Cari Blog Ini

Jumat, 07 Desember 2012

Komunitas Kretek Surabaya: Save Kretek, Save Indonesia!



anggota komunitas kretek surabaya


KOMUNITAS KRETEK SURABAYA
SAVE KRETEK, SAVE INDONESIA!


RPP Anti Tembakau bila disahkan, rasanya cukup menyesakkan bagi industri rokok di tanah air. Bayangkan, Industri rokok kelas menengah akan gulung tikar, petani tembakau dipaksa untuk mendiversivikasi tanaman sampai alih tanaman, dan yang lebih mengerikan lagi, kretek yang merupakan hasil dari budaya Indonesia akan hilang. Lucunya, selain di satu sisi melarang penggunaan tembakau, di sisi lain RPP Anti Tembakau itu membuat ketentuan agar industri rokok diwajibkan untuk meracik komposisi rokok dalam takaran tertentu, larangan penggunaan tembakau lokal dan menggantinya dengan tembakau Virginia (tembakau impor) serta meminimalkan jumlah rokok dalam satu kemasan, yakni 20 batang.

Berdasarkan keganjilan-keganjilan dalam RPP Anti Tembakau, juga dengan dasar memperjuangkan kretek sebagai budaya asli Indonesia, para individu dari berbagai kalangan dengan kesamaan visi membentuk sebuah komunitas, yakni Komunitas Kretek (Komtek). Komtek didirikan pada bulan Oktober tahun 2010. Di Surabaya, mereka memiliki base camp di Perum Pandugo 1, Surabaya. Tercatat, hingga saat ini Komtek memiliki cabang di 7 kota di Indonesia, yakni Makassar, Jember, Jakarta, Surabaya, Semarang, Jogjakarta, dan Medan.

“Komunitas Kretek Indonesia didirikan awalnya berdasarkan kegelisahan kami terhadap buku ‘Nikotin War’, karya Wanda Hamilton. Dalam buku itu tampak sekali kepentingan bisnis industri Farmasi dibalik kampanye anti rokok,” ujar Alexius, anggota Komtek. Menurutnya, kepentingan asing yang bermain di balik kampanye anti tembakau, bekerjasama dengan WHO, mendorong beberapa negara untuk mengaksesi draft anti tembakau yang di Indonesia memicu munculnya RPP Anti Tembakau. “Bila draft anti tembakau yang diajukan pihak asing diaksesi oleh pemerintah Indonesia, maka akan muncul masalah besar. Industri tembakau dari hulu ke hilir akan lumpuh, berikut matinya kretek sebagai budaya khas Indonesia,” ujar Erda, koordinator Komtek Surabaya. 

Kretek merupakan budaya Indonesia yang dengan gigih mereka perjuangkan. Kretek bukan rokok, melainkan suatu inovasi tersendiri yang diracik oleh masyarakat Indonesia di masa lalu dimana mereka mencampurkan cengkeh dan saus perasa bersama tembakau, sehingga menghasilkan citarasa tersendiri. “Save kretek, save Indonesia! Bila RPP Anti Tembakau disahkan, kretek sebagai budaya asli Indonesia akan lenyap,” ujar Riza Aisyah, anggota Komtek.

Komtek juga menangkap adanya keganjilan dalam kampanye anti rokok yang berlangsung selama 5-6 tahun terakhir. Dalam kampanye tersebut, mereka menemukan fakta bahwa aktivis anti rokok didanai oleh Bloomberg Inisiative dari Amerika Serikat, yang mempunyai hubungan dengan industri farmasi. Sembari berkampanye anti rokok, mereka memasarkan obat bagi orang yang ingin berhenti merokok. Bloomberg dan aktivis anti tembakau, menamakan terapinya sebagai ‘Nicotine Replacement Therapy’, yang di dalamnya dipasarkan produk penyembuh bagi pecandu rokok seperti Nicoder, Nicohol dan sebagainya.

Bagaimana dengan bahaya tembakau bagi kesehatan? “Itu hanya akal-akalan industri farmasi tertentu yang mencoba menghancurkan pangsa pasar tembakau. Bila merokok dapat menyebabkan impotensi, di Indonesia dengan jumlah perokok terbanyak saja jumlah penduduknya menempati urutan kelima terbanyak di dunia. Bila tembakau memperpendek umur, banyak perokok yang usianya lebih dari 80 tahun masih sehat,” ujar Andi, anggota Komtek. Menurut Komtek, industri Farmasi tergiur dengan banyaknya jumlah perokok di Indonesia dengan pemasukan dari Industri tembakau untuk negara yang tahun ini diperkirakan mencapai 70 Trilyun.

