Cari Blog Ini

Sabtu, 05 Januari 2013

Kisah Ahmad Suroto, Ex Pulau Buru 1970



Ahmad Suroto ketika di Pulau Buru



BIODATA



Nama                              : Ahmad Suroto

Tempat tanggal lahir      : Surabaya, 03 Maret 1942

Alamat                            : Sidoarjo, Jawa Timur

Nama Istri                      : Christinah

Nama Anak                    :

  1. Eka Kristianto
  2. Yusak Dwi Cahyono
  3. Maria Tri Wahyuningsih



Hati yang Senantiasa Bersukacita Dapat Menjadikan Tubuh Sehat


Ayah, Ibu, Kekasih dan kotaku
sekian lama langkahku membisu di surgamu
mengerak
menjadi jejak sejarah

Esok aku pulang, Ibu
Masihkah kerak itu dapat terbaca untukku?


Sepenggal sajak itu mungkin cukup mampu menggambarkan suasana hati seorang Ahmad Suroto serta ratusan tahanan politik lainnya yang pada akhirnya diperbolehkan pulang ke Pulau Jawa setelah menjalani masa penahanan selama 9 tahun 3 bulan di Pulau Buru.

"Di sana saya berkawan dengan banyak tahanan politik (tapol) dari berbagai latar belakang. Termasuk Pak Oei Hiem Hwie yang sebulan lalu dimuat di Surabaya Post. Saya ingat, dulu beliau adalah wartawan harian Trompet Masjarakat yang juga ditahan disana bersama saya," ujar Ahmad Suroto. Ia memaparkan pula perjalanan hidupnya yang penuh kenangan selama masa pengasingannya. "Saat disana selama beberapa tahun, saya cuma bisa pasrah dan tak pernah berpikir untuk bisa pulang," kenangnya.

Ketika ia diperbolehkan pulang pada 1979, bagaimana perasaannya? "Tentu saja senang. Saya bisa kembali ke Jawa untuk bertemu keluarga, melepas rindu serta dapat mengenang sekaligus menjalani kembali masa-masa indah yang pernah saya alami di Jawa," ungkapnya. Pada perjalanan pulangnya, sebelum ke tempat asalnya di Surabaya, ia singgah di salah satu tempat tinggalnya di Banyuwangi. Disana ia menemui kekasihnya, Christinah dan tidak lama ia memutuskan menikahinya. Dari pernikahannya itu, hingga kini ia dikarunai 3 orang anak.

Sebagai eks tapol Pulau Buru, setelah pulang dari pengasingannya tentu saja ia kesulitan mencari pekerjaan karena predikat 'Eks Tapol' yang tertera pada KTP-nya. Alhasil, ia harus membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Setelah mencari pekerjaan cukup lama, pada akhirnya ia diterima menjadi pengawas gudang sebuah pabrik di Rungkut, Surabaya. Dari pekerjaan itulah ia perlahan-lahan mampu membangkitkan ekonomi keluarganya. "Cukup susah memang, tapi saya harus bekerja keras untuk bisa menghidupi istri dan anak-anak," ujarnya.

Sebagai eks tapol Pulau Buru yang bekerja membuka lahan disana, tentu masih terlihat jelas, meski di usianya yang menginjak 70 tahun, gurat-gurat semangat dan tubuhnya yang masih kekar menunjukkan bahwa keseharian di Pulau Buru yang cukup keras membuatnya masih tetap sehat dan mampu beraktivitas seperti layaknya kaum muda. "Saya 70 tahun tapi masih mampu melakukan aktivitas berat. Semua ini saya dapat dari pengalaman dan kerja keras saya ketika di Pulau Buru," ungkap pria asli Surabaya itu.

Ketika diwawancarai, Ahmad Suroto secara panjang lebar membeberkan resep sehatnya. Ia menjelaskan bahwa perasaan bahagia dan hati yang selalu diliputi sukacita dapat membantu menjaga kesehatan tubuh. Selain itu dalam menjalani hidup harus dilandasi dengan semangat, serta selalu mengucap syukur kepada Tuhan. "Kalau untuk pola makan, cukup makan teratur sebanyak 3 kali sehari dan perbanyak minum air putih. Jangan lupa menyempatkan waktu olahraga setiap hari. Seperti berjalan kaki atau bersepeda seperti yang selalu saya lakukan setiap pagi," ujarnya.


