Cari Blog Ini

Jumat, 15 Februari 2013

SVC SMAN 6 SURABAYA



 BIODATA

Nama ekskul   : SVC (Sixers Voice Choir)
Jenis ekskul     : Paduan Suara
Sekolah           : SMA 6 Surabaya
Berdiri Sejak   : 2002
Pembina          : Ika Mustikawati
Ketua              : I Komang Dewi

Pengajar :
  1. Bimo Wicaksono, Artistik, Make up
  2. Prita Kartika, Vokal, Koreografi
  3. Bayu Werdianto, Pianis, Arranger
  4. Christian Aldo Simanjutak, Classic Voice
  5. Annas, Vokal

Prestasi :

2005 :
-           Juara 1 dan Juara Favorit Female Choir
2010 :
-          Juara 2 Surabaya Choir Competition
-          Juara 1 Deteksi Pop Group
-          Medali Emas Malaysia Choral Eisteddfod (MCE)
2011 :
-          Juara 1 Deteksi Pop Group
-          Juara 1 Pekan Seni Pelajar Surabaya
-          Juara 2 Pekan Seni Pelajar Jawa Timur
-          Juara 2 Surabaya Choir Competition
2012 :
-          Juara 2 Lomba Paduan Suara Universitas Airlangga
-          Medali Emas Xinghai Prize, Guang Zhou Open Competition 





SVC, Ekskul Paduan Suara Kelas Dunia yang Sempat Dipandang Sebelah Mata

Alunan lagu Bycycle Race ciptaan Queen menggema dengan merdunya. Paduan suara itu membawakannya dengan sebuah komposisi nada yang menghentak penuh semangat. Setiap individu memiliki porsinya masing-masing. Nada vokal yang dipecah menjadi beberapa bagian membentuk harmoni yang memanjakan telinga.

Luar biasa! Itulah kata yang pantas untuk diberikan pada SVC (Sixers Voice Choir), kelompok ekstra kurikuler SMA 6 Surabaya. Total tiga buah lagu yang pernah membawa mereka meraih gold medal pada kejuaraan internasional di China diperdengarkan di hadapan Surabaya Post.

SVC hingga saat ini telah meraih segudang prestasi dari tingkat lokal, nasional hingga internasional. Namun siapa sangka jika ekstra kurikuler itu pernah mengalami masa-masa sulit hingga nyaris dibubarkan? Cerita tentang lika-liku eksistensi mereka tentu mrnarik untuk disimak.

Sixers Voice Choir didirikan pada tahun 2002 oleh sekumpulan pelajar yang memiliki hobi bernyanyi. "Waktu awal didirikan anggotanya hanya 5 orang dan tanpa pelatih. Jadi kakak-kakak kelas kami waktu itu berlatih sendiri," ujar Nawalita, salah satu anggota SVC. Saat itu, kenang mereka adalah masa-masa sulit bagi SVC, mengingat pada awal berdirinya mereka nyaris tanpa kegiatan selain latihan rutin, sekalipun pernah, hanya satu-dua kali mereka menyelenggarakan obade.

Pada tahun 2003 hingga 2004, SVC bahkan mengalami kevakuman. Hal itu disebabkan karena peminat ekstra kurikuler tersebut sangat sedikit  hingga pada akhirnya tahun 2004 atas inisiatif beberapa siswa SMA 6 yang kebanyakan perempuan, mereka menggiatkan kembali kegiatan ekstra kurikuler itu.

"Tahun 2004, karena peminat sangat sedikit, sekolah sempat hendak menutup ekstra kurikuler SVC, namun karena perjuangan kakak-kakak kami waktu itu, akhirnya sekolah mau mempertimbangkan, dengan syarat SVC harus memiliki prestasi," ujar Made Kartika, anggota SVC. Dari ultimatum itulah menurut kisah para anggota SVC yang dibeberkan pada Surabaya Post membuat para anggota di tahun 2004 berpikir dan berjuang keras demi meraih prestasi.