Industri Farmasi yang mendanai aktivis anti rokok dan berhasil mempengaruhi WHO akhirnya memunculkan traktat Internasional yang dinamakan FCTC (Framework Convention of Tobacco Control) yang mendorong negara-negara di dunia untuk mengaksesinya dalam bentuk undang-undang. Aktivis anti tembakau Indonesia mendorong pemerintah untuk mengaksesi draft FCTC dalam undang-undang dimana draft itu memiliki banyak keanehan, yang selain melarang tembakau, juga mengatur persoalan tata niaga tembakau. “Aneh, FCTC selain memunculkan draft RPP Anti Tembakau, mereka berusaha mengatur pula bisnis tembakau. Jelas, tercium aroma kepentingan asing, hasil perselingkuhan industri Farmasi dan industri rokok raksasa yang mengatur komposisi, jumlah dan penggunaan rokok. Industri rokok, kelangsungan hidup petani dan buruh, juga kretek sebagai budaya asli Indonesia akan terancam,” ujar Natalia, sekwil Komtek Surabaya.

Komtek didukung oleh banyak kalangan, mulai dari politikus, pengacara, budayawan, bahkan artis.  Sebut saja Nugie, Emha Ainun Nadjib, Butet Kertarejasa, Rieke Diah Pitaloka, Deddy Corbuzier dan masih banyak lagi. Henry Josodiningrat, pengacara kawakan bahkan mempermasalahkan RPP Anti Tembakau sejak pasal 1 yang isinya seakan menegaskan bahwa pecandu rokok tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan. Menurutnya, perokok tidak selalu merokok. Bila ada aktivitas yang menyibukkan, atau sedang puasa, maka perokok tentu tidak merokok. Senada, Yusril Ihza Mahendra, politikus dan ahli hukum mengungkapkan bahwa RPP Anti Tembakau merupakan bentuk adanya kepentingan asing yang hendak mematikan industri tembakau di tanah air. “Pak Yusril menambahkan bahwa diaksesinya traktat FCTC di Filipina menjadi undang-undang menyebabkan industri lokal tembakau disana mati. Industri-industri rokok itu diakuisisi oleh Phillip Morris. Bila RPP Anti Tembakau disahkan, maka Indonesia akan bernasib sama dengan Filipina,” terang Erda, koordinator Komtek.

Bila RPP Anti Tembakau disahkan, menurut Komtek, akan muncul kerugian di tiga pihak, yakni petani, industri tembakau dan negara. Petani akan dibatasi untuk menanam tembakau, diversivikasi tanaman dan nantinya RPP Anti Tembakau sebagai turunan dari FCTC hanya memperbolehkan penggunaan tembakau Virginia, tembakau yang digunakan oleh industri rokok asing dan melarang penggunaan tembakau lokal. Walhasil, tembakau lokal yang ditanam petani tidak diperuntukkan untuk industri rokok, melainkan untuk hal lainnya seperti bahan baku pestisida. “Padahal tidak ada bukti bahwa tembakau dapat dijadikan pestisida,” ujar Alexius. 

Kerugian bagi industri rokok, yakni UKM akan gulung tikar, adanya PHK massal disebabkan tidak diperbolehkannya penanaman tembakau lokal, dan yang lebih parah, sesuai dengan draft RPP Pasal 12 ayat 1 yang mengharuskan setiap industri rokok menguji kesehatan produk rokoknya. Otomatis industri rokok kecil yang tidak mampu membeli peralatan pengujian kesehatan akan gulung tikar pula. Kerugian negara dalam hal ini akan berdampak pada menurunnya pendapatan negara berupa cukai tembakau,  beredarnya tembakau illegal dan yang lebih mengerikan lagi, ada indikasi kepentingan asing yang akan memegang kendali industri tembakau di Indonesia, sehingga negara tidak akan mendapatkan pemasukan lagi.
Keganjilan lain dalam RPP Anti Tembakau adalah tidak adanya pelarangan terhadap cerutu dan tembakau Iris. Dalam pasal 10 ayat 2 menyatakan bahwa cerutu (jenis rokok asing), klembak menyan (rokok lokal yang berbahan kemenyan), serta tembakau iris (jenis tembakau yang dijadikan komposisi rokok asing) tidak perlu dilakukan pengujian. “Cerutu dan tembakau iris tidak dilarang, namun tembakau lokal, utamanya kretek sebagai produk budaya Indonesia malah dilarang. Itu kan aneh,” ujar Andi, anggota Komtek.