Musisi yang Ditangkap tanpa Pengadilan

Bagaimana awal mula Ahmad Suroto dapat menjalani masa pengasingan di Pulau Buru? "Sebelum gestok meletus, saya dulu adalah seorang pemuda penggiat seni. Saya pemain band yang kerap dipanggil untuk manggung di banyak kegiatan," paparnya. Ketika itu band yang diusungnya kerap diundang tampil dalam festival kerakyatan, salah satunya diadakan oleh Organisasi Pemuda Rakyat, yang saat itu merupakan underbow Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Bila saya ditanya soal komunisme dan semacamnya, saya berkali-kali menjawab bahwa saya tidak tahu apa-apa soal itu! Waktu itu saya cuma pemain musik, sering diundang untuk tampil maupun menonton acara-acara kesenian. Salah satunya ya diadakan oleh Pemuda Rakyat, Lekra dan semacamnya. Ketika meletus Gestok, tiba-tiba saya dituduh terlibat dan tiba-tiba pula saya ditangkap dan dipenjarakan tanpa ada pengadilan," kenangnya.

Suatu siang beberapa orang mendatangi rumahnya dan menangkapnya. Ahmad Suroto yang masih kebingungan akhirnya dijebloskan ke dalam tahanan kantor polisi Hobiru, Surabaya, kemudian dipindah ke Koblen, Kalisosok, Nusakambangan hingga akhirnya sampai pada pengasingannya di Pulau Buru. "Saya diperiksa petugas dan ditanyai tentang keterlibatan saya pada kegiatan Komunis, Soekarnois dan semacamnya. Saya menjawab tidak, namun tak ada satupun yang percaya. Begitulah pada akhirnya saya dijebloskan dari penjara ke penjara," ujarnya.

Setelah berpetualang dari penjara ke penjara, ia dan ratusan tapol dibawa ke penjara Gligen di Nusakambangan. Rupanya perjalanan dari Jawa ke Nusakambangan adalah transit sebelum para tapol itu dibawa ke Pulau Buru. Sesampainya di Pulau Buru, ia ditempatkan di salah satu barak tapol. Disana terdapat 18 unit berisi 10 barak. Satu unitnya ditempati 500 orang tapol. "Waktu itu Buru masih berupa hutan belantara. Kami membuka lahan disana dan melakukan pekerjaan bercocok tanam. Disana babat hutan selama 3 bulan," ujarnya. Dijelaskannya selama 3 bulan itu para tapol disuplai bahan makanan oleh pemerintah pusat. Setelah bercocok tanam dan membuahkan hasil, supplai itu dihentikan dan para tapol menghidupi diri mereka sendiri dengan hasil panen.

"Jangan salah, tanah disana luar biasa subur. Hasil panen melimpah ruah hingga dapat menghidupi ribuan tapol dan para petugas disana. Mereka semua makan dari hasil panen," kenang pria 70 tahun itu. Ia juga menerangkan bahwa selama di Pulau Buru, para tapol juga sempat mengalami gesekan dengan beberapa penduduk lokal yang merasa terganggu karena kehadiran mereka dianggap akan mengancam hak-hak mereka sebagai penduduk lokal. "Beberapa penduduk yang marah sempat terlibat konflik dengan kami. Teman dekat saya sebanyak 4 orang mati dibunuh dengan tombak. Tapi tidak semua penduduk disana seperti itu. Banyak juga diantara mereka yang baik terhadap kami dan tidak mempermasalahkan kehadiran kami," ujarnya. Menyikapi peristiwa terbunuhnya 4 orang tapol oleh beberapa penduduk asli, petugas dari Peleton Pengawal Pattimura melakukan operasi militer namun tidak menemukan warga yang menjadi pelaku pembunuhan karena mereka bersembunyi dengan cara melarikan diri ke arah hutan belantara.

Ditanya mengenai kesulitan selama di Pulau Buru, ia mengatakan bahwa pengalamannya paling berat adalah ketika ia ditugaskan mengambil atau mengantar beras menuju desa Airmadidi, sebuah desa yang dihuni oleh komunitas suku Bugis. "Wah, kalau ditugaskan kesana itu susah. Medannya terjal, berpasir, berbatu dan cuaca sangat panas. Apalagi jaraknya sangat jauh," ungkapnya.

