Cari Blog Ini

Senin, 04 Maret 2013

Ekskul Kulintang SD St Carolus Lestarikan Musik Tradisional dengan Prestasi Nasional



Nama Ekskul   : Kulintang
Sekolah           : SDK St Carolus Surabaya
Jenis                : Musik Tradisional
Berdiri Sejak    : 2008
Pembina          : Sugiyono
Prestasi           :

2011
-          Juara Nasional Lomba Kulintang tingkat SD
-          Juara I Lomba Kulintang tingkat SD se-Jawa Timur
-          Juara I Festival Kulintang Diknas tingkat SD se-kota Surabaya

2012
-          Juara III festival musik tradisional tingkat SD se-Jawa Timur
-          Juara II festival kulintang tingkat SD se-Jatim
 

Membangkitkan minat siswa dengan mengusung konsep ‘have fun’


Puluhan siswa berlari-lari kecil dengan mendorong perlengkapan alat musik yang tersimpan di atas sebuah meja beroda. Antusiasme anak-anak itu terlihat di tengah panasnya matahari yang sedikit menyengat. Alat-alat itu ditata berjajar di selasar lorong lantai dua sekolah mereka. Keteduhan sedikit melegakan upaya siswa yang telah bekerja keras membawa perangkat musik yang rencananya mereka mainkan di siang itu.

“Ini sudah saya siapkan notasinya. Ayo ambil posisi dan segera mainkan dengan baik dan benar; yang kompak lho ya!” ucap Sugiyono, Pembina ekstra kurikuler setelah menyiapkan papan tulis besar bertuliskan notasi musik yang diletakkan di hadapan siswa.

Dengan segera para siswa membuka perlengkapan alat musik yang semula diselimuti oleh kain merah. Tampak, perlengkapan musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul. Kulintang namanya. Siang itu para siswa SDK St Carolus Surabaya menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler kulintang, dibawah bimbingan pembinanya yang cukup lihai.

‘Mars Yayasan Tarakanita’ adalah lagu pertama yang mereka bawakan dengan simfoni kulintang yang rancak. Satu-persatu siswa peserta ekstra kurikuler kulintang membawakannya dengan penuh semangat. Harmoni yang muncul meresap di dalam hati para pemain kulintang. Para guru dan beberapa siswa yang ikut menontonpun hanyut dalam alunan nada.

“Mars Tarakanita adalah lagu wajib yang dibawakan setiap ada even sekolah,” ujar Diana Cindrawati, peserta ekstra kurikuler kulintang. Perlu diketahui, mars itu diciptakan khusus untuk yayasan Tarakanita, yakni sebuah yayasan yang menaungi beberapa sekolah Katolik di Surabaya, diantaranya SDK-SMAK St Yosef, juga sekolah SDK St Carolus.

Sistem pengajaran yang diberikan Sugiyono dalam membina ekskul itu cukup unik. Para siswa diajarkan untuk mengetahui dan memahami dasar alat musik kulintang, kemudian diberi pengetahuan dasar menyangkut notasi dan teknik memainkannya. Konsep ‘have fun’ cukup meningkatkan antusiasme siswa. “Mereka diberi pemahaman tentang lagu daerah, kemudian memainkannya dengan alat musik kulintang,” ujar Sugiyono.

Sejak pertama kali berdiri pada tahun 2008, ekskul ini banyak menghasilkan aransemen musik daerah dengan alat musik kulintang. “Kini koleksi aransemen lagu daerah kami sudah sangat banyak. Perlahan-lahan kami mulai mengaransemen lagu modern,” tambah Sugiyono. Eksplorasi itulah yang semakin membangkitkan minat siswa dalam mendalami alat musik kulintang.

Cara pengajaran yang unik, dukungan sekolah dan orangtua siswa sangat menunjang para siswa untuk dapat berprestasi di luar sekolah. Selama berdiri sejak 2008, puluhan prestasi tingkat lokal dan provinsi telah banyak mereka raih, bahkan pada 2011 mereka meraih prestasi tingkat nasional dan mengharumkan nama sekolah, kota Surabaya sekaligus provinsi Jawa Timur.