Secara kebetulan pada tahun 2005 sekolah SMA 6 mendapat info lomba Female Choir, yakni sebuah lomba menyanyi grup perempuan skala lokal di tingkat pelajar. Tanpa panjang lebar SVC dengan rasa percaya diri tinggi mengikutsertakan kelompoknya pada lomba itu. "Nah kebetulan waktu itu anggotanya ada 20 orang dan semuanya perempuan. Jadi ya mereka ikut semua dalam lomba Female Choir itu," ujar Ika Mustikawati, pembina SVC yang juga merangkap sebagai guru biologi SMA 6 Surabaya.

Female Choir, lomba pertama yang diikuti oleh SVC berhasil dengan memuaskan. Mereka sukses meraih juara 1 sekaligus juara favorit pada ajang perlombaan itu. Prestasi pertama mereka itu direspon pihak sekolah dengan cukup baik. "Intinya sekolah sangat gembira dengan hasil prestisius yang diraih oleh SVC. Terbukti, SVC yang awalnya dipandang sebelah mata pada akhirnya bisa meraih prestasi," ujar Yudhistira Eka Putra, anggota SVC.

Hasil memuaskan itu tentu melecut semangat siswa yang tergabung dalam ekstra kurikuler paduan suara SVC di SMA 6 Surabaya. Secara perlahan tapi pasti peminat ekstra kurikuler itu semakin bertambah. Pihak sekolah dan siswa akhirnya mendatangkan beberapa pelatih berkualitas. Salah satu pelatih yang pertama kali bergabung sebagai tim pengajar adalah Prita Kartika. Pengajar pertama itu mengajarkan teknik vokal dan koreografi pada anak didiknya di SVC. Perkembangannya hingga kini SVC telah memiliki 5 orang pengajar.

Pengalaman juara pada 2005 rupanya memberi semangat luar biasa pada tim SVC. Adanya pengajar paduan suara yang juga ulet membina dan mengasah kemampuan mereka menjadikan SVC matang di dunia paduan suara. Mereka melakukan latihan secara intensiv dan mengikuti lomba-lomba. Total, pada 2010, mereka mengikuti 3 lomba paduan suara, diantaranya adalah ‘Surabaya Choir Competition’, menjadi juara 2, ‘Deteksi Pop Group’ mendapat peringkat 1, hingga mereka dikirim sebagai wakil Indonesia untuk mengikuti lomba paduan suara kategori mix youth di Malaysia dengan tajuk MCE (Malaysia Choral Eisteddfod), tingkat internasional dan berhasil membawa pulang gold medal!

“Meraih gold medal dalam kejuaraan paduan suara internasional tentu semakin menambah gairah SVC untuk terus berprestasi. Sepanjang tahun 2010 hingga 2012, kami tidak pernah terlempar dari 3 besar, kalau boleh dibilang ya 2 besar, sebab kami selalu menjadi juara 1, kadang-kadang juara 2. Di bawah 2 kami tidak pernah,” ungkap Rizki Ramandityo, anggota SVC.

Mempertahankan gold medal yang diraih pada tahun 2010 di Malaysia tentu bukan urusan mudah. Pada 2012 mereka kembali mewakili Indonesia di kejuaraan paduan suara kategori mix youth di China, bertajuk ‘Xinghai Prize Guang Zhou Open Competition 2012’.

Berkat usaha keras dan kekompakan, mereka berhasil mengharumkan nama Indonesia di mata dunia dengan kembali meraih sekaligus mempertahankan gold medal yang mereka dapatkan di China dua tahun sebelumnya.


Dari Gubernur ke Presiden, Dari Malaysia ke China

Setelah aktif mengoleksi piala dari kejuaraan lokal hingga nasional, pergi mengikuti kejuaraan internasional dengan beban nama bangsa di pundak adalah sesuatu yang dibawa oleh para siswa yang tergabung dalam ekstra kurikuler paduan suara SVC dari Indonesia ke Malaysia hingga China.

“Semua pihak all out membantu upaya kami mewakili Indonesia dalam kejuaraan internasional. Dari pengajar ekstra, kami para siswa, orangtua, guru, gubernur, pemerintah hingga presiden,” ujar Alifia Safira, anggota SVC. Menjelang keberangkatan, orangtua dan siswa bahu-membahu menjadi panitia keberangkatan.