Sebagai musisi, masa pengasingannya di Pulau Buru tidak menghalanginya untuk tetap berkreasi. Disana ia dan kawan-kawannya membuat peralatan musik dari bahan kayu. Seperti membuat drum, bass dan gitar. Senar gitarnyapun diambil dari potongan kabel listrik yang diolah. Setelah pembuatan alat musik selesai, ia dan kawan-kawannya membentuk sebuah grup musik yang dinamakan 'Giripura Band'. Bersama grupnya itu ia kerap tampil menghibur seluruh petugas dan penghuni Pulau Buru. "Komandan petugas memberi tanggapan baik pada Giripura Band. Kamipun kerap diundang tampil dalam setiap acara yang mereka adakan, seperti hari kemerdekaan," kenangnya. Dalam Giripura band, Ahmad Suroto menjadi vokalis utama. Selain itu ia juga memegang bass dan kadangkala bergantian dengan kawannya bernama Kasdi untuk bermain drum. "Bila saya ingin bermain drum, maka Kasdi bermain bass. Begitupun sebaliknya. Tapi entah saya tidak tahu kabar Kasdi saat ini. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya," ujarnya.

Rupanya keahlian bernyanyi, bermain bass dan drum yang dimilikinya menurun pula ke anak-anaknya. Bakat drum diturunkan kepada anak pertamanya, Eka Kristanto yang terkenal sebagai drummer Sekaring Jagad, band kawakan Surabaya dan pernah pula menjadi drummer Krisyanto, ex vokalis Jamrud ketika tampil di Surabaya. Sedangkan bakat bermain bass diturunkan pada anak keduanya, Yusak yang dikenal sebagai pemain bass. Tidak ketinggalan, bakat bernyanyinya diturunkan pula kepada anak bungsunya, Maria, dimana ketika anak bungsunya itu berusia 8 tahun, ia telah mampu menguasai teknik vokal klasik yang cukup rumit. "Rupanya bakat Bapaknya menurun kepada anaknya," ujarnya sambil tertawa.

Rupanya pengalaman selama di Pulau Buru menjadi pengalaman tak terlupakan sepanjang hidupnya. Apakah ia merasa dendam? “Sama sekali tidak. Ajaran agama saya mengajarkan saya tentang cinta kasih. Apa yang saya alami di masa lalu dan masa kini adalah sebuah rencana Tuhan yang diberikan kepada saya. Saya ikhlas menerimanya,” pungkasnya.

*Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post, 30 Desember 2012 

Jumat, 04 Januari 2013

Komunitas FIlm Indie Ksatria Pena


Angkat Tema Kemanusiaan

Apa perbedaan kecenderungan film Indonesia dan film India? Jawabnya, bila melihat film India, aktornya jika bertemu pohon akan langsung berjoget dengan pasangannya. Jika film Indonesia, kecenderungannya yakni dari alur ceritanya. Diceritakan, ada sepasang kekasih yang selalu bertengkar, kemudian aktor perempuan menjadi kalut, menyeberang jalan hingga tertabrak mobil.  Akhir cerita dapat dipastikan, kedua pasangan itu rujuk di rumah sakit. Lelucon tentang perbedaan kecenderungan film India dan film Indonesia yang selalu monoton itulah yang melandasi Komunitas Film Ksatria Pena untuk membuat karya yang mengandung makna lebih dalam ketimbang melulu percintaan dan perselingkuhan.

“Sungguh, beberapa film Indonesia utamanya sinetron itu betul-betul memprihatinkan. Meskipun tidak semuanya buruk, namun contoh kasusnya lihat saja sinetron setiap sore di tv. Mereka seakan tidak memiliki tematik lain selain percintaan. Padahal, banyak tema yang bisa digali dan diangkat dalam film. Minimal, sebuah film dapat membuat penonton merasa tergugah,” ujar Dimas Aditya Prayudi Rachman, ketua Ksatria Pena diiringi anggukan teman-temannya. 

Apa itu Ksatria Pena? Bagaimana kiprah mereka dalam dunia perfilman? 