Bagaimana membangkitkan semangat anak didik untuk bisa mendalami musik tradisional ditengah gempuran arus budaya modern? Ponti Selly, salah satu siswa peserta ekstra kurikuler kulintang menyebutkan bahwa ia semakin tertarik untuk mendalami musik tradisional karena termotivasi oleh kata-kata pembinanya. “Kata Pembina, membangun bangsa haruslah terlebih dulu membangun budayanya. Jadi, budaya harus dilestarikan agar bisa terus eksis dan tidak punah,” paparnya.

Semangat menjaga kebudayaan Indonesia, utamanya musik tradisional kulintang sangat tertanam di hati para peserta ekstra kurikuler kulintang di SDK St. Carolus. “Musik modern biarkan saja tetap ada, yang penting kita tetap setia menjaga budaya musik kulintang. Itu malah menambah kreativitas kami. Buktinya, kami bisa lho mengaransemen musik masa kini versi kulintang,” ceplos Violin Leonard, siswa peserta ekstra kurikuler kulintang.

Untuk membuktikannya, mereka membawakan sebuah lagu berjudul ‘Simfoni yang Indah’ kepada Surabaya Post yang berkesempatan meliput ekskul mereka. Tampak, lagu yang pernah popular dibawakan oleh Chrisye itu mengalun dengan indah, dalam nuansa kulintang yang mendayu-dayu. “Lagu inilah yang dulu mengantar kakak-kakak kami meraih juara nasional festival kulintang,” ujar Abraham Natanael, peserta ekskul kulintang.

Selain ‘Simfoni yang indah’, dibawakan pula lagu daerah berjudul ‘manuk dadali’ yang juga berbuah juara nasional. Memang peserta lomba kulintang tingkat nasional telah banyak yang lulus sekolah, namun, pembinaan kreativitas mereka tetap terjaga hingga saat ini. Terbukti, selepas juara pada tahun 2011, mereka tetap melanjutkan tradisi juaranya di tahun 2012, dan hingga saat ini mereka menyiapkan diri untuk mengikuti lomba-lomba yang terjadwal di tahun 2013.


Step by Step, dari Lokal hingga Menasional

Ekskul kulintang aktif  latihan setiap kamis pagi Pukul 10.00. Intensitas berlatih mereka tak hanya berhenti pada jadwal rutin, namun secara inisiatif para siswa meneruskan latihan mereka ketika ada waktu senggang, di luar jam pelajaran sekolah. Intensitas latihan dan kepercayaan diri yang cukup tinggi membuat mereka memberanikan diri mengikuti festival-festival kulintang yang diadakan di kota Surabaya.

Lomba pertama mereka adalah festival angklung dan kulintang yang diadakan oleh manajemen Grand City, Surabaya. Lomba itu mengikutsertakan ratusan siswa yang mewakili puluhan sekolah di Jawa Timur. Tak dinyana, puluhan sekolah itu berhasil disingkirkan dari perebutan gelar oleh para siswa SDK St Carolus. Pada kesempatan itu mereka berhasil meraih juara I tingkat Jawa Timur.

“Setelah lomba Grand City, siswa-siswi kami pada 2011 mengikuti perlombaan kedua yang diselenggarakan oleh Diknas, yang menentukan eksistensi siswa-siswi kami di tingkat nasional,” ungkap Yanto, wakil kepala sekolah SDK St Carolus.

Perlombaan kedua itu diraih dengan hasil memuaskan oleh para siswa peserta ekstra kurikuler kulintang SDK St Carolus. Mereka mendapatkan juara I dan berhak mewakili kota Surabaya dalam perlombaan tingkat Jawa Timur, yang diselenggarakan di Taman Budaya, Surabaya.

Tradisi Juara masih diteruskan. Mereka berhasil meraih juara I festival kulintang tingkat Jawa Timur dan mewakili provinsinya di tingkat nasional. “Faktor antusiasme, kemauan dan kreativitas siswa sangat menunjang dalam prestasi yang mengantarkan mereka dalam kejuaraan tingkat nasional,” ujar Emy, kepala sekolah SDK St Carolus.