Komunitas Kretek yang terbentuk dari inisiatif para individu yang memiliki kepedulian terhadap budaya, juga kepedulian terhadap para perokok kretek yang telah membayar cukai negara dari hasil pembelian kretek serta kepedulian terhadap eksistensi industri tembakau yang menyumbang pemasukan negara akhirnya memperoleh hasil yang cukup baik berupa Amar Putusan Mahkamah Konstitusi atas gugatan Undang-Undang kesehatan, yakni, negara menjamin rokok dan aktivitas merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi undang-undang. Selain itu merokok adalah sebuah hak yang dilindungi oleh dasar hukum konstitutional. Pemerintahpun menjamin perlindungan kretek sebagai budaya asli Indonesia serta menjamin bahwa di setiap tempat umum akan disediakan ruang khusus bagi para perokok.

“Kretek bukan hanya berbicara tentang budaya, namun kretek juga menghasilkan adanya wanita tangguh, yakni petani dan buruh tembakau yang sebagian besar adalah wanita. Maka dari itu, kita harus memiliki kepedulian untuk menyelamatkan kretek sebagai budaya asli Indonesia,” pungkas Natalia, sekwil Komtek yang juga merupakan salah satu penulis dalam buku ‘Perempuan Bicara Kretek’.

Kisah Oei Hiem Hwie: Eks Tapol Pulau Buru 1978 & Penyelamat Naskah Pramoedya Ananta Toer



Oei dan Naskah Asli Ketikan Pramoedya

Biodata


Nama                                      : Oei Hiem Hwie
Tempat / Tanggal / Lahir           : Malang, 20 November 1935
Alamat                                     : Jl. Medayu Selatan IV / 42-44, Surabaya
Nama Istri                                : Sri Widyanti
Nama Anak                             
  1. Adi Sandika
  2. Yudi Sandika

Riwayat Pendidikan                         :
  1. SD Tionghoa Hwie Kwan, Malang
  2. SMP Tionghoa Hwie Kwan, Malang
  3. SMA Tionghoa Hwie Kwan, Malang
  4. Akademi Ilmu Politik & Hukum, Malang
  5. Akademi Pro Patria, Jogjakarta

Karier                                                 : 
- Wartawan Trompet Masjarakat 
- Tahanan Politik 1965-1978 
- Sekpri Toko Buku Gunung Agung, Surabaya




Kunci Sehat, Semua Harus Disiplin dan Teratur!

Terngiang, ingatan masa silam tentang bunyi cangkul yang membentur tanah kering, suara gerobak pengangkut hasil panen dan suara canda kawanan pekerja. Ingatan yang kembali terkuak saat mendapati seorang kawan lama yang diberitakan masih sehat dan aktif melukis tentang ingatan yang sama, yang pernah mereka alami pada sudut kelam masa lalu. 

“Soeharsojo itu kawanku! Kalau tidak salah ia ditempatkan di unit 6 Pulau Buru!,” ujarnya menggebu saat membaca profil kawan lamanya, Gregorius Soeharsojo Goenito yang dimuat dalam Surabaya Post edisi minggu, 25 November 2012. 
 
Ialah Oei Hiem Hwie, mantan tahanan politik (Tapol) yang diasingkan di Pulau Buru karena dituduh terlibat dalam kegiatan berbau Soekarno dan PKI.

Ketika membaca Surabaya Post yang memuat Soeharsojo, Oei Hiem Hwie menelepon kantor redaksi dan berkeinginan untuk mendapatkan alamat lengkap Soeharsojo yang merupakan kawan lamanya ketika diasingkan di Pulau Buru. Mengetahui hal itu, saya berinisiatif untuk mendatangi kediamannya di perpustakaan Medayu Agung, Surabaya. Saat itu ia tampak antusias menerima kedatangan saya. Dengan ramah ia mempersilahkan masuk sembari memamerkan koleksi buku-buku dan arsip media massa yang ia kliping sejak remaja, termasuk ketikan asli naskah novel Pramoedya Ananta Toer!

Di usianya yang mencapai 75 tahun itu Oei Hiem Hwie tampak masih segar bugar. Ia dengan lancar memaparkan kisah-kisahnya yang detail, nyaris tak ada satupun yang terlupakan. Saat ditanya mengenai resep sehatnya, ia memaparkan bahwa ia memperoleh kesehatan karena kondisi hidup masa lalu yang menempa semangat dan kedisiplinannya dalam menjalani hidup. “Dulu di Pulau Buru, hidup harus teratur. Makan, minum, kerja, istirahat harus dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Maka dari itu hingga kini saya menggunakan kedisiplinan itu sebagai acuan dalam hidup sehat. Disiplin waktu menyangkut makan, minum, olahraga teratur dan sebagainya,” ujar Bapak dua anak itu. Oei Hiem Hwie mengungkapkan bahwa ia juga mengurangi makanan yang mengandung lemak dan minyak, juga pedas. Ia juga mengaku bahwa olahraga menjadi kegiatan rutin setiap pagi.