Ksatria Pena dibentuk pertama kali pada 10 November 2010. Pada tanggal itu Surabaya memang sedang sangat ramai memperingati hari Pahlawan. Salah satu instansi pemerintah bahkan membuat sayembara film pendek bertemakan kepahlawanan. Sayembara itu disebarkan melalui poster-poster yang ditempel di tembok maupun papan pengumuman kampus. Akhirnya, poster itu sampailah pada Dimas Aditya, salah seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di salah satu kampus negeri di Surabaya, yang juga memiliki latar belakang kemampuan dalam bidang film. Membaca sayembara itu ia langsung menghubungi Rizal Rakhmat, kakak kelasnya yang juga mumpuni dalam penguasaan tekhnik video art. Berturut-turut akhirnya diajak pula Robby Febbry, Azizah dan Usman Chaudy. Ketiganya juga merupakan mahasiswa jurusan sastra Indonesia. Ketika berembug, disepakatilah nama komunitas mereka, yakni Ksatria Pena, dan nama itu disodorkan kepada panitia festival. Ksatria merupakan kepanjangan dari Kebersamaan Sastra Indonesia, dimana mereka semua saat itu masih mahasiswa aktif jurusan Sastra Indonesia. Pena adalah media mereka dalam berekspresi, bahwa segala sesuatu yang mereka jalankan mulanya berawal dari guratan pena di atas kertas.

Ksatria Pena sebagai Komunitas Film Indie yang baru terbentuk di Surabaya, dalam sayembara itu tampil membawakan karya film pendeknya berjudul ‘Menjadi Pahlawan’. Diceritakan, seorang anak kecil sedang merasakan gegap gempita perayaan hari Pahlawan di Surabaya. Anak kecil itu mengetahui bahwa dirinya juga memiliki seorang kakek yang tewas dalam medan pertempuran 10 November 1945. Maka dari itu ia menghampiri neneknya dan bertanya, mengapa sang kakek tidak mendapat predikat pahlawan dan dimasukkan dalam buku sejarah? “Diberi gelar atau tidak, yang penting kakekmu pernah berjuang membela bangsa dengan ikhlas, tanpa pamrih. Ia merupakan pahlawan meskipun tanpa gelar. Juga, kakekmu adalah seorang pahlawan bagi keluarga besar kita. Tugasmu, adalah mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh kakekmu dengan cara belajar yang rajin demi kesehjahteraan bangsa,” ucap sang nenek yang diperankan oleh Azizah.

‘Menjadi Pahlawan’ sebagai karya film pendek pertama yang pertama kali mereka hasilkan rupanya mendapat respon dari masyarakat penikmat film dan dewan juri. Hasilnya, film mereka masuk dalam nominasi film terbaik dan mendapat juara kategori ide cerita terpuji. “Saat itu kami sangat bangga karena film itu merupakan karya kami yang pertama kali kami buat,” ujar Azizah. Alhasil, komunitas mereka semakin dikenal dan banyak pula yang mendaftar sebagai anggotanya. Tercatat pada 2010, berkat keberhasilan film itu mereka memiliki anggota aktif sebanyak 26 orang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pelajar Sma hingga para seniman Surabaya.

Tidak berhenti disitu, hingga kini Ksatria Pena masih aktif dalam berkarya. Tercatat, sudah 4 film yang mereka luncurkan, selain ‘Menjadi Pahlawan’, adapula film-film berjudul ‘Melawan Ajal’, ‘Yang Terampas dan yang Putus’, film pendek ‘From Invisible to Unstoppable’ yang bekerjasama dengan Yodangers, sebuah komunitas fans Yoda ‘Idol’, juga film berjudul ‘Chaos’ yang mereka garap bersama komunitas Cinematografi Universitas Airlangga. “Selain film-film pendek, kami juga menerima ratusan pesanan film seperti video art, video dokumentasi serta video klip band-band lokal Surabaya. Salah satu band lokal yang cukup populer di Jawa Timur yang pernah menjadi langganan kami adalah Sekaring Jagad, sebuah band asal Sidoarjo,” papar Ayu Prasetya.

Annura Wulan, sekretaris Ksatria Pena memaparkan bahwa tujuan dibentuknya Ksatria Pena adalah selain ingin mewarnai dunia perfilman, mereka juga ingin menunjukkan karya mereka yang mengandung kedalaman makna berikut pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan tentang sisi kemanusiaan menyangkut realitas sosial. “Kami juga tidak begitu saja menuruti selera pasar yang didominasi dengan kecenderungan untuk menampakkan seksualitas semata tanpa memperhatikan alur cerita serta parahnya, tidak ada pesan moral yang dapat diambil,” ujar perempuan 21 tahun itu.