Akhirnya perlombaan kulintang tingkat nasionalpun tiba. Ketika itu Surabaya menjadi tuan rumah perlombaan. SDK St Carolus tampil di hadapan dewan juri yang diisi oleh musisi-musisi nasional, penggiat musik daerah yang sangat sangat tinggi jam terbangnya. “Penilaian mereka didasarkan teknik, aransemen, sekaligus pembawaannya, menyangkut kostum dan sebagainya. Waktu itu SDK St Carolus tampil dengan menggunakankostum lagu daerah,” tutur Sugiyono.

Puncaknya, SDK St Carolus dapat mengharumkan tuan rumah, kota Surabaya sekaligus Provinsi Jawa Timur dalam perlombaan skala nasional tersebut. Mereka mendapat juara I dan sudah barang tentu melegakan, mengingat kerja keras dan persiapan latihan mereka selama berbulan-bulan.

“Kemarin, saat ini, dan nanti, kami tetap setia menekuni ekstra kurikuler kulintang dan tetap berusaha untuk meraih juara di setiap perlombaan,” pungkas Sugiyono, sesuai dengan filosofi membangun sebuah bangsa harus diawali dengan membangun budayanya. Jika semua individu memiliki kepedulian terhadap budaya bangsa, seperti halnya SDK St Carolus yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi musik tradisional, maka Indonesia bukan tidak mungkin akan terpandang di mata dunia.



 Komentar

 
Sugiyono, pembina ekskul kulintang


“Belajar kulintang sebenarnya sangat mudah. Asalkan siswa memiliki keinginan, fokus dan mau berproses bersama-sama. Selain itu siswa juga dituntut memiliki kreativitas dalam olah nada dan olah rasa.


 
Theresa D.D, peserta ekskul kulintang
“Kulintang itu asyik, bisa melestarikan musik Indonesia dengan cara berlatih dan belajar kulintang dengan giat”
 



Diana Cindrawati, peserta ekskul kulintang
“Kulintang itu bisa membangkitkan semangat saya untuk menimba ilmu di bidang musik tradisi”

 



Abraham Natanael Pattinasarani, peserta ekskul kulintang
“Saya senang bisa bermain musik lewat kulintang. Selain itu saya ingin menjadi juara seperti kakak-kakak saya yang dulu pernah juara”

 



Violin Leonard, peserta ekskul kulintang
“Belajar kulintang itu mengasyikkan. Bisa berkumpul dan berlatih bersama teman-teman”
 




Ponti Selly, peserta ekskul kulintang
“Bisa ikut lomba-lomba adalah salah satu keinginan saya. Makanya saya ikut ekstra kurikuler kulintang untuk bisa mewujudkannya”

Senin, 18 Februari 2013

SRCC, Komunitas Penggila Kubus Rubik Surabaya

erno rubik
Rubik’s Cube atau kubus rubik adalah permainan puzzle mekanik berbentuk kubus yang memiliki enam warna di setiap sisinya. Professor Erno Rubik, Seorang arsitek dan pemahat asal Hungaria menciptakan permainan itu pada tahun 1974, dan pada tahun 1980 produknya itu telah dijual ke berbagai belahan dunia. Dengan segera kubus rubik menciptakan sensasi internasional dengan daya pikatnya, dimana kubus rubik memiliki konsep yang sederhana, elegan, namun secara mengejutkan sulit untuk diselesaikan. Alhasil, pada 1982, karena kesuksesan produk Rubik’s Cube-nya, Erno Rubik menjadi salah satu red millionaire pertama di dunia, yakni menjadi warga dari negara komunis yang dapat menjadi kaya karena usahanya sendiri.


Hingga kini permainan kubus rubik sudah sangat mendunia, bahkan memiliki organisasinya sendiri di tingkat internasional, yaitu World Cube Association (WCA). Organisasi itu menaungi organisasi-organisasi kubus rubik di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, komunitas rubik terdapat di Surabaya, Bandung, Samarinda dan Balikpapan. Surabaya Rubik’s Cube Club (SRCC) adalah salah satu komunitas rubik di Surabaya.