Bagaimana kisahnya di Pulau Buru? Oei Hiem Hwie menerangkan bahwa ia dibawa ke Pulau Buru pada tahun 1970 karena dituduh terlibat dalam kegiatan Soekarnois, yakni menjadi wartawan Koran Trompet Masyarakat, juga menjadi anggota Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) yang keduanya mendukung seluruh kebijakan Soekarno.

Ia memaparkan bahwa pada 1962 ia mengawali kariernya sebagai wartawan Trompet Masyarakat di Surabaya setelah menyelesaikan pendidikannya di akademi Pro Patria Jogjakarta dengan mengambil jurusan ilmu jurnalistik. “Waktu itu kantor harian Trompet Masyarakat berada di Jalan Pahlawan, Surabaya. Pimpinan redaksinya bernama Goei Poo An,” ujarnya. Selain itu ia juga bergabung dengan Baperki, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak warga keturunan agar bisa menjadi warga negara Indonesia.

Pada 1965, meletuslah apa yang disebut Soekarno sebagai Gestok (Gerakan Satu Oktober). Alhasil, semua yang berbau PKI dan Soekarno disingkirkan, termasuk harian Trompet Masyarakat yang dibredel dan semua arsip dibakar. Pada saat itu terjadi pula penggeledahan di rumah Oei Hiem Hwie dan sebelum sempat dibakar, adik kandung Oei berinisiatif menyimpan semua buku koleksi kakaknya yang berjumlah ratusan di dalam loteng rumahnya. Saat itupula Oei ditahan oleh pemerintah. Keterlibatannya dalam Trompet Masjarakat dan Baperki menyebabkannya bertualang dari penjara ke penjara. Awalnya ia dimasukkan dalam kamp Gapsin, di Batu, Malang. Kamp Gapsin adalah bekas perusahaan kaleng yang ditutup dan dipinjam oleh pemerintah untuk dijadikan kamp tahanan politik. “Disitu saya mengetahui bahwa pimpinan saya selama di Trompet Masjarakat, Goei Poo An, dibawa keluar bersama 50 orang tapol dan entah bagaimana nasibnya,” kenangnya. Dari kamp Gapsin selama 2 bulan, ia dipindahkan ke dalam penjara Lowok Waru, penjara terbesar di Malang. Kemudian dipindah lagi ke penjara Kalisosok, Surabaya, juga pada akhirnya dipindahkan ke penjara Koblen, sebuah penjara di Jalan Bubutan, Surabaya yang menjadi penjara terakhirnya di kota Surabaya.

Pada 1970, Oei Hiem Hwie dipindah ke Nusakambangan bersama 500 tahanan politik dari berbagai daerah di Jawa Timur. “Disana saya dipenjarakan di penjara Karangtengah, Nusakambangan. Makanan waktu itu seadanya, yang paling mengenaskan, kami sempat beberapa kali diberi makanan berupa Bulgur, yakni ampas gandum yang dicampur dengan ikan asin,” ujarnya. Ia menjalani masa penahanannya di Nusakambangan selama dua bulan, kemudian bersama kurang lebih seribu tapol dari berbagai daerah di Pulau Jawa, ia diangkut dengan kapal laut Tobelo, menuju Pulau Buru. Dari situlah kisah yang menempa kedisiplinan dan semangat hidup serta kegiatan menimba ilmunya itu dimulai.

Pulau Buru, sebuah pulau di sekitar kepulauan Maluku merupakan tempat dimana para tapol diasingkan dan diwajibkan bekerja untuk membuka lahan disana. “Disana semua tapol memiliki bagiannya sendiri-sendiri. Ada yang mencangkul, membajak sawah, menggergaji dan sebagainya. Saya kebagian tugas menanam tanaman kacang panjang, padi dan ketela,” kenangnya.

Selama di Pulau Buru, ia menerangkan bahwa semua rutinitas tapol yang menjadi pekerja disana sangat terjadwal. Bekerja, makan, minum, istirahat hingga tidur diberi batas waktu yang teratur. Otomatis, disiplin waktu dan beraktivitas yang didapatnya selama diasingkan di Pulau Buru sangat berguna ketika diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. “Ditempa dalam kehidupan yang keras membuat saya membiasakan diri dengan kedisiplinan. Makan, minum, beraktivitas, berolahragapun harus teratur. Istilahnya disiplin waktu menyangkut hal apapun. Jika semuanya bisa berjalan dengan teratur, maka tubuh akan sehat dan tidak mudah terkena penyakit,” ujarnya.