Bagaimana kriteria film yang memadai menurut Ksatria Pena? “Film yang baik adalah film yang bercerita tentang kemanusiaan, realitas sosial menyangkut permasalahan sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang kerap tidak kita sadari menjadi hambatan dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujar Dimas Aditya. “Di Indonesia sendiri perkembangan film sudah terlihat mengalami kemajuan. Ada produser dan sutradara yang memiliki ide cemerlang tentang film yang berkualitas. Namun kita dapat lihat juga, sebagian pelaku film memilih menuruti selera pasar dan masih banyak pula produser yang belum mau mengeksplor kemampuannya untuk menghasilkan film bagus,” tambah Rizal Rakhmat, wakil Ksatria Pena.


Dari Riri Riza hingga Usulan Kepada Pemerintah
Plaaaak!! Tamparan mantan istrinya itu hinggap di pipi Chairil Anwar, sang penyair legendaris Indonesia. Sesaat kemudian Hapsah, mantan istrinya itu menutup pintu dengan keras. Tinggalah Chairil Anwar seorang diri. Niatnya minta rujuk dan kerinduan terhadap putri semata wayangnya pupus sudah. Iapun dengan tegar menaruh sekuntum bunga di depan pintu rumah Hapsah, berpesan bahwa ia akan pergi keliling dunia lalu pergi meninggalkannya. Sesampainya di rumah, penyair itu menulis puisi terakhirnya yang berjudul ‘Cemara Menderai Sampai Jauh’ yang memuat isyarat kematiannya. Benar saja, keesokan paginya ia ditemukan tewas di kamar sebuah perusahaan percetakan di Jakarta karena menderita Bronchitis

Sisi lain kehidupan Chairil Anwar itulah yang ditampilkan dalam film pendek milik Ksatria Pena yang berjudul ‘Yang Terampas dan yang Putus’. Dalam film itu diceritakan Chairil Anwar sebagai pribadi yang sangat manusiawi. Chairil Anwar digambarkan sebagai pecinta yang romantis sekaligus idealis dan keras kepala, namun berbanding lurus dengan ketajaman puisi serta kecerdasannya dalam memaknai permasalahan sosial. Film pendek unik itu pernah diputar pula di Makassar dan dihadiri seniman-seniman serta penggiat film terkemuka, termasuk Riri Riza. “Film itu dibuat pada tahun 2010. Produsernya Dimas Aditya, Sutradaranya Gregorius Lennon, sedangkan aktor-aktornya adalah Imam Mudofar, Azizah, Raras, Annura, Nanda Hadi, Arvin Ranu, Lintang, Ayu, Putri serta Doni,” ucap Raras Hafidha yang dalam film itu berperan sebagai Hapsah.

Tak dinyana, setelah film itu diputar dalam parade film indie di Jogjakarta, Riri Riza menghampiri salah satu aktor, yakni Imam Mudofar, sang pemeran Chairil Anwar. “Saat itu ia berkata bahwa ia suka dengan ide ceritanya. Ia kemudian berkomentar panjang-lebar,” ungkapnya. Dalam kesempatan itu Riri Riza mengungkapkan ketertarikannya pada film itu dan juga mengajarkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat film. “Kami diberi pengetahuan tentang detail film serta pengolahan setting, juga masalah artistik film oleh sutradara terkenal itu,” sahut Robby Febry yang dalam film itu berperan sebagai pengatur laku.

Tentunya mendapat respon baik dari Riri Riza, mereka semakin bersemangat. Hingga tahun 2012 ini mereka aktif mengadakan kegiatan diskusi maupun proses pembuatan maupun pemutaran film-film pendek. Saat inipun anggota mereka telah mencapai sekitar 30 orang. “Kami aktif melakukan pemutaran film pendek di berbagai wilayah dan gedung kesenian di Surabaya. Tapi sayangnya perhatian pemerintah terhadap eksistensi komunitas penggiat film indie, utamanya di Surabaya masih sangat kurang,” pungkas Dimas Aditya.

Ksatria Pena pun berharap, pemerintah dan semua pihak mendukung eksistensi penggiat film indie di Indonesia, utamanya di Surabaya agar mereka dapat terus berkarya dan meramaikan jagad perfilman Indonesia.