Para guru memberi support, hingga Gubernur Jatim, Soekarwo, menyempatkan datang dan memberi semangat. “Kata Pak Gubernur, pemerintah akan mendukung penuh usaha kami. Begitupula pesan Pak Presiden ketika kami diundang beliau untuk tampil di gedung Grahadi, Surabaya,” ucap Rahel Eunike, anggota SVC

Sesampainya di Malaysia dalam rangka kejuaraan internasional, mereka langsung dihadapkan pada ratusan kontestan dari berbagai belahan dunia. “Begitupula yang terjadi di China. Kami sempat deg-degan karena mereka keren-keren. Tapi yang membuat kami sedikit lega, mereka menganggap kami paling heboh dan keren.

Mengapa? Dari kostum dan penampilan kami, sangat unik dan benar-benar meng-Indonesia,” terang Erisa Nur, anggota SVC. Dari kejuaraan di Malaysia dan China, kedua-duanya mendapat gold medal. Nama Indonesiapun dibuat harum karenanya. Dewan Juri yang berasal dari beberapa negara menyebutkan, selain tekhnik vokal yang baik, penampilan mereka juga unik, kreatif, dan menonjolkan segi kebudayaan Indonesia.

“Itulah kelebihan SVC yang tidak dimiliki paduan suara lain. Setiap kali tampil kami selalu mengenakan pakaian daerah, lagu daerah dan menonjolkan koreografi tarian daerah. Jadi ada sisi kebudayaan Indonesia yang kami tampilkan,” ujar Bagas Mardiansyah, anggota SVC.

Bagaimana kiat-kiat SVC hingga mencapai kesuksesannya? Menurut Bayu Werdianto, salah satu pengajar, mengatakan bahwa sistem latihan mereka sama seperti paduan suara lain, yakni diawali dengan pemanasan fisik, pemanasan vokal, vocalyzing, latihan notasi, membentuk dinamika antar bagian-bagian, kemudian masuk ke dalam lagu dan penataan koreografi. “Yang membedakan adalah cara kami dalam menjalin keakraban antar anggota. Di dalam SVC tidak ada senioritas-yunioritas, yang ada adalah keluarga. Sesi latihan kamipun dilakukan dengan have fun dan penuh kehangatan,” pungkasnya.


QUOTE


 


Made Kartika, anggota SVC
“SVC adalah keluarga kedua bagi kami. Karena kekeluargaan itu kami bisa menyatu dan menyanyi dengan hati. Kami punya kemauan dan tekad yang besar”





 Rahel Eunike Priskila, anggota SVC
“Salah satu alasan saya masuk ke SMA 6 adalah SVC. Di dalam SVC kami diajarkan untuk professional di semua kegiatan dan dalam kondisi apapun”









Rizki Ramadityo, anggota SVC
“SVC adalah keluarga yang nyaman. Selain melatih ketrampilan bernyanyi, saya menjadi lebih percaya diri dan belajar berbagai segi artistik”




 


Erisa Nur Agmelina, anggota SVC
“SVC berbeda dengan ekstra kurikuler lain. Belajar musik secara santai dan serius dan penuh rasa kekeluargaan. Selain itu bergabung dengan SVC, kami dapat meraih banyak prestasi, bahkan membawa nama harum Indonesia”



 

Ika Mustikawati, Pembina SVC
“Paduan Suara bagi saya adalah sebagai sarana menyalurkan bakat dan minat siswa sambil belajar berorganisasi, bersosialisasi dan upaya menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, menjaga emosi dan menjalin kebersamaan dan masih banyak aspek positif yang bisa diambil”

 


Bagus Werdiyanto, pengajar SVC
“Suasana SVC itu selalu bikin kangen. Satu dengan yang lain akrab bak keluarga. Paduan suara yang baik adalah jika setiap orang di dalamnya merasa nyaman seperti keluarga dan bisa saling menghormati. Tidak cukup bersuara bagus saja, namun juga harus punya attitude”

 


 Yudhistira Eka Putra, anggota SVC
“Dalam paduan suara, selain dibutuhkan kekompakan dalam suara, setiap anggotanya harus satu hati, satu tekad dan satu tujuan untuk meraih prestasi. Seperti yang ada dalam SVC ini”




# Tulisan ini pernah dipublikasikan di Surabaya Post, 03 Februari 2013

Komunitas Lion's Club Kresna Surabaya





Kepedulian Sosial ala Lion’s Club Surabaya Kresna

Di dunia ini telah banyak didirikan organisasi-organisasi sosial yang aktif melakukan kegiatan demi misi kemanusiaan. Mengingat manusia adalah mahluk sosial, maka sudah sepantasnya untuk bahu-membahu, sesuai dengan kenyataan bahwa manusia tidak akan bisa hidup seorang diri tanpa bantuan dari orang lain.