Soekarnois yang Berguru pada Pramoedya Ananta Toer

Oei Hiem Hwie mengaku sangat mengagumi sosok Presiden pertama Republik Indonesia, yakni Soekarno. Menurutnya Soekarno adalah bapak bangsa yang tidak ada bandingnya di Indonesia. Jalan pikiran dan arah kebijakannya sangat hebat dan tepat. Selain Soekarno, Oei Hiem Hwie juga mengagumi sosok novelis Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang dianggapnya guru. Bersamanya ia pernah mengalami suka duka di Pulau Buru.

Kisahnya bersama Pramoedya di Pulau Buru tentu sayang untuk dilewatkan, mengingat jika tidak ada sosok Oei Hiem Hwie yang menyelamatkan ketikan asli naskah Pram yang dibuat selama di Pulau Buru, mungkin sampai sekarang kita tidak akan pernah membaca novel-novel milik sastrawan kandidat peraih nobel sastra itu.

Saat menginjak Pulau Buru di tahun 1970, Oei Hiem Hwie bertemu Pram yang rupanya telah datang disana sejak satu tahun sebelumnya, yakni 1969. Secara kebetulan, Pramoedya ditempatkan di unit 4 ‘Savana Jaya’, satu unit dengan Oei Hiem Hwie. Di Pulau Buru, Pramoedya diisolir di gubug kecil dimana dibelakang gubug itu terdapat sepetak sawah yang dikelola oleh Oei Hiem Hwie. “Saat itu Pram diisolir. Ia tidak diharuskan untuk bekerja, namun ia diperbolehkan untuk menulis. Di gubug itu disediakan mesin ketik dan Pram menulis novelnya dengan menggunakan kertas semen milik pekerja. Tak seorangpun diperbolehkan memasuki gubug itu. Bila ada yang nekad dan ketahuan, maka akan dipukuli oleh petugas penjaga,” ujarnya. Cerdiknya, pada saat itu Oei Hiem Hwie yang haus ilmu mengendap-endap masuk lewat lubang sempit di bawah gubug, tepat pada saat penjaga lengah. Di dalam gubug, ia berkawan dekat dengan Pram, menimba ilmu, bahkan Pram mempercayakan Oei Hiem Hwie untuk menyimpan naskah salinannya.

“Saya membawa naskah salinan Pram dan disana saya simpan rapat-rapat. Pram memang diperbolehkan menulis selama di Pulau Buru, namun selesai menulis ia harus menyerahkan tulisannya kepada petugas dan tulisan-tulisannya itu tak pernah dikembalikan; namun Pram menyiasatinya dengan membuat pula salinan naskahnya. Salinannya itu diserahkan pada saya untuk saya simpan,” ujar pria kelahiran Malang itu.

Berkarya sastra, apalagi menyangkut tentang penceritaan sejarah seperti karya Pram membutuhkan referensi lain selain hanya mengandalkan ingatan. Bila Pram sedang lupa dan membutuhkan referensi, ia selalu menyuruh Oei Hiem Hwie untuk bertanya kepada para intelektual yang juga sedang diasingkan di Pulau Buru. Contohnya pada saat menulis Arok Dedes, Pram sedikit lupa tentang beberapa bagian yang ada di dalamnya. Maka dari itu ia menyuruh Oei Hiem Hwie untuk bertanya pada kawan-kawannya. “Waktu itu Pram bicara kepada saya, Oei, kamu pergi ke unit 6, temui Professor Puradisastra dan Hersri Setiawan, tanyakan dengan lengkap tentang sosok Ken Arok! Sayapun bergegas ke unit 6, berjalan kaki sejauh 6 kilo dengan berpura-pura sebagai pengantar bahan makanan bagi tapol yang berada disana,” kenangnya. Begitulah Oei Hiem Hwie berperan sebagai murid sekaligus membantu proses kreatif dengan menjadi perantara Pram ketika sedang membutuhkan bantuan.

“Saya menganggap Buru sebagai akademi, dan Pram sebagai dosen saya,” ujar Oei Hiem Hwie.