Quote



Dimas Aditya Prayudi Rahman, ketua Ksatria Pena :
“Jangan melulu mengumbar masalah percintaan, perselingkuhan apalagi sekedar menampilkan sisi seksualitas semata. Bangsa ini punya sisi lain yang perlu diangkat ke permukaan. Angkatlah sisi kemanusiaan serta liriklah tematik-tematik sosial yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, yang mampu menggugah penikmat film untuk peduli terhadap situasi dan kondisi masyarakat, juga bangsa ini”


 



Ayu Prasetya, bendahara Ksatria Pena :
“Ksatria Pena adalah bukti semangat beberapa anak muda yang peduli, mau melangkah maju dan selalu mencoba untuk memberikan kontribusi positif dalam dunia perfilman Indonesia”



 


Robby Febbry Sugiri, sie artistik Ksatria Pena :
“Ksatria Pena adalah curahan ide dari orang-orang yang mempunyai imajinasi dan mampu menangkap persoalan-persoalan yang dapat membuat seseorang merenung memaknai pesan yang hadir dalam setiap karya kami dan akhirnya dapat tergugah untuk peduli terhadap realitas di sekitarnya”


 


 Rizal Rakhmat, wakil ketua Ksatria Pena :
“Ayo bangkit perfilman Indonesia! Kami disini sudah memulai untuk melangkah, maka mari kita bersama-sama melangkah demi kemajuan perfilman Indonesia. Wujudkan semangat berkesenian dan semangat kepedulian terhadap sesama maupun bangsa dan negara!”





Annura Wulan Darini Subandriyo, sekretaris Ksatria Pena :
“Ksatria Pena adalah salah satu dari sekian banyak komunitas yang peduli terhadap perfilman Indonesia. Kami adalah sekumpulan orang yang berjuang bersama dalam sebuah wadah positif yang mampu untuk terus memompa semangat kami dalam berkarya demi eksistensi kami dan kemajuan perfilman Indonesia”






*Tulisan ini pernah dimuat dalam Surabaya Post edisi 30 Desember 2012

PAGUYUBAN KARAWITAN SASTRA JENDRA SURABAYA





Terilhami dari Ajaran Sastra Jendra

“Nguri-uri ing Budoyo, Gawe Mulyaning Negoro. Nguri-uri ing Susastri, Tumrap Lestari ning Bumi (Mempelajari dan menekuni kebudayaan, demi kemuliaan bangsa. Menekuni dan mempelajari makna sastra, agar tetap lestari dan terjaga,”. Itulah petikan lirik lagu Jawa yang dibawakan oleh para sinden dari Paguyuban Karawitan Sastra Jendra, Surabaya. Sesuai dengan pepatah para cendekiawan: membangun sebuah bangsa harus diawali dengan membangun dan menjaga budayanya.

Semangat menjaga budaya Jawa sebagai produk asli Indonesia begitu tertanam di hati anggota Paguyuban Karawitan Sastra Jendra (Pakar Sajen) Surabaya. Sesekali alunan merdu musik Jawa terdengar nikmat di telinga, mengingatkan kita pada kejayaan bangsa Indonesia masa lalu yang begitu identik dengan kerukunan, rasa persaudaraan, keakraban dan sebagainya.

Paguyuban Karawitan Sastra Jendra adalah sebuah komunitas penggiat kesenian Jawa yang beralamatkan di Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya, tepatnya di dalam kompleks Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Komunitas itu eksis sejak tahun 2007, dan telah menghasilkan banyak karya juga malang melintang di jagad pementasan budaya Jawa di Jawa Timur.

Bagaimana sejarah terbentuknya? Joko Susilo, mantan ketua Pakar Sajen yang kini menjadi pembina menjelaskan bahwa awal terbentuknya Pakar Sajen didasarkan atas kegelisahan mereka karena melihat adanya perangkat gamelan berdebu dan tidak terawat, teronggok di sebuah ruang di lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya, Unair. “Kebetulan para pendiri Pakar Sajen yang juga aktif di bidang sastra Jawa prihatin melihat kondisi gamelan yang tidak terawat itu. Makanya kami berinisiatif untuk merawatnya sekaligus belajar mendalami musik jawa,” ujar Bapak anak satu itu.

Setelah melakukan pembersihan dan perawatan gamelan, para pendiri Pakar Sajen yang juga tercatat sebagai mahasiswa Unair berinisiatif untuk membuat komunitas pecinta budaya Jawa. Maka setelah dilakukan serangkaian pertemuan, terbentuklah Paguyuban Karawitan Sastra Jendra (Pakar Sajen) pada tanggal 10 November 2007 atau 27 Syawal 1940 dalam penanggalan Jawa. “Waktu itu anggotanya baru beberapa orang saja,” ujar Sigit Andriyanto, ketua Pakar Sajen.

Mengapa dinamakan Pakar Sajen? Mega Dian Pujasera, anggota Pakar Sajen mengatakan bahwa komunitasnya terilhami oleh ajaran Sastra Jendra. Sastra Jendra dalam pewayangan adalah sebuah ajaran luhur yang diajarkan oleh seorang Resi bernama Wisrawa dalam kisah Ramayana. Di dalam ajaran tersebut terdapat makna yang begitu dalam. “Seseorang yang dapat menyadari dan menaati makna yang terkandung di dalam ajaran Sastra Jendra akan dapat mengenal watak atau nafsu-nafsu yang berasal dari diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Sifat yang bersifat buruk dilenyapkan dan yang bersifat baik dipelihara untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar perempuan asli Probolinggo itu.

Sastra Jendra dalam pewayangan diyakini sebagai sebuah ajaran yang dipakai seseorang sebagai kunci untuk memahami tubuh manusia yang di dalamnya terdapat sebuah jagad indraloka, berada di dalam rongga dada, yaitu pintu gerbang atau kunci rasa jati, dalam hal ini bernilai sama dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib. Maka dari itu ilmu Sastra Jendra disebut juga sebagai sastra utama, puncak dari segala macam ilmu. “Nama ajarannya secara lengkap disebut sebagai Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kami memakai nama Sastra Jendra agar kami dapat menyelami ajaran kebaikannya sekaligus dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Indiar Manggara, dewan Pembina sekaligus salah satu pendiri Pakar Sajen.

Pada awal berdirinya, Pakar Sajen beranggotakan para mahasiswa penggiat sastra, utamanya sastra Jawa yang sebagian besar tidak memiliki kemampuan bermusik. Maka dari itu awalnya mereka meminta bantuan komunitas sejenis yang terdapat di Universitas Airlangga, yakni UKTK (Unit Kegiatan Tari dan Karawitan) untuk mengajarkan mereka dasar-dasar bermain musik Jawa. Selain itu mereka aktif mengadakan diskusi tentang budaya Jawa sebagai sarana untuk meningkatkan eksistensinya. “Saat itu kami diajari memainkan musik Jawa oleh teman-teman UKTK. Kemudian dibimbing pula oleh Broto, guru karawitan SMKN 9 Surabaya,” ujar Aulia Nugroho, salah satu anggota Pakar Sajen.

Perlahan tapi pasti Pakar Sajen mulai menunjukkan perkembangannya. Dari tahun ke tahun komunitas itu telah banyak belajar dan menguasai dengan baik tekhnik bermain musik Jawa. Bahkan, kini mereka dapat mengembangkannya dengan cara memasukkan unsur-unsur musik modern. Selain itu mereka aktif dalam mengadakan diskusi serta menulis geguritan (puisi Jawa) maupun prosa Jawa. Menariknya, mereka juga mengadakan seni pertunjukan lawak berbahasa Jawa yang mereka sebut ‘Drama Tubruk’. “Kami menyebutnya drama tubruk karena pementasan kami itu disebut Ludruk ya bukan Ludruk, disebut Ketoprak juga bukan ketoprak, tapi drama kami ini berbahasa Jawa. Full semua adegan dalam pementasan kami adalah lawak,” ujar Endik Nur Cahyo, koordinator seni pertunjukan Pakar Sajen.

Dalam perjalanannya, Pakar Sajen telah mulai aktif mengisi acara-acara baik di dalam maupun di luar Unair. Komunitas itu menjadi langganan dalam acara Dies Natalies maupun berbagai acara hajatan. ‘Drama Tubruk’ yang mereka gagas juga lambat laun mendapat respon luas dari masyarakat. Awal mula pementasan ‘Drama Tubruk’ diselenggarakan pada tahun 2008 oleh aktor-aktor teater Gapus, Surabaya, yang juga menjadi anggota Pakar Sajen. Dalam perkembangannya, Drama Tubruk Pakar Sajen banyak diminta tampil untuk mengisi berbagai acara di Surabaya hingga mendapat kesempatan tampil bersama komunitas Ludruk terkemuka Jawa Timur, yakni Irama Budaya. “Waktu itu tahun 2009. Kesempatan tampil bersama para maestro ludruk Irama Budaya merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami,” ujar Azizah, anggota Pakar Sajen.

Hingga kini Pakar Sajen tercatat memiliki anggota sebanyak 40 orang, yang mengejutkan, salah satu anggotanya adalah pria bule warga negara Meksiko bernama Miguel Angel Mesquivias. Ia mengaku tertarik mempelajari budaya Jawa. “Budaya Jawa itu menyenangkan dan memiliki makna yang dalam,” ujarnya.  Selama ini pria yang fasih berbahasa Indonesia itu aktif mendalami musik gamelan dan sedang belajar bahasa Jawa.

Dalam setiap minggu mereka melakukan latihan rutin setiap hari Senin maupun Rabu malam. “Bila ada pentas besar, kami menambah jadwal latihan pada hari Jumat. Jadi seminggu tiga kali,” ujar Raras Hafidha Sari, anggota Pakar Sajen. Selain itu, mereka aktif menggalakkan dan melestarikan sastra Jawa dan melakukan upacara ruwat gamelan setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa.


Minat Masyarakat Terhadap Budaya Jawa

Bagaimana anggota Pakar Sajen menyikapi perkembangan Budaya Jawa yang semakin hari terkikis oleh masuknya budaya asing? Tentunya menarik untuk disimak, mengingat anggota Pakar Sajen mayoritas dihuni oleh kaum muda yang memiliki kepedulian terhadap budaya Jawa.

Menurut Arief Rahman, budaya Jawa sebagai cermin budaya bangsa harus terus dipelihara sebab di dalam budaya Jawa terdapat falsafah hidup yang cukup bagus untuk diterapkan dalam kehidupan, demi menjaga keutuhan bangsa. “Budaya Jawa sekarang mengalami masa dekadensi. Tentunya hal ini perlu disadari bersama agar budaya Jawa tidak menghilang ditelan arus jaman,” ujarnya.

Minat generasi muda terhadap musik Jawa memang sangat kurang. Menurut Andriyanto Sigit, hal itu disebabkan oleh masuknya musik-musik asing ke Indonesia hingga mengikis eksistensi musik Jawa. “Tugas Pakar Sajen adalah menjaga budaya Jawa yang semakin tersisih. Alhamdullilah hingga kini kami mendapat dukungan dari para pemerhati budaya, akademisi dan masyarakat yang masih peduli terhadap budaya Jawa. Usaha kami ini setidaknya membuahkan hasil. Anggota kami dari tahun ke tahun semakin bertambah,” ujar ketua Pakar Sajen itu.

Bagaimana kiat Pakar Sajen dalam menjaga Budaya Jawa? Menurut Mega Dian, Pakar Sajen dalam hal bermusik kini telah mengembangkan kreasi untuk memadukan antara tradisi dan modernitas dalam aransemen musik yang mereka mainkan. “Kami berusaha untuk membuat gamelan dan musik Jawa bisa diterima oleh masyarakat dengan cara memasukkan kedua unsur, yakni tradisi dan modern sehingga bisa akrab di telinga kaum muda. Kami juga mengolah instrument lagu-lagu Jawa dengan mempercepat tempo lagu atau membuatnya lebih ceria,” ujarnya.




QUOTE




Arief Rahman 
“Budaya Jawa mengalami dekadensi. Pertunjukan selalu didominasi oleh penonton yang berusia lanjut. Sementara generasi muda memilih hal lain, seperti budaya-budaya asing yang diantaranya tidak bermoral. Maka kami, Pakar Sajen berusaha menanamkan budaya Jawa pada masyarakat”



 

 Mega Dian Pujasera
“Gending-gending Jawa sebenarnya banyak mengandung ajakan untuk menjaga kedamaian di bumi kalau saja kita mau mempelajari dan mengerti maksud dari gending-gending tersebut”



 


Miguel Angel Mesquivias
“Budaya Jawa sangat dalam dan kaya makna. Baik tari, musik, seni pertunjukan maupun sastra banyak memiliki makna tersembunyi. Budaya Jawa adalah sarana terbaik untuk mempersatukan masyarakat”





 
Sigit Andriyanto
“Pakar Sajen adalah salah satu bentuk dari upaya kami untuk menjaga dan memelihara kebudayaan Jawa di tengah-tengah masyarakat. Semoga budaya Jawa tetap lestari”





Joko Susilo
“Sastra Jendra mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Karena itu Sastra Jendra disebut sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan mencapai kesempurnaan hidup”




* Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post edisi 23 Desember 2012