Pada even gathering di salah satu mall di Surabaya, komunitas SRCC mengundang Surabaya Post untuk hadir. Saat ditemui, mereka tampak asyik bermain kubus rubik, beberapa di antara mereka tampak adu cepat menyusun kubus rubik dengan timer yang telah disediakan. “Beginilah kebiasaan kami jika sedang berkumpul. Kami biasanya melakukan latihan, adu cepat sampai berbagi tips seputar kubus rubik,” ujar Alvin Febrianth, ketua SRCC.

Berawal dari kegemaran terhadap permainan kubus rubik, para inisiator bersepakat untuk mendirikan SRCC pada bulan Juni 2009. Dalam beberapa kesempatan mereka kerap berkumpul, berlatih dan saling sharing seputar kubus rubik. “SRCC diresmikan pada Juni 2009 dan hingga kini komunitas kami dinaungi oleh WCA,” ujar Kevin Kaldera, salah satu anggota SRCC.

Ditanya mengenai alasan menggemari kubus rubik, para anggota SRCC menerangkan bahwa kubus rubik yang sepertinya mudah, namun membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. “Kubus rubik itu benar-benar mengasah otak, kesabaran, kecepatan dan ketrampilan,” ujar Dito Firmansyah, anggota SRCC. Para anggota SRCC mengaku bahwa mereka tak pernah bosan memainkan kubus rubik, dikarenakan bentuknya yang variatif serta mengejar rekor penyusun kubus rubik yang setiap tahunnya selalu berubah.

Bentuk kubus rubik pada awalnya adalah kotak, mempunyai tiga kolom horizontal dan vertikal di tiap sisinya. Bentuk kubus rubik awal itu dinamakan ‘3x3 Rubik’s Cube’. Dalam perkembangannya, kubus rubik mengalami banyak perkembangan dalam bentuk, misalnya  ‘2x2’, yakni rubik yang hanya memiliki dua kolom, ‘4x4’ hingga ‘7x7’. Selain itu terdapat pula kubus rubik berjenis pyramid, yakni kubus rubik yang berbentuk piramida; kemudian clock rubik’s, yaitu kubus rubik berbentuk jam yang di kedua sisinya terdapat 9 bentuk visual penanda jam. Dalam clock rubik’s, para pemain dituntut untuk mengatur arah 9 buah jarum jam ke arah angka 12.

“Bentuk kubus rubik yang terbaru adalah megaminx, yaitu rubik yang bentuknya segilima dengan duabelas sisi dan duabelas warna yang berbeda,” ungkap Erick Chandra, anggota SRCC.

Apakah sulit mempelajari kubus rubik? Bagaimana dengan para pemula? Alvin Febrianth menjelaskan bahwa sebenarnya bermain kubus rubik tidaklah sulit. “Kita hanya harus tahu rumus penyelesaiannya, itu saja. Setelah tahu rumusnya, tinggal melatih kecepatannya saja,” ungkapnya. Ditanya mengenai lamanya waktu untuk bisa mempelajari hingga menyelesaikan puzzle kubus rubik, Alvin menambahkan bahwa untuk mengetahui rumusnya cukup singkat. “Hanya dalam waktu satu jam seseorang bisa mempelajari rumusnya dan menyelesaikannya; yang membutuhkan waktu lama adalah melatih kecepatan penyelesaiannya,” tambahnya.

Hingga saat ini SRCC memiliki anggota sebanyak 120 orang. Mereka aktif melakukan kegiatan-kegiatan seperti gathering, kompetisi, berbagi tips dan sebagainya. “Setiap kali kami bertemu, kami selalu melakukan race, yakni balapan menyusun kubus rubik, juga take average, yakni menyusun rubik secara acak dan ditentukan catatan waktunya,” ujar Fakhruzi Asrial, anggota SRCC.

Selain memiliki agenda rutin, SRCC juga kerap mengadakan official competition, yakni kompetisi kubus rubik yang regulasinya berada di bawah naungan World Cube Association. Di dalam negri sendiri telah tiga kali diselenggarakan official competition, yang bertajuk ‘Indonesia Open’, sedangkan di Surabaya, even official competition kerap diselenggarakan oleh SRCC. “Kompetisi kami terdiri dari dua tajuk, yakni Surabaya Open dan Surabaya Cube Day. Kedua-duanya merupakan official competition, regulasinya diatur dan dinaungi oleh WCA,” ujar Dito Firmansyah, anggota SRCC.