Lion’s Club International (LCI) adalah salah satu organisasi sosial ternama yang kiprahnya dalam misi sosial, utamanya pengentasan masalah-masalah kemanusiaan. Organisasi yang memiliki 46.000 perwakilan di seluruh dunia dan member sebanyak 1,35 milyar juta jiwa itu memiliki simbol singa (lion) dalam logonya yang bermakna kekuatan dan keberanian.

Di Indonesia sendiri LCI memiliki perwakilan yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Di Jawa Timur saja tercatat ada 32 Lion’s Club atau Komunitas Lion, salah satunya terdapat di Surabaya, yang akrab dengan nama Lion’s Club Surabaya Kresna. Seperti halnya LCI, Lion’s Club Surabaya Kresna juga aktif bergerak dalam kegiatan sosial.

Panjang lebar Lion’s Club Kresna menceritakan kepada Surabaya Post ketika ditemui dalam sebuah acara gathering yang mereka adakan di sebuah rumah makan. Mereka menuturkan sejarah serta kegiatan-kegiatan yang telah mereka adakan, berikut manfaatnya. President Lion’s Club Surabaya Kresna, Silvia Zulaeka mengatakan bahwa komunitas itu berdiri sejak 17 Oktober 2012. “Hingga sekarang telah puluhan kegiatan sosial kami adakan di Surabaya,” ujarnya.

Lion’s Club Surabaya Kresna pada awalnya didirikan berkat prakarsa sejumlah orang dengan kesamaan visi, dimana mereka ingin melakukan sesuatu untuk lingkungan masyarakat. “Awalnya kami adalah individu yang berdiri sendiri, kemudian kami memutuskan untuk berkumpul bersama dan membentuk suatu komunitas sosial,” ungkap Kustiyanto, sekretaris Lion’s Club.

Setelah membuat komunitas sosial, maka kegiatan pertama yang mereka adakan adalah memberi bantuan kepada Yayasan Penyandang Anak Buta (YPAB). Tak dinyana, kegiatan mereka itu mendapat respon positif dari salah satu koordinator dari YPAB, bahkan beberapa diantara mereka ada yang bergabung. Alhasil,dari kegiatan itu Lion’s Club Surabaya Kresna mendapat tambahan member dari orang-orang yang tertarik untuk bergabung bersama mereka dalam misi sosial.

“Member kami terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari pengusaha, pegawai asuransi, kolektor batik, eksekutif muda, wanita karier hingga seniman,” ujar Sadworo, bendahara Lion’s Club Surabaya Kresna. Pada Oktober 2012, member yang terkumpul akhirnya sepakat untuk bergabung dengan organisasi LCI dan memberi nama komunitas mereka ‘Lion’s Club Surabaya Kresna’. “Kami bergabung dengan LCI karena organisasi itu senada dengan visi dan misi kami. Selain itu karena LCI adalah organisasi besar, maka akan memudahkan kami untuk bekerja bersama-sama dengan kawan-kawan Lion’s Club lainnya, dan jika pekerjaan dilakukan bersama akan lebih mudah dan terlihat maksimal,” tutur Daniel Lukas Rorong, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna.

Bergabung dalam naungan LCI membuat Lion’s Club Surabaya Kresna semakin terorganisir, berbadan hukum dan memiliki AD/ART. Dalam hal ini merekapun memiliki fokus kerja untuk mengentas segala permasalahan kemanusiaan yang meliputi: kesehatan mata, kesehatan telinga, pemberian kaki palsu pada orang cacat, peduli lingkungan, peduli anak dan remaja, peduli pendidikan serta pengentasan kemiskinan dan gizi buruk.

Lion’s Club Surabaya Kresna dalam perkembangannya memiliki banyak kegiatan sosial, diantaranya baksos (bakti sosial), kepedulian terhadap sejarah dan kebudayaan serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. “Kegiatan kami, baksos misalnya, meliputi pemeriksaan kesehatan (medical check-up, khitanan massal, donor darah, screening mata katarak, pengobatan umum, akupunktur, pembagian sembako, pembagian kacamata gratis dan masih banyak lagi,” ujar Mita, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna.

