Cari Blog Ini

Senin, 15 April 2013

Paulus Rizki: Tattoo Artist Surabaya



Nama                                       : Paulus Riski
Tempat Tanggal Lahir               : Surabaya, 03 Mei 1987
Alamat                                     : Jl. Ketintang Madya 2 no. 03, Surabaya
Nama Usaha                            : Victorya Ink
Alamat Usaha                           :
-          Jl. Belimbing 3/18, Kelapa Dua, Depok
-          Jl.  Ketintang Madya 2 no. 03, Surabaya
Berdiri Sejak                           : 2010
Riwayat Pekerjaan                  :
-          Graphic Designer di Orchid Indonesia magazine
-          Fashion Designer di Pochinko, Jakarta
Nama Ayah / Ibu        : Roedy Tjahjono, Veriany Victorya
Nama Saudara             :
Gloria Antonia, Johannes Agusta, Maria Adinda, Elisabeth Stephanie, Rebbeca Putri Ayu



Victorya Ink dan Serba-Serbi Tattoo

Jauh sebelum tattoo menjadi begitu populer di era modern, di Eropa maupun di Pulau Samoa, Selandia Baru pada berabad-abad yang lalu telah menggunakan tattoo demi kepentingan ritual maupun identitas. Kita tentu tahu sejarah perang salib yang melibatkan kekaisaran Byzantium di Eropa dan Kekaisaran Turk dari Turki yang keduanya memperebutkan teritorial kota Jerusalem yang dianggap suci. Konon, pasukan Eropa mentattoo lengannya dengan lukisan salib, sebagai penanda identitas mereka sebagai nasrani sekaligus sebagai penyemangat ketika berperang.

Seorang pelaut dan petualang dari Eropa, James Cook mengetahui seni tattoo ketika ia berkunjung ke Selandia Baru, tepatnya ketika menemui sekumpulan orang-orang dari suku Maori yang memakai tattoo di wajah maupun tubuhnya. Rupanya, tattoo bagi suku Maori adalah sesuatu yang sakral. Penggunaan tattoo merupakan simbol perjalanan hidup tiap individu suku Maori, yang juga menandakan bahwa seseorang telah memasuki masa remaja.

Dalam tekhnik menato, pasukan salib dari Eropa menggunakan pisau untuk membentuk gambar salib di tubuhnya; sedangkan suku Maori sendiri menggunakan pisau atau pahat yang terbuat dari tulang maupun cangkang kerang laut. Untuk pewarnaan, suku Maori menggunakan tinta yang terbuat dari bahan-bahan alam, seperti tumbuhan dan arang kayu.

Di jaman sekarang, fungsi tattoo sekaligus tekhniknya mengalami perkembangan pesat. Orang menato tubuhnya dengan berbagai macam motivasi dan keinginan. Bahkan, tattoo sendiri kini menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Kita pasti banyak menemukan usaha tattoo dengan manajemen bisnis yang tertata rapi hingga menjadi populer. Omzet usaha tattoo sendiri tidak bisa diremehkan.

Salah satu tattoo artist yang terkemuka di Jakarta maupun Surabaya, yang memanfaatkan lahan bisnis tattoo sebagai penambah pundi-pundi uang adalah Paulus Riski. Pria asal Surabaya yang memiliki bakat melukis dan desain sejak duduk di bangku sekolah itu membentuk bisnis tattoo, dan hingga sekarang ia memiliki dua buah tempat usaha tattoo, di Jakarta dan di Surabaya.

“Awalnya memang saya gemar melukis dan desain. Kemudian saya tertarik untuk menekuni ilmu tattoo. Tak dinyana, ketekunan saya berbuah hasil,” ujar anak kedua dari enam bersaudara itu. Memang, Paulus Riski sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai designer, namun ketika melihat omzet usaha mandirinya dalam bidang tattoo melonjak melebihi gajinya di perusahaan swasta tersebut, ia memilih untuk banting setir, keluar dari pekerjaan dan memilih untuk mandiri dengan membuka usaha tattoo sendiri.

Dikisahkannya bahwa ia mulai menekuni usaha tattoo sejak tahun 2010. “Awalnya saya memberanikan diri untuk mentato beberapa teman, dan mereka suka dengan desain saya. Maka dari mulut ke mulut, desain saya menjadi dikenal banyak orang,” tukasnya. Paulus Riski kemudian mendapat banyak pelanggan dan uang hasil pendapatannya ia gunakan untuk membuka usaha tattoo di Jakarta, tepatnya di Jl. Belimbing 3/18, Kelapa Dua, Depok. “Membludaknya pelanggan membuat saya membuka usaha tattoo dari omzet yang saya peroleh. Usaha itu lengkap dengan manajemen yang terstruktur. Jangan salah sangka, usaha tattoo itu terstruktur juga, lho. Ada karyawan bagian promosi, assisten tattoo artist dan sebagainya,” tambah pria 26 tahun itu.

Setelah sukses menjaring pelanggan dari mulut ke mulut, Paulus Riski juga mempopulerkan usahanya melalui internet, utamanya jejaring sosial. Para pelanggan tertarik pada usahanya, Victorya Ink selain kepada desainnya, ia juga kerap bergaul akrab dengan para pelanggannya, dan itupula yang menjadi resep suksesnya. “Tekun, semangat dan bersosialisasi dengan pelanggan yang memakai jasa kita adalah kunci yang bisa membuat kita sukses dan pelanggan tidak kecewa,” ujarnya.

Berbeda dengan makna pemakaian tattoo pada jaman dahulu di berbagai belahan dunia, di masa sekarang penggunaan tattoo lebih kepada ekspresi diri, monumental sekaligus perwakilan dari sisi-sisi religius seseorang. “Ada yang minta desain tertentu sebagai sarana ekspresi diri, ada yang mentattoo nama pacar, orangtua maupun orang yang telah meninggal di tubuhnya sebagai sarana agar terus dapat mengenang maupun mentattoo tubuh dengan simbol-simbol keagamaan tertentu sebagai perwakilan sisi religius,” ujar penggemar klub sepakbola Inter Milan itu.

Tekhnik mentattoo, menurut Paulus Riski, tidak berbeda dengan tekhnik melukis pada umumnya, yakni memperhatikan keutuhan desain seperti outline, pewarnaan, arsiran dan sebagainya. Sedangkan tekhnik menggambarnya dibutuhkan ketrampilan khusus karena berkaitan dengan penggunaan jarum pada tubuh manusia. “Dibutuhkan konsentrasi tinggi dan kemampuan yang mencukupi untuk bisa menjadi tattoo artist,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa ia mendalami ilmu tattoo selama 1 setengah tahun, mulai dari pengenalan mesin, sifat tinta pada pada tubuh manusia, serta karakter kulit seseorang.

Selama ini Paulus Riski mendapatkan banyak pelanggan dari berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Bali, Sumba dan sebagainya. Dalam Victoria Ink, menurut Paulus Riski, seorang pelanggan dapat mendatangkan tattoo artist secara langsung ke rumah pelanggan asalkan dengan harga yang cocok serta biaya transportasi sepenuhnya ditanggung oleh pelanggan. “Itu yang menyebabkan saya sering pulang pergi ke luar kota,” ujarnya.

Ketika usahanya telah memiliki omzet lumayan, Paulus Riski kembali ke kota asalnya, Surabaya dan membuka usaha di kota Pahlawan itu. “Di Jakarta, usaha saya telah saya serahkan kepada manajemen disana. Sayapun hanya mengawasi serta setiap akhir bulan datang ke Jakarta untuk mengurusi pelunasan gaji karyawan dan sebagainya. Saya ingin menjadikan Surabaya sebagai pusat dari Victorya Ink, karena pelanggan-pelanggan disini juga lumayan banyak dan saya juga bisa lebih dekat dengan keluarga di Surabaya,” tukas putra pasangan Roedy Tjahjono dan Veriany Victorya itu.

Hingga kini, omzet Victorya Ink, usaha milik Paulus Riski yang diambil dari nama Ibunya itu di masing-masing cabangnya, baik di Jakarta maupun Surabaya, keduanya menghasilkan omzet masing-masing Rp.12-13 juta perbulan.

Efek Pemakaian Tattoo Pada Tubuh Manusia

Dalam Victorya Ink, sebelum seorang pelanggan menato tubuhnya, maka oleh tattoo artist akan diberikan konseling bagi pelanggan itu. Seperti yang dilakukan Paulus Riski, menurutnya ia sangat ketat untuk memberikan konseling bagi para pelanggannya. “Untuk mentato tubuh dibutuhkan kemantapan hati seseorang karena tattoo sulit bisa dihilangkan. Maka dari itu saya selalu menanyakan berkali-kali kepada para pelanggan, ‘sudah siapkah anda?’, ‘tidak takut?’, ‘yakin mau bertattoo?’ Sebab di Indonesia ini mindset orang-orang terhadap orang bertattoo masih buruk, lho. Dan jika seseorang dihinggapi keraguan atau masih takut-takut, maka orang itu saya suruh pulang, sebab saya tidak mau kelak ia menyesal karena sudah bertattoo. Saya kan berdosa juga kalau orang itu menyesal” ungkap Paulus Riski.

Selain keraguan, Paulus Riski sebagai tattoo artist biasanya langsung menolak seorang pelanggan yang datang dan berada di bawah pengaruh alkohol atau narkoba. “Orang yang terkena alkohol atau narkoba otomatis akan terpompa jantungnya dengan cepat dan ketika ditattoo, darah yang keluar akan sangat banyak. Orang itu bisa pingsan, kolaps dan sebagainya,” ujarnya. Maka dari itu, di kalangan sesama tattoo artist terbentuk mindset bahwasanya seorang tattoo artist sejati akan menolak narkoba dan alkohol. 

“Sebenarnya tidak ada efek khusus bagi kulit ketika seseorang ditato selain tidak bisa dihilangkan. Hanya, efek tattoo yang buruk akan terlihat bilamana karakter kulit seseorang tidak menunjang, misal, karakter kulit yang mudah mengalami alergi dan semacamnya. Bila kulit tidak cocok dengan penggunaan tinta tattoo maupun jarum, maka akan mengalami efek samping setelahnya, seperti gatal, pedih dan di kemudian hari ketidakcocokan karakter kulit dengan tinta tattoo dan semacamnya bukan tidak mungkin akan menyebabkan kanker kulit. Itu yang saya tekankan pada saat konseling kepada pelanggan. ‘Yakinkah anda mau ditattoo?’ karena seorang tattoo artist bukan dokter. Kami tidak bisa mengenali karakter kulit pelanggan yang memiliki alergi, ketidakcocokan dan semacamnya,” ungkap Paulus Riski secara panjang lebar. 

Seseorang setelah ditattoo akan membutuhkan masa perawatan selama kurang lebih dua minggu. Dalam kurun waktu tersebut, seseorang setelah ditattoo tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak makanan yang mengandung protein seperti ayam, ikan dan telur karena bisa berdampak buruk bagi proses penyembuhan luka. “Selain itu saya menolak pelanggan yang memiliki riwayat penyakit gula. Penyakit gula akan sangat berdampak buruk bagi pengguna tattoo,” ungkapnya.

Begitupula dengan pemakaian jarum dan perangkat tattoo pada Victorya Ink milik Paulus Riski, ia mengatakan bahwa dalam Victorya Ink, semua alatnya steril dan bersih. “Penggunaan jarum hanya sekali, setelah itu dibuang. Bahkan, mesin dan kabel alat pentato dibungkus dengan plastik steril,” ujarnya.

Tattoo dan Mindset Masyarakat

Di berbagai belahan dunia, tattoo dianggap seni dan bahkan menjadi budaya tersendiri, sebagai sarana ekspresi seni. Bagaimana dengan mindset orang Indonesia terhadap orang bertattoo? “