 Surabaya Rubik’s Cube Club (SRCC) setiap tahunnya memiliki kewajiban untuk mengatur kompetisi kubus rubik di bawah regulasi WCA. Sama halnya dengan perwakilan komunitas dari daerah lain, SRCC juga merupakan salah satu perwakilan dari Indonesia yang diwajibkan mengirim delegasinya sebagai kepanjangan tangan dari WCA.

Sebagai delegasi, dalam setiap official competition, SRCC bertindak sebagai panitia yang mengatur segala sesuatunya. “Dalam official competition harus dihadiri seorang WCA Delegate dan memiliki tim panitia (beranggotakan 1 atau lebih anggota): judges, pengacak dan pengambil skor. Selain itu delegate beserta tim panitianya wajib melaporkan hal-hal yang terkait dengan Regulasi WCA selama kompetisi, jalannya keseluruhan kompetisi, dan insiden apapun selama kompetisi. Laporan harus disampaikan ke WCA Board dalam jangka satu minggu setelah tanggal kompetisi setelah kompetisi berakhir,” ungkap Alvin Febrianth, ketua SRCC.

Untuk ke depannya, dari paparan SRCC yang didapatkan oleh Surabaya Post, mereka berencana akan mengadakan berbagai official competition dan terus memperbanyak sesi latihan demi memecahkan rekor dunia dalam penyelesaian puzzle rubik’s cube tercepat, yang diraih oleh Feliks Zemdegs, warga Australia, dimana ia mampu menyelesaikan kubus rubik kategori 3x3 dalam waktu kurang dari 1 detik.

Menoreh Rekor Nasional

Dalam perjalanannya, karena intensitas latihan dan seringnya SRCC mengadakan pertemuan untuk berbagi tips, beberapa di antara mereka kerap menorehkan rekor nasional. Contohnya ketua SRCC, Alvin Febrianth yang menorehkan rekor nasional penyelesaian kubus rubik kategori 3x3 dalam waktu 1,50 detik.

Ditanya mengenai resep juaranya, Alvin menerangkan bahwa semua itu tidak lepas dari seringnya latihan. “Harus terus latihan, utamanya untuk meningkatkan kecepatan tangan. Itu yang sulit dan membutuhkan kesabaran,” ujarnya.

Selain Alvin, anggota SRCC lainnya, Kevin Kaldera, pernah meraih 1st Place Malaysia Cube Open 2012, serta 2nd Place Singapore Cube Open 2012. Demikian pula dengan Dito Firmansyah yang meraih predikat runner up Malaysia Cube Open, kategori with feet, yakni menyelesaikan puzzle rubik’s cube dengan menggunakan kaki.

“Dengan demikian SRCC tidak bisa dipandang remeh di mata nasional maupun internasional,” ujar Dito Firmansyah. Rata-rata dari mereka mengatakan bahwa resep sukses diraih dengan cara berlatih terus menerus.

Untuk diketahui, rekor penyelesaian puzzle rubik’s cube di tingkat internasional diraih oleh Feliks Zemdegs pada Australia Cube Open 2011 kategori 3x3, 4x4 dan 5x5. Kategori 2x2 ditoreh oleh Christian Kaserer dari Italia pada Trentin Open 2011. Kategori rubik’s cube blindfolded (kompetisi kubus rubik dengan mata tertutup) ditoreh oleh Marcell Endrey dari Hungaria. Indonesia sendiri sempat dua kali meraih rekor internasional, yakni kategori clock rubik’s oleh Jonathan Irvin Gunawan, serta Fakhri Raihaan dalam kategori Rubik’s Cube with feet. Keduanya berasal dari Bandung, Jawa Barat.

“Ke depannya, wakil SRCC pasti bisa menembus torehan rekor internasional,” pungkas Alvin Febrianth dengan bersemangat.