Sebagai usaha pemeliharaan lingkungan hidup, Lion’s Club Surabaya Kresna aktif dalam melakukan kegiatan pembinaan masyarakat. Salah satu programnya adalah ‘Kampung Hijau Organik’. Program itu telah dijalankan sejak 25 Januari 2013 lalu. “Awal program kami untuk lingkungan hidup adalah memberikan pelatihan dan kesadaran lingkungan bagi para warga. Sekarang kegiatannya sudah berjalan dan 9 bulan ke depan, praktek pelatihan penanaman tanaman organik yang telah kami berikan pada masyarakat akan terlihat hasilnya. Nanti kami bersama masyarakat akan melakukan panen bersama-sama,” tutur Firtian Judiswandarta, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna.

Selain sosial dan pemeliharaan lingkungan hidup, Lion’s Club Surabaya Kresna memiliki kepedulian tersendiri, yakni pada bidang sejarah dan kebudayaan Indonesia. “Inilah yang membedakan komunitas kami dengan komunitas sosial lainnya. Kami punya misi juga untuk memelihara dan melestarikan sejarah dan kebudayaan Indonesia,” ungkap Achox.F.Rizaal, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna.

Kecintaan Lion’s Club Surabaya Kresna terhadap seni dan budaya diwujudkan dalam acara-acara sosial seperti, salah satunya adalah pemberian pelatihan membatik terhadap warga masyarakat, selain untuk menanamkan kecintaan masyarakat terhadap seni budaya, juga manfaatnya adalah mengembangkan kemampuan masyarakat dalam bidang seni. “Baru-baru ini kami memberi membatik di kawasan kremil Surabaya. Kawasan itu kan terkenal dengan bisnis prostitusinya. Tujuan kami memberi pelatihan batik adalah agar para PSK memiliki alternatif lain dalam pekerjaan. Paling tidak, mereka sudah memiliki ketrampilan,” ujar Diana Wahyuningtyas, anggota Lions Club Surabaya Kresna.

Ditanya mengenai pengalaman unik, Lion’s Club Surabaya Kresna mengatakan bahwa mereka kerap mengalami suka duka saat melakukan kegiatan di lapangan. “Salah satunya adalah merubah mindset masyarakat. Seperti khitanan gratis yang kami adakan, respon masyarakat kadangkala tak sesuai harapan. Beberapa dari mereka memiliki pandangan bahwa khitanan haruslah diadakan dengan pesta dan mendirikan terop. Jadi untuk pelaksanaan khitan gratis kadangkala terbentur mindset itu,” tutur Silvia Zulaika.

“Adapula pengalaman menarik, ada beberapa anggota yang latar belakangnya adalah pengusaha. Saat terjun ke lapangan, otomatis mereka menghadapi lingkungan yang serba berbeda. Terjun ke lingkungan yang kumuh, penuh sampah, bahkan meninjau toilet warga yang tidak terawat. Namun karena keinginan untuk berbakti pada masyarakat, mau tidak mau mereka harus rela melakukannya,” ujar Mita sambil tertawa.

Sebagai Organisasi sosial, Lion’s Club Surabaya Kresna mengatakan bahwa mereka akan fokus pada kegiatan-kegiatan sosial, kepedulian lingkungan serta seni dan budaya. Dalam perkembangannya, banyak organisasi lain yang ikut berpartisipasi bersama mereka, seperti KIBAS (Komunitas Batik Se-Jawa Timur), KISMIS (Komunitas Seniman dan Musisi Indiependent Surabaya) dan masih banyak lagi.



Mencontoh Keteladanan Kresna

Bergabung dengan LCI memiliki syarat member sejumlah minimal 20 orang, kemudian setelah terbentuk, maka harus disertakan identitas sebagai pengenal atau sebutan khas di belakang nama komunitas mereka. Seperti halnya Lion’s Club Surabaya Kresna yang memakai nama ‘Kresna’. Mengapa Kresna?

Tentang Kresna, para anggota Lion’s Club Surabaya Kresna kembali berkisah panjang-lebar. Kresna, menurut mereka adalah tokoh pewayangan, simbol dari kebijaksanaan, kemuliaan dan keagungan hidup. “Kresna adalah tokoh pewayangan yang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosial,” ungkap Kustiyanto.

Kresna dikenal dalam dunia pewayangan sebagai raja Dwarawati yang memiliki kebijaksanaan serta kepedulian tinggi. Sebagai raja, ia rela bersusah payah untuk terjun dalam memakmurkan masyarakat kerajaannya, membantu kaum-kaum tertindas, bahkan rela bersusah-payah membantu pandawa ketika diasingkan di hutan belantara. Selain itu ia juga berperan aktif sebagai juru damai pertikaian pandawa-kurawa.

“Kresna juga mengetahui seluk-beluk dunia dan berhasil mengentaskan dunia dari kejahatan kurawa. Pandawa bisa memenangkan pertempuran mereka melawan keangkaramurkaan berkat Kresna,” ujar Silvia Zulaika.

Maka dari itu Lion’s Club Surabaya Kresna meneladani sosok Kresna yang penuh kebijaksanaan dan kepedulian sosial. “Harapannya, secara perlahan dan dari partisipasi aktif dari berbagai lapisan masyarakat, kelak kami bisa mewujudkan masyarakat sejahtera seperti halnya Kresna yang menciptakan kemakmuran, kesehjahteraan dalam wujud dunia baru seusai memberantas keangkaramurkaan,” pungkas Silvia Zulaika, sang Presiden Lion’s Club Surabaya Kresna.

  


QUOTE

 


Kustiyanto, sekretaris Lion’s Club Surabaya Kresna
“Dengan Lion’s Club Surabaya Kresna kita bisa terlibat langsung dalam kegiatan sosial, sebagai wujud kepedulian kita terhadap masyarakat serta pengabdian langsung kepada masyarakat, juga bangsa dan negara”

 






Daniel Lukas Rorong, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna
“Lion’s Club Surabaya Kresna merupakan wadah saya untuk menyalurkan jiwa sosial yang ada dalam diri saya secara professional dan terorganisir dengan baik”

 
 






Mita, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna
“Lion’s Club Surabaya Kresna adalah tempat kita mencari pahala, berbagi dengan sesama umat manusia, khususnya mereka yang tidak mampu, tidak memandang suku agama, maupun tingkat sosial”

 





Fitria Judiswandarta, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna
“Kegiatan yang kami lakukan ini merupakan kombinasi kegiatan ‘wisata-surga’. Kami bisa berkunjung ke tempat yang belum pernah kami kunjungi sambil berwisata sosial dan tentunya dari kegiatan sosial tersebut, kelak akan menjamin ‘surga’ sebagai tempat kami nanti” 


 




Silvia Zulaika, Presiden  Lion’s Club Surabaya Kresna
“Berbuat sesuatu yang kecil, andai dilakukan bersama-sama akan menghasilkan manfaat besar bagi masyarakat, tanpa melihat suku dan agama”






Achox F Rizaal, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna
“Lion’s Club Surabaya Kresna adalah wadah untuk menyalurkan seluruh jiwa sosial saya. Kombinasi antara sosial dan budaya adalah tujuan serta visi dan misi komunitas, yang sejalan dengan komunitas yang saya naungi juga, yakni KISMIS (Komunitas Seniman dan Musisi Indiependent Surabaya) yang kerap melebur menjadi satu dalam berkegiatan sosial”

 

Diana Wahyuningtyas, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna
“Lion’s Club Surabaya Kresna begitu luar biasa. Kami terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda tetapi dapat menjadi satu jiwa, satu misi dalam setiap kegiatan sosial. Jiwa sosial dalam membantu sesama mahluk Tuhan akan selalu kami tanamkan. Bravo Lion’s Club Surabaya Kresna!”





 

Sadworo Ramadani, anggota Lion’s Club Surabaya Kresna
“Di Lion’s Club Surabaya Kresna membuat kehidupan saya menjadi lebih bervariasi, terutama dalam kehidupan sosial dan budaya. Selain itu saya bisa berbuat lebih banyak bagi mereka yang membutuhkan”






#tulisan ini pernah dipublikasikan di Surabaya Post tanggal 17 Februari 2013