Pada 1978, masa pengasingan Oei Hiem Hwie di Pulau Buru telah berakhir, sedangkan Pramoedya, masa penahanannya baru selesai pada tahun 1979. Mengetahui hal itu, Pram menanyai Oei Hiem Hwie, apakah muridnya itu berani membawa salinan naskahnya ke Pulau Jawa, dengan ancaman hukuman berat bila sampai ketahuan, dan tanpa ragu Oei Hiem Hwie menyatakan di depan Pram bahwa dirinya berani. “Salinan naskah-naskah Pramoedya saya simpan di balik baju-baju kotor di dalam Tumbu (tas bambu) yang saya jinjing. Untunglah saya lolos dari pemeriksaan, sebab jika tidak, mungkin saya bisa ditembak mati gara-gara berani membawa tulisan milik Pram,” kenangnya. Walhasil, selamatlah naskah-naskah Pram yang dibuat di Pulau Buru, yang menghasilkan beberapa judul novel: Tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Mata Pusara, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Sesampainya di Pulau Jawa, pada tahun 1979 ketika Pram sudah dipulangkan, ia menyerahkan salinan naskahnya pada Pramoedya. “Waktu itu beliau malah tidak mau menerimanya dan menyuruh saya untuk menyimpannya saja sebagai rasa terima kasih. Sedangkan Pram memilih menyimpan fotokopian naskahnya saja,” ujarnya.
 
Hingga pada tahun 1998, ketika terjadi Reformasi dan kran kebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya, Oei Hiem Hwie memberanikan diri untuk menurunkan koleksi-koleksi bukunya dari loteng rumahnya, yang dulu diselamatkan oleh adiknya dari upaya pemusnahan yang terjadi pada saat itu. Koleksinya itu termasuk harian Trompet Masjarakat yang merupakan satu-satunya yang tersisa, sedang yang lain tidak terselamatkan. Kebiasaan mengkoleksi surat kabar dan kliping yang begitu banyak, dari tahun ke tahun, juga koleksi buku-bukunya, mendorongnya untuk membuka perpustakaan yang dinamakan ‘Perpustakaan Medayu Agung’, di Jalan Medayu, Surabaya. Ia juga mendapat bantuan dari berbagai pihak. Koleksi buku dan surat kabarnya terbilang cukup banyak dan beberapa diantaranya merupakan buku langka. Banyak pelajar yang membaca di perpustakaannya itu untuk menambah wawasan dan mencari sumber penelitian. Bahkan, ia juga mengkoleksi harian Surabaya Post sejak tahun 1983, ”Ini Surabaya Post tahun 1983 dan saya mempunyai semua edisinya sampai saat ini,” ujar Oei Hiem Hwie ketika menunjukkan sebuah bendel besar berisi harian Surabaya Post sejak tahun 1983.


* Tulisan ini pernah dimuat Surabaya Post, 02 Desember 2012

Kamis, 06 Desember 2012

Gregorius Soeharsojo Goenito (Alumnus Pulau Buru 1978)





BIODATA




Nama                                        : Gregorius Soeharsojo Goenito
Tempat / Tanggal / Lahir         : 10 Februari 1936, Madiun
Alamat                                      : Jl. Beringin Indah IV / 2A, Trosobo, Sidoarjo


Riwayat Pendidikan :

-          Sekolah Rakyat Taman Siswa, Madiun (setingkat SD)

-          Sekolah Rakyat Taman Dewasa, Madiun (setingkat SMP)

-          Sekolah Rakyat Taman Madya, Madiun (setingkat SMU)
-          AAPV (Akademi Administrasi Perusahaan Veteran), Surabaya


Karier :

-         1952 : Mengawali karier melukis di Sanggar Tunas Muda, Madiun dibawah bimbingan pelukis Sediyono, Soenindya dan Kartono

-          1963-1965 :Bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) di bawah pimpinan pelukis Roestamadji

-          1965 : Berproses melukis di Pulau Buru
-          1978 : Kembali ke Pulau Jawa, menetap di Surabaya
-          2005 : Melakukan Kegiatan Pameran Bersama Bunga Rampai Pelukis Lekra di Galeri Surabaya
-          2010 : Pameran Lukisan Tunggal Memoar Pulau Buru di Universitas Airlangga, Surabaya
-          2007 – sekarang : Sedang menyelesaikan proses penulisan buku ‘Tiada Jalan Bertabur Bunga’
 



Optimis, Berkaryalah dan Jangan Pernah Memanjakan Diri!

Sudah 76 tahun usianya, namun ia masih terlihat gagah. Tubuhnya yang kekar menyiratkan guratan-guratan masa muda yang dilaluinya dengan penuh perjuangan. Banyak kisah getir, kisah perpisahan, penjara, pengasingan dan banyak kisah lainnya hingga ia pernah berpikir bahwa ia tak akan kembali lagi ke Pulau Jawa, tempat asalnya. Dalam usia yang telah lanjut, mungkin sejarah kota ini akan mencatat bahwa ia merupakan satu-satunya pelukis yang merekam kejadian pengasingannya di Pulau Buru lewat sketsa dan lukisan. 
Dialah Gregorius Soeharsojo Goenito, pelukis yang sampai saat ini aktif berkarya.