QUOTE


 

Kevin Kaldera, anggota SRCC, 1st Place Malaysia Cube Open 2012, 2nd Place Singapore Cube Open 2012
“Untuk menjadi juara rubik’s dibutuhkan passion dan target yang jelas, kemudian dengan intensif melakukan latihan terus-menerus, dan yang paling penting adalah keyakinan terhadap diri sendiri”





 


Erick Chandra, anggota SRCC
“Kalau mau juara, seseorang harus mengikuti perkembangan kubus rubik terus-menerus. Lebih baik dapat satu cube bagus daipada dapat 10 cube jelek”





 



Dito Firmansyah, anggota SRCC, runner-up Malaysia Cube Open, kategori with feet
“Untuk menjadi juara, jangan lupa terlebih dahulu harus memantau lawan tanding sehingga tau kekuatan dan kelemahan lawan”




 



Fakhruzi Asrial, anggota SRCC asal Gresik
“Pilih lubrikasi yang tepat pada cube agar putaran terasa ringan dan lebih cepat. Banyak berlatih dan ikut berbagai kompetisi. Itu resep sukses dari seorang juara rubik’s cube”


Minggu, 17 Februari 2013

TIARA HANDYCRAFT: SUKSES FINANSIAL DAN SOSIAL





PROFIL USAHA

Nama Usaha                           : Tiara Handycraft
Alamat                                    : Jl. Sidosermo Indah II/5, Surabaya 60239
Pemilik Usaha                         : Titik Winarti
Penanggung Jawab                  : Yudha Darmawan
Jenis Usaha                             : Industri Rumah Tangga
Bidang Usaha                          : Pengolahan Tekstil
Berdiri Sejak                           : 1996

Penghargaan:
-          Juara II UKM berprestasi, Hari Koperasi Walikota Surabaya (2002)
-          Juara II Lomba Cipta Souvenir Surabaya (2003)
-          Penghargaan I Pengusaha Mikro Pencanangan Tahun Microcredit International (2005)
-          Penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden Republik Indonesia (2010)


Sukses Finansial dan Sukses Sosial

Berawal dari hobi mengolah bahan tekstil menjadi souvenir, hiasan rumah tangga, pakaian dan sebagainya, Titik Winarti, sang pemilik dan penggagas berdirinya usaha Tiara Handycraft mendapatkan respon baik dari para tetangga ketika mereka melihat hasil karyanya. Pemesan demi pemesan akhirnya berdatangan dan Titik Winartipun mulai kebanjiran order.

“Awalnya hanya mengisi waktu luang saja. Kemudian karena banyak pemesan, saya mulai berpikir, ada baiknya saya membuat suatu usaha olahan tekstil. Keuntungannya bisa saya pakai untuk membantu perekonomian rumah tangga saya,” ujar Titik Winarti.

Meningkatnya permintaan terhadap karya olahan tekstil Titik Winarti membuatnya memberanikan diri untuk membuka sebuah usaha kecil menengah untuk menangani permintaan masyarakat terhadap karya-karyanya. Usaha Kecil Menengah itu ia dirikan pada tahun 1995 dan ia namakan ‘Tiara Handycraft’.

Dipilihnya usaha tekstil oleh Titik Winarti, tidak lain karena ia melihat kenyataan bahwa tekstil memberi pengaruh 90% pada kehidupan manusia. “Manusia butuh pakaian, butuh tekstil untuk kebutuhan rumah tangga dan sebagainya. Maka dari itu saya melihat bahwa industri tekstil sangat berpotensi untuk digunakan sebagai lahan bisnis,” ungkap peraih titel Ibu Indonesia 2005 itu.

Ade Rizal, anak sulung Titik Winarti yang juga bekerja di Tiara Handycraft sebagai pengawas produksi menjelaskan bahwa pemakaian nama Tiara memiliki arti tersendiri, yakni ‘mahkota’. “Mahkota adalah lambang keanggunan, kemakmuran, kesehjahteraan. Harapannya agar usaha Ibu jadi ‘mahkota’ di mata intern perusahaan, juga di mata konsumen. Kami puas, konsumen juga puas,” ujarnya. Sedangkan ‘handycraft’ sendiri berarti kerajinan buatan tangan, sesuai dengan jenis usaha mereka yang bergerak di bidang pengolahan tekstil menjadi barang-barang kerajinan.

Pada awal perjalanannya, Tiara Handycraft memililki beberapa karyawan dengan omzet yang cukup lumayan. Namun, pada awal perjalanannya mereka cukup bermasalah dengan karyawan dan menyebabkan usaha mereka sempat mengalami kemunduran. “Saat itu tahun 1998-1999. Karyawan kami pada saat krisis moneter banyak yang cuti, tapi tak pernah kembali lagi. Sedangkan untuk menerima karyawan baru, kami harus terlebih dulu memberi pelatihan dan prosesnya lama. Makanya di tahun itu kami sempat mengalami kemunduran,” ujar Ade Rizal.

Melihat minimnya loyalitas dari beberapa karyawan yang pernah dipekerjakannya, Titik Winarti mulai berpikir untuk mencari karyawan baru. “Saat itu salah satu tetangga saya menawarkan kepada saya bahwa ada baiknya memperkerjakan para penyandang cacat sebagai karyawan. Selain agar produksi tetap jalan, saya bisa mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri mereka,” ujar Titik Winarti.

Alhasil, pada akhir tahun 1999, Titik Winarti melakukan kontak dengan dinas sosial dan lembaga-lembaga penyandang cacat untuk mendapatkan karyawan dan memberikan mereka pelatihan kemampuan berolah tekstil. Dari rekomendasi beberapa pihak, Tiara Handycraft akhirnya memperkerjakan beberapa karyawan difabel.

“Para penyandang cacat selama ini selalu dipandang sebelah mata. Mereka hanya terhambat di bidang fisik, namun secara mental mereka sama seperti manusia biasa. Mereka punya potensi yang bisa diasah, dan potensi mereka yang berkaitan dengan inovasi serta kreasi sesungguhnya tak kalah hebat dengan orang-orang normal,” ujar Yudha Darmawan, suami Titik Winarti yang juga merupakan penanggung jawab Tiara Handycraft.

Membina para penyandang cacat untuk dipekerjakan di Tiara Handycraft memang gampang-gampang susah. Titik Winarti mengaku bahwa adakalanya ia mendapat kesulitan saat membina dan memberi pelatihan kepada mereka.  “Salah satu kesulitannya adalah merubah mindset mereka. Mereka pada kehidupan sehari-hari terbiasa dilayani oleh orang lain, hal itu wajar karena mereka penyandang cacat, namun ketika di Tiara Handycraft, mereka diberi pelatihan, diberi kedisiplinan dan diberi pemahaman agar bisa mandiri, agar mereka bisa membuktikan kepada orang lain bahwasanya mereka mampu berkarya,“ ungkap peraih Kartini Award itu.

Dengan kesabaran dan ketekunan, Tiara Handycraft akhirnya mampu bangkit dan sukses. Hingga 2013, mereka memperkerjakan 42 penyandang cacat dan anak-anak putus sekolah. Kegiatan sosial dari Tiara Handycraft itu mendapat respon dan simpati dari berbagai pihak, bahkan, instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta berlomba-lomba untuk memberikan bantuan kepada Tiara Handycraft.

Achmadi (30), salah seorang penyandang cacat yang juga karyawan Tiara Handycraft mengisahkan bahwa dirinya dulu berasal dari panti Bina Sosial di Pasuruan dan ditawari magang di Tiara Handycraft. “Setelah beberapa bulan magang, saya langsung diterima untuk bekerja di Tiara Handycraft,” ujarnya. Hingga kini Achmadi dan puluhan karyawan penyandang cacat lainnya bekerja di Tiara Handycraft dan berkarya demi kesehjahteraan usaha dan mereka sendiri.

Tiara Handycraft juga terkenal dengan adanya nuansa harmonis di lingkungan usahanya.  Para karyawan dianggap sebagai saudara oleh pemilik usaha, Titik Winarti. “Mereka berkarya disini, tinggal disini dan kami melakukan beberapa kegiatan secara bersama-sama. Makan bersama, sholat berjamaah juga bersama-sama. Tujuannya untuk memupuk persaudaraan dan keakraban diantara kami,” ujar Titik Winarti.

Untuk meraih kesuksesan tentu dibutuhkan cara tersendiri, dalam hal ini Tiara Handycraft meraih kesuksesannya dengan banyak hal, salah satunya adalah melakukan promosi dari mulut ke mulut, menjamin kepuasan konsumen dengan cara menggarap permintaan tepat waktu, sesuai keinginan konsumen; juga tanggung jawab terhadap produk yang dibeli oleh konsumen. “Misalnya ketika ada barang yang dikirim pada pembeli, kemudian salah satu barang kedapatan kurang sempurna, maka konsumen boleh mengembalikannya kepada kami dan kami akan memperbaikinya,” ujar Yudha Darmawan.

Hingga kini setiap bulannya Tiara Handycraft menerima ribuan order. Produk unggulan mereka yakni souvenir, tas, seprei, korden dan beragam olahan tekstil untuk kebutuhan rumah tangga. Ditilik dari omzet, mereka mampu meraih penghasilan sebesar 60 juta per bulan. Luar biasa bukan? Tentu Tiara Handycraft yang sukses secara sosial juga finansial, terbukti mampu memutarbalikkan pandangan negatif tentang para penyandang cacat, bahwa mereka juga mampu berkarya.


Dapat Perhatian Presiden Hingga Sekjen PBB

Kesuksesan Tiara Handycraft dari sisi sosial juga finansial mendapat respon positif dari pemerintah, bahkan sampai ke telinga Presiden! Titik Winarti mengisahkan bahwa Presiden tergugah atas kepedulian Tiara Handycraft kepada para penyandang cacat. Pada 2005 Titik Winarti mendapat kesempatan bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia.

“Bu, Indonesia membutuhkan orang-orang seperti anda agar bangsa ini menjadi kuat. Itu kata Presiden kepada saya,” ungkap Titik Winarti. Setelah diberi kesempatan bertemu, Presiden bersama Ibu negara juga berkesempatan melihat-lihat produk dari Tiara Handycraft.

Berbagai penghargaan yang dialamatkan kepada Tiara Handycraft, juga penghargaan secara individu terhadap sang pemilik, membuat Tiara Handycraft dilirik untuk ambil bagian dalam Sidang Umum PBB yang diperuntukkan bagi para pengusaha Mikro dalam tajuk Pencanangan Tahun Microedit International pada tahun 2005. Dalam Kesempatan tersebut, Titik Winarti mendapat kesempatan berpidato di depan sidang umum dan mendapat standing applause. “Banyak dari mereka yang terkesan terhadap Tiara Handycraft yang memberi kesempatan kepada penyandang cacat untuk berkarya dan mengembangkan potensi diri,” ujar perempuan yang juga pernah meraih penghargaan International visitor leadership program bertajuk ‘Women and Enterpreneurship’ dari USA itu.

bersama Mrs. Kofi Annan
Sekjend PBB bersama Istri seusai sidang berkesempatan melihat-lihat produk Tiara Handycraft. Mereka berdua, papar Titik Winarti sangat terkesan dengan produk olahan tekstil Tiara Handycraft dan tidak menyangka bahwa itu semua merupakan hasil karya para penyandang cacat.
Tiara Handycraft dalam berbagai kesempatan sering mengekspor produknya. Pada tingkat domestik, Tiara Handycraft rutin mengirim produknya dari Jawa ke Bali. Tingkat ekspor, mereka sering mengekspor produk mereka ke berbagai negara seperti Belanda, Brazil, dan secara rutin memasok produk kerajinan di Conecticcut, Amerika Serikat. Mereka cukup sukses merambah pasar luar negri, dan kesuksesan itu semakin dirasakan usai mereka memamerkan produknya dalam pameran-pameran handycraft di luar negri, terlebih setelah pemiliknya, Titik Winarti mendapat kesempatan tampil di sidang umum PBB hingga kerap menjadi pembicara di luar negri.

# tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post edisi minggu, 27 Januari 2013
# foto2 diantaranya diambil dari blognya tiara handycraft