern usahanya. Kebersamaan dan rasa persaudaraan antar pemilik dan karyawan harus terus dijaga," ungkapnya.

Ke depannya, Bebek Palupi akan terus berusaha meningkatkan pelayanan dan mutu masakan, juga menambah menu masakan. "Masih rencana. Namun dalam waktu dekat akan ada menu baru, yakni bebek dan ayam panggang," pungkasnya. Saat ini Bebek Palupi selain memiliki menu unggulan bebek goreng, juga memiliki menu lain seperti ayam goreng, tempe dan tahu goreng serta lele goreng. 


*Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post edisi Minggu, 20 Januari 2013

Ekstra Kurikuler Peduli lingkungan ala Smpk St Stanislaus Surabaya




BIODATA

Nama Ekstra Kurikuler       : Science Club
Sekolah                               : Smpk St Stanislaus, Surabaya
Pembina Ekstra Kurikuler   : Lilik Andajani

Prestasi 
                              
2011
-          Juara 1 Eco School tingkat Surabaya
-          Juara 1 Energy Challenge tingkat Surabaya

2012
-          Juara 2 Eco School tingkat Surabaya

Award Mingguan Sepanjang tahun 2012
-          Eco Teacher of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Program of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Mass Media Aproach of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Student of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Journalism of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Headmaster of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya




Ekstra Kurikuler Peduli Lingkungan ala Science Club

Berdasarkan data, jumlah sampah yang dihasilkan oleh kota Surabaya perharinya mencapai 1100 ton. Jumlah yang mencengangkan bukan? Sampah tentu menjadi salah satu persoalan pelik di kota ini, dan sudah barang tentu dibutuhkan kepedulian berbagai pihak, baik instansi pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan dan sebagainya. 

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah di Surabaya, misalnya, pemerintah mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah; bisa juga dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup; serta jika dilihat dari kacamata institusi pendidikan, penanaman kedisiplinan anak untuk membuang sampah sejak dini, penanaman kecintaan terhadap lingkungan hidup, juga pemberian pengetahuan kepada anak untuk mengelola sampah dengan baik dan benar adalah salah satu dari sekian banyak solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi menumpuknya sampah di Surabaya.

Selama ini banyak sekolah yang memberikan pelajaran tentang lingkungan hidup dan pelestariannya, namun, jika pemberian pelajaran berlangsung hanya pada tataran teori tanpa praktik, maka hal itu sama saja dengan nol besar. Hal itu merupakan salah satu kegelisahan yang sangat disadari oleh Smpk St Stanislaus, salah satu institusi pendidikan swasta di Surabaya. 

Berawal dari ide dari pembina ekstra kurikuler yang juga guru biologi dan kimia, Lilik Andajani, yang gelisah terhadap pengetahuan yang diberikannya kepada siswa bisa jadi akan menguap dengan sendirinya jika siswa tidak diajak untuk terjun langsung dalam praktek pemeliharaan lingkungan hidup yang diajarkannya. Maka dari itu pada tahun 2011 dibentuklah ekstra kurikuler Science Club di Smpk St Stanislaus yang fokus pada pemeliharaan lingkungan hidup serta pengolahan tanaman- tanaman tertentu seperti klerak dan tanaman berjenis TOGA untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Awal pembelajaran memang di dalam kelas, kemudian saya kembangkan dalam bentuk ekstra kurikuler untuk membina siswa agar peduli terhadap lingkungan hidup. Selain itu tujuannya untuk mendidik para siswa agar mereka tidak terlalu bergantung pada bahan kimia, melainkan memakai alternatif bahan lain yang ramah lingkungan,” ujar Lilik, Pembina ekstra kurikuler Science Club. Di dalam ekstra kurikuler Science Club, siswa diberi pengetahuan tentang pemeliharaan lingkungan serta dapat membuat sendiri alternatif bahan ramah lingkungan untuk keperluan sehari-hari.

Untuk pemeliharaan lingkungan hidup, para siswa anggota ekstra kurikuler Science Club dituntut untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolahnya menyangkut kebersihan dan sebagainya. “Salah satunya kami diajarkan untuk membuat ‘keranjang composter’, yakni tempat sampah inovatif yang bisa menyulap sampah menjadi pupuk kompos,” terang Silvy Octavia, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club.

Bagaimana cara membuat, juga cara kerja ‘keranjang composter’? Para siswa ekstra kurikuler Science Club memaparkan bahwa pembuatan keranjang itu diawali dengan mengalasi bagian dalam keranjang dan menutup berbagai sisi dalam keranjang dengan kardus bekas,kemudian bagian bawah diberi bantalan sekam, ditimbun dengan pupuk kompos, kemudian ditutup kembali dengan bantalan sekam. “Setelah semua selesai baru ditutup dengan kain dan akhirnya ditutup dengan penutup keranjang,” terang Sausa, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club. ‘Keranjang Komposter’ ditaruh di beberapa sudut sekolah. Sampah yang dibuang ke dalamnya akan diolah secara alami oleh bahan-bahan yang ada di dalam keranjang composter menjadi pupuk yang berguna untuk menyuburkan tanaman.

Untuk pemeliharaan lingkungan, selain membuat ‘keranjang composter’, para siswa dari ekstra kurikuler Science Club juga diajarkan untuk membuat lubang biopori, yakni lubang resapan yang dibuat dengan ukuran tertentu, yang diisi dengan sampah organik yang berfungsi sebagai penyerap air ke tanah dan membuat kompos. “Pembuatan lubang biopori ini membuat sekolah kami terbebas dari banjir. Biji-biji tanaman yang terbuang ke tanahpun dapat tumbuh subur,” ujar Melania Setyawati, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club.

Berkat usaha keras dari ekstra kurikuler Science Club, pada 2011, Smpk St Stanislaus meraih juara 1 lomba bertajuk Eco School, yakni lomba pelestarian lingkungan hidup antar sekolah se-Surabaya yang diselenggarakan oleh Pemkot dan bekerjasama dengan LSM Lingkungan Hidup, Tunas Hijau. Dalam kejuaraan itu mereka mendapat penghargaan atas pembudidayaan serta pemanfaatan tanaman klerak sebagai tanaman multiguna yang mulai langka di Indonesia.

Cara mereka mengawali budidaya tanaman klerak di sekolahnya juga terbilang unik. Mulanya, mereka mencoba membuat lotion anti nyamuk dari biji klerak yang direndam dalam baker glass, kemudian air rendamannya dicampur dengan body lotion. Setelah usai, biji klerak dibuang di tanah dan secara tidak sengaja beberapa hari kemudian dapat tumbuh subur. “Dari situ kami mulai membudidayakan klerak dan mempelajari manfaatnya,” ujar Pietra, wakil Pembina ekstra kurikuler Science Club Smpk st Stanislaus, Surabaya.

Selain digunakan sebagai lotion anti nyamuk, para siswa ekstra kurikuler Science Club juga memanfaatkan klerak sebagai bahan insektisida alami, sabun mandi, serta shampoo. “Buah klerak mengandung zat saponin, yaitu bahan pembersih yang ramah lingkungan. Orang-orang di pedesaan serta nenek moyang kita kerap menggunakan klerak untuk mandi dan mencuci. Sayangnya kini orang lebih memilih bahan kimia yang tak ramah lingkungan,” ujar Michael, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club.

Berdasarkan inovasi-inovasinya di bidang pemeliharaan lingkungan hidup dan pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan, Smpk St Stanislaus mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah dan seringkali memenangkan kejuaraan di bidang lingkungan hidup. Pada 2012 mereka meraih juara II Eco School tingkat Surabaya, dan berturut-turut meraih award mingguan, meliputi guru terbaik, kepala sekolah terbaik, siswa terbaik, karya tulis terbaik, program pemeliharaan lingkungan terbaik dan sebagainya.

“Semua tidak lepas dari peran serta berbagai pihak untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup,” ujar Lilik Andajani, pembina ekstra kurikuler Science Club, Smpk St Stanislaus.



Berbakti Kepada Masyarakat, Berkarya dan Persiapan Kejuaraan Internasional

Selain memelihara lingkungan hidup di sekolah, siswa-siswi peserta ekstra kurikuler Science Club di Smpk St Stanislaus juga berperan aktif di luar sekolah. Salah satunya mereka aktif membuat lubang biopori di berbagai sekolah di Surabaya, juga blusukan ke kampung-kampung untuk pembuatan lubang biopori serta aktif melakukan penyuluhan tentang lingkungan hidup hingga bekerja bakti untuk memelihara kebersihan tempat ibadah. “Contohnya Gereja Kristus Raja yang berdiri di depan sekolah kami. Disana kami aktif melakukan kerja bakti serta membuat lubang biopori agar tidak terkena banjir,” terang Carollina, siswa peserta ekstra kurikuler Science Club, Smpk St Stanislaus, Surabaya.

“Semua itu menunjukkan partisipasi aktif kami untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup agar tetap lestari,” ujar Valeria Tasya, salah satu siswa anggota Science Club

Selain aktif berbakti kepada masyarakat, Science Club saat ini tengah mengembangkan berbagai inovasi tentang lingkungan hidup, salah satunya mereka merambah pada bidang budidaya lele, membuat kertas dari daur ulang serta membuat jus bunga sepatu. “Kalau jus bunga sepatu, bahannya dari buah sirsat, dicampur kelopak bunga sepatu, kemudian dicampur gula dan es. Diblender dan jadilah jus yang nikmat dan berfungsi untuk menyembuhkan batuk, panas dalam dan segala keluhan menyangkut tenggorokan,” ujar  Michael.W, salah satu anggota Science Club 

 Hingga saat ini Smpk St Stanislaus kerap dijadikan tempat studi banding dari berbagai instansi pendidikan untuk mengetahui inovasi-inovasi mereka tentang pemeliharaan lingkungan hidup. Salah satunya adalah sekolah YPJ Kuala Kencana, dari Papua yang datang beberapa bulan lalu untuk belajar.

Ditanya mengenai harapan ke depan, Lilik Andajani selaku Pembina memaparkan bahwa Science Club yang kini anggotanya berjumlah sekitar 50 siswa itu akan terus mengembangkan inovasi-inovasinya yang ramah lingkungan serta intensif untuk melakukan langkah pemeliharaan terhadap lingkungan hidup. “Kalau lomba-lomba, saat ini kami sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan Volvo Sains, yakni, proyek sains tentang lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh United Nation Environtment Program (UNEP) di tingkat internasional,” pungkasnya.


QUOTE


 



Lilik Andajani, Pembina Science Club
“Melalui ekstra kurikuler ini sekolah ingin mendidik siswa untuk berpikir kritis, ilmiah, melatih kemampuan menulis dan lebih mencintai lingkungan”






 


 Melania Setiawati
“Saya menyukai Science Club kaena memberi banyak pengetahuan dan memberi manfaat untuk kehidupan di masa depan”







Sausa. S

“Science Club sangat menyenangkan. Selain itu berguna pula untuk menambah wawasan tentang pemeliharaan lingkungan serta pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan






 



Carollina. J
“Ekstra Kurikuler Science Club sangat inspiratif dan dapat memotivasi generasi muda lain agar mau mencintai lingkungannya”

 






Valeria Tasya
“Bagi saya, kegiatan yang dilakukan di Science Club sangat inspiratif dan memotivasi semangat kami untuk terus menjaga lingkungan hidup. Ciayoo!!”






Michael. AT
“Science Club membuat saya seakan menjadi ilmuwan yang akrab dengan percobaan yang menarik dan menantang!”




 #Tulisan saya ini pernah dipublikasikan di Surabaya Post tanggal 27 Januari 2013

Senin, 21 Januari 2013

Komunitas Zungu Capoeira Surabaya





Zungu Capoeira Surabaya: Menjadikan Capoeira Untuk Membentuk Semangat Hidup

Sinto a Capoeira/Como tempos atras/Oh querida Indonesia/Eu náo te esqueco jamals. Itulah sepenggal lirik dari lagu berjudul Terra De Energia, yang diciptakan oleh Professor Caca, master Capoeira dari Sao Paulo, Brazil. Lagu itu tercipta beberapa tahun lalu sepulang dari kunjungannya ke Indonesia untuk memenuhi undangan dari komunitas-komunitas Capoeira di Indonesia.

Lagu berbahasa Portugis itu selalu dikumandangkan di sela-sela latihan komunitas Zungu Capoeira, salah satu komunitas Capoeira di Surabaya. Tubuh yang selalu bergerak, dipadu dengan keahlian akrobatik serta musik, begitu tampak selaras dan menunjukkan keunikannya sebagai sebuah kebudayaan yang muncul dari perpaduan berbagai unsur.

Apa itu Capoeira? Sulit untuk mendefinisikan Capoeira karena di dalamnya meliputi banyak unsur seni; meliputi olah tubuh, beladiri, akrobatik, musik yang terpadu dalam sebuah seni pertunjukan yang memiliki nilai estetika tersendiri.

Bila menilik sejarah, Capoeira diciptakan oleh para budak dari Afrika yang dikirim dari menuju Brazil. Manuskrip tertua di Brazil pada abad 19 menyebutkan eksistensi Capoeira di negara itu, namun diyakini, keberadaan Capoeira telah jauh ada sebelumnya, yakni pada masa penjajahan Portugis. Saat itu pemerintah Portugis melarang para budak untuk berlatih beladiri demi menghindari pemberontakan. Dengan cerdik, para budak menyiasatinya dengan berlatih beladiri yang disamarkan dalam seni musik dan seni tari sehingga terkesan bahwa Capoeira adalah semacam seni pertunjukan.

Capoeira diperkenalkan kepada dunia oleh tiga orang master Capoeira, yakni Mastre Bimba, Mastre Pastinha serta Mastre Woldemar. Ketiga orang itu tampil di berbagai media dan menunjukkan kepada khalayak ramai tentang keberadaan Capoeira sebagai salah satu produk kebudayaan Brazil. Alhasil, hingga kini Capoeira semakin banyak diminati oleh berbagai orang dari berbagai belahan dunia.

Terdapat salah satu komunitas Capoeira yang ada di Surabaya yakni Zungu Capoeira. Komunitas itu aktif mengadakan latihan rutin serta even-even. “Kami eksis sejak 2009 dan hingga kini memiliki anggota aktif sebanyak 150 orang,” ujar Johan Ishii, ketua komunitas Zungu Capoeira, Surabaya. Disebutkan, bahwa anggota Zungu Capoeira Surabaya terdiri dari berbagai macam usia, dari 2,5 tahun hingga 52 tahun.

Setiap senin hingga jumat komunitas tersebut melakukan latihan rutin. Mereka membentuk lingkaran dan masing-masing saling berhadapan dan melakukan gerakan-gerakan anggun, perpaduan antara seni beladiri dan seni tari. Beberapa orang ada di pojok lingkaran dan memainkan alat-alat musik seperti jimbe dan berimbau. Semuanya bernyanyi, diantaranya melagukan komposisi music Terra de Energia yang diciptakan oleh Professor Caca. Guyub, rukun dan penuh kegembiraan, tidak seperti olahraga beladiri lainnya yang kaku dan tegang.

“Di dalam Capoeira terdapat basic dasar, seperti Ginga, yakni gerakan tubuh semacam kuda-kuda, namun selalu bergerak,” ujar Fify Handoyo, salah satu anggota komunitas Zungu Capoeira. Dipaparkannya, selain Ginga adapula gerakan Que Sada, yakni gerakan akrobatik sembari menendang ke atas, adapula Compaso, gerakan akrobatik dengan membungkukkan badan ke bawah; Role, gerakan berputar; Au, salto; Esquivivas, gerakan menghindar dan masih banyak lagi.

Capoeira diyakini dapat membawa semangat hidup dalam keseharian. Tubuh yang selalu bergerak dapat memberi kesehatan serta kebugaran. “Capoeira juga dapat membuat kita lebih menikmati hidup, istilahnya selalu mengalir, bagaikan air. Di dalam  Capoeira juga tidak ada batasan dalam gerak, sekalipun ada dasar-dasar geraknya, namun perkembangannya, gerakan Capoeira dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kreatifitas individu,” ujar Grace Tanuwidjaja, anggota Capoeira.

Di dalam Capoeira terdapat berbagai tingkatan kemampuan yang disimbolkan melalui warna ikat pinggang. Mulai dari branca, yakni polos, tanpa warna; putih-kuning; kuning; orange; orange-biru; biru; biru-hijau; hijau; hijau-ungu; ungu; ungu-coklat; coklat; coklat-merah; merah dan putih. Merah adalah tingkatan master dan putih adalah grand master. Peningkatan kemampuan dilihat dari tingkat ketekunan dan kemampuan para pemain Capoeira. “Biasanya, setelah level orange-biru, untuk naik ke biru, para pemain Capoeira dituntut untuk bisa mengajar,” ujar Christien Amelia, anggota Zungu Capoeira.

Bagaimana dengan perkembangan Capoeira sendiri di Indonesia? Johan Ishii menjelaskan bahwa di Surabaya sendiri terdapat 4 cabang Capoeira. Sedangkan di Indonesia, komunitas-komunitas Capoeira tersebar di berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Surabaya, Madura, Jember, Bali dan Makassar. “Kalau di dunia, tersebar di berbagai negara. Di Asia sendiri Capoeira juga berkembang di Malaysia dan Timor Leste,” ujarnya.

Di Indonesia, komunitas-komunitas Capoeira setiap tahun mengadakan pertemuan dan latihan rutin di Jakarta. Mereka menjalin persaudaraan serta saling sharing perihal Capoeira. Namun, Capoeira selama ini hanya sekedar dijadikan pertunjukan untuk menghibur serta memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang seni Capoeira, sedangkan kompetisi-kompetisi sangat sulit untuk dilakukan karena selalu bermasalah dengan faktor penilaian. “Di dalam Capoeira terdapat berbagai macam unsur seni. Otomatis, faktor penilaiannya akan bias karena memang sangat susah. Alhasil kami hanya mengadakan berbagai pertunjukan dan pertemuan rutin antar sesama pemain Capoeira di Indonesia,” tambah Johan Ishii.

Komunitas Zungu Capoeira sendiri aktif memberikan pengajaran Capoeira sekaligus pelatihan-pelatihan di berbagai tempat di Surabaya. Ketika ditanya tentang cara mengajar anak di bawah umur, para pelatih Capoeira menerangkan bahwa anak-anak yang usianya masih dibawah umur diberi pelatihan dasar, kemudian berhadap-hadapan dengan jarak jauh dan saling melakukan gerakan. “Utamanya mereka bermain dan bergerak. Untuk olah tubuh dan latihan dasar, kami berikan secara step by step,” ujar Joseph Steven

Capoeira sebagai suatu bentuk kesenian yang tidak hanya fokus pada beladiri, memiliki beragam ketentuan. Salah satunya adalah membentuk karakter anggota komunitas agar selalu merendah, tidak menyombongkan diri. “Jauhi kekerasan, jadikan Capoeira sebagai salah satu sarana untuk menjalin persaudaraan. Beladiri dalam Capoeira sendiri hanya boleh dipergunakan dalam keadaan mendesak, misalnya ketika nyawa sedang terancam,” ujar Hadisantoso, anggota Zungu Capoeira Surabaya.


Professor Caca Kagumi Capoeira Indonesia

Antonio Carlos C. Cunha, lahir di Sao Paulo, mulai belajar capoeira pada November 1989, di klub Círculo Militar de Sao Paulo dengan Profesor Chicão, di mana ia pertama kali melakukan batizado (kenaikan tingkat). Professor Caca adalah penggagas komunitas Capoeira yang diberi nama Escola Cultural Zungu Capoeira (ECZC). Komunitas inilah yang tersebar di berbagai belahan dunia, salah satu cabangnya adalah Zungu Capoeira Surabaya.

Setiap 1-2 tahun sekali, komunitas Zungu Capoeira di Indonesia selalu mengundang Professor Caca untuk memberikan pelatihan. Ada satu hal yang menarik, beberapa tahun lalu ketika Professor Caca datang ke Indonesia, ia menitikkan air mata. Mengapa?

Di Brazil, sebagai negara asal Capoeira, beberapa komunitas Capoeira disana tidak dapat bersatu dan beberapa diantaranya cenderung saling menunjukkan kehebatannya hingga kerap berkonflik. Professor Caca terkejut, karena komunitas Capoeira di Indonesia dapat hidup rukun, guyub dalam nuansa persaudaraan antar sesama pemain Capoeira.

“Itulah sebabnya Professor Caca membuat lagu berjudul Terra De Energia, yang menunjukkan kekagumannya terhadap komunitas-komunitas Capoeira Indonesia yang dapat bersatu,” pungkas Johan Ishii yang tak kenal lelah menanamkan semangat persatuan dan kesatuan di antara para anggotanya.

*Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post edisi minggu, 20 Januari 2013




QUOTE


Johan Ishii
“Capoeira adalah gabungan dari berbagai macam unsur kesenian. Para pelakunya terikat dengan rasa persaudaraan yang kuat sebagai sesama pemain Capoeira”

 


Grace Tanuwidjaja
“Capoeira adalah kesenian, meliputi tari, beladiri, musik, olah vokal dan memunculkan perasaan gembira dan persaudaraan. Capoeira melatih reflex, membuat tubuh sehat dan melatih emosi. Capoeira juga membuat kita terkoneksi dengan sesama pemain dari dalam dan luar negeri”




Christien Amelia
“Capoeira itu fun dan keren. Menambah teman, pengalaman, sekaligus melatih fisik kita agar lebih kuat”







Hadisantoso
“Capoeira itu menyenangkan, fun dan asyik”




 
Alisya Farrel Rasendriya
“Capoeira itu unik. Tidak semua orang bisa mempelajarinya. Bila nyawa kita terancam, kita bisa mempergunakannya untuk membela diri” 



# tulisan saya ini pernah dipublikasikan di Surabaya Post edisi 03 Februari 2013