Ketika saya bertandang ke rumahnya, dengan ramah ia mempersilahkan masuk. Kemudian, sejenak ia pergi ke dalam rumah dan datang kembali dengan mengangkat sendiri lukisan-lukisannya yang sebagian besar berukuran jumbo, sekitar 3-4 meter. “Saya masih kuat melakukan pekerjaan mengangkat barang berat seperti ini, Puji Tuhan saya sehat walafiat,” ujarnya.

Setelah puas melihat lukisan hasil rekam jejaknya ketika diasingkan di Pulau Buru, saya yang penasaran terhadap resep sehatnya, mulai bertanya. Ia menerangkan bahwa ia telah melalui berbagai macam pahit getir kehidupan, terlebih saat bertahun-tahun di Pulau Buru. “Saya menjadi terlatih dengan kondisi macam itu. Disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin dalam hal apapun dan tidak pernah memanjakan diri,” ujar Bapak empat anak itu. Dijelaskannya pula bahwa kesehariannya ia habiskan dengan berolahraga, bersepeda dan kerap berbelanja dengan berjalan kaki. “Sekalipun ada motor atau mobil, saya tidak mau menggunakannya. Itu sama saja dengan memanjakan diri. Saya memilih berjalan kaki atau bersepeda supaya sehat,” ujarnya.

Aktivitas yang dilakukan Gregorius Soeharsojopun bisa dibilang cukup banyak dibanding orang seusianya. Ia masih aktif melukis, bermain biola, menulis buku, menulis puisi dan berkebun. Saat ini ia sedang mempersiapkan buku berjudul ‘Tiada Jalan Bertabur Bunga’, yang dibantu oleh Janet.E.Steele, warga Amerika Serikat yang juga dosen Luar Biasa Universitas Indonesia. “Melukis, menulis, bernyanyi membawa kebahagiaan dan semangat hidup. Manusia yang hidupnya selalu bersemangat, gembira, damai dan senantiasa bersyukur akan memperoleh kesehatan yang berlimpah, apalagi jika ia terus berkarya,” ujarnya. Aktivitas berkebun juga setiap hari ia lakukan. Menyirami kembang dan menata tanaman di halaman rumahnya membuat estetika rumahnya benar-benar tampak sebagai rumah seorang seniman.

Untuk pola makan, ia menghindari makan makanan berlemak, berkadar gula dan teratur menjaga pola makan. “Disiplin pola makan juga harus dilakukan setiap hari. Tujuannya agar menjaga kesehatan tubuh,” ujarnya. “Selain itu hidup harus tetap optimis. Bila sedang dirundung masalah, berkaryalah, entah itu melukis, membuat lagu, puisi dan sebagainya. Berkarya juga dapat membuat orang menjadi optimis. Saya saja tidak kerasa bahwa umur saya sudah 76 tahun. Rasanya umur saya masih 30 tahun,” ujarnya sambil tertawa. Optimisme dalam hidup menurutnya sangat perlu, karena dapat menghilangkan segala beban pikiran.

Soeharsojo pada masa kecilnya dikenal sebagai anak seorang birokrat, pensiunan pegawai Belanda. Kehidupan keluarganya tercukupi, namun demikian, ia memilih bergaul dengan kehidupan rakyat yang menurutnya punya banyak kisah. Menurutnya, aktif  bersosialisasi dengan masyarakat membuat wawasan kita luas, serta membangun semangat kebersamaan. “Bersosialisasi juga merupakan salah satu pola hidup sehat. Kita dapat melakukan banyak aktivitas di dalamnya; yang penting harus terus beraktivitas, seperti kata saya tadi, jangan memanjakan diri,” ucap seniman yang telah merasakan kepemimpinan 6 presiden itu.



Pelukis Sejarah yang Terpotong

Soeharsojo muda ketika di Pulau Buru
Pada 1963 ia bergabung dengan Lekra. Menurutnya, pada saat bergabung, ia tak tahu-menahu tentang komunisme dan semacamnya. Niatnya hanya ingin berkesenian karena Lekra pada waktu itu adalah lembaga kesenian terkemuka yang didalamnya berisi pelukis dan seniman-seniman terkemuka. Meletusnya G 30 S/PKI membawanya berpetualang dari bui ke bui dan akhirnya ditempatkan dalam instalasi rehabilitasi dengan 12 ribu orang yang dianggap terlibat komunisme. “Waktu itu saya dibawa oleh orang-orang itu ke Pulau Buru, padahal sebenarnya saya tidak tahu menahu tentang komunisme dan politik. Waktu itu niat saya ikut Lekra adalah murni ingin berkesenian, bukan berpolitik,” ujarnya

Program instalasi rehabilitasi itu membawanya ke Pulau Buru. Sebuah pulau yang berdekatan dengan Maluku. Kenang Soeharsojo, Pulau Buru adalah tempat yang indah, dikelilingi pegunungan Batabual. Airnya bersih dan lingkungan masih terjaga. Akses masuk hanya satu, yakni melalui sungai Wayapo. “Tidak bisa jika tidak melalui wayapo, karena jalan lainnya dipenuhi pepohonan dengan akar-akar dan cabang-cabangnya yang besar,” kenangnya.

Selama di Pulau Buru, 12 ribu orang termasuk dirinya, selama bertahun-tahun bekerja melakukan pembangunan disana. Di waktu senggang, ia melukis sketsa tentang apa yang dilihatnya. Dari hasil bercocok tanam dan sebagainya ia mengambil hasil panen dan dibawanya ke komunitas suku Bugis yang ada disana untuk dibarternya dengan alat tulis dan buku gambar. “Dari sanalah saya bisa melakukan aktivitas membuat sketsa. Seluruh kegiatan saya di Pulau Buru saya rekam dalam sketsa-sketsa saya,” ujarnya.

Tampak, dalam sketsa-sketsanya kehidupan di Pulau Buru, seperti sketsa saat ia dan teman-temannya bekerja, sketsa kedatangan kapal yang memuat 500 tahanan politik, sketsa tentang masjid, gereja yang didirikan oleh pemuka-pemuka agama, sketsa tentang upacara bendera pada pagi hari, memanen hasil bercocok tanam serta sketsa tentang dua orang penduduk asli Pulau Buru yang menyunggi keranjang besar di kepalanya, dan salah satunya memegang tombak. “Waktu itu tak seorangpun berpikir untuk bisa pulang ke tanah asalnya,” ungkapnya sambil memperlihatkan sketsa berjudul ‘Jangan Pernah Berpikir Untuk Pulang’, yang memuat gambar-gambar para pekerja.

Pada tahun 1978, ia dan rekan-rekannya dipersilahkan untuk pulang ke tanah asalnya. Tahun itu pula Soeharsojo pulang ke tanah Jawa dan melanjutkan hidup. Ia juga tetap meneruskan aktivitas melukisnya itu dengan memindahkan gambar sketsa yang dilukisnya selama masa pengasingan ke dalam lukisan. “Ketika saya dan rekan-rekan Pulau Buru pulang ke Pulau Jawa, kami sudah dilabeli cap tapol yang pernah terlibat kegiatan PKI. Otomatis aktivitas saya menjadi terbatas. Ingin bekerja di pemerintahan juga sulit. Anak-anak saya juga otomatis sulit mencari kerja. Maka dari itu sepulang dari Pulau Buru, saya bekerja seadanya, asal bisa makan setiap hari dan bisa melukis,” kenang pria yang menjalani masa pengasingannya bersama novelis terkenal, Pramoedya Ananta Toer itu.

Pada 2005, ketika banyak sketsanya telah rampung menjadi lukisan, Soeharsojo mulai aktif berpameran. Telah banyak lukisan yang ia hasilkan. Kesemuanya bercerita tentang kehidupannya di Pulau Buru. Ia menerangkan pula bahwa dalam umurnya yang sudah lanjut, ia masih menyimpan cita-cita terpendam. “Saya ingin orang tahu bahwa lukisan saya bertemakan kemanusiaan, bercerita tentang sejarah yang terpotong, juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Soeharsojo selalu antusias saat bercerita tentang Pulau Buru. Menurutnya disana adalah pengalaman yang seru, indah sekaligus menyedihkan bila teringat sanak saudaranya di tempat asal. “Keadaan disana yang membuat saya tetap tegar, tetap optimis menjalani hidup, mendapat inspirasi lebih untuk berkarya, membuat saya tetap sehat dan tentunya awet muda,” ujar Pelukis yang karyanya mendapat perhatian luas dari kalangan masyarakat, utamanya akademisi, sejarahwan serta dosen luar biasa UI, Janet.E.Steele, warga Amerika Serikat yang tertarik untuk membantu menerbitkan bukunya yang masih dikerjakan hingga saat ini.

*Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post, 25 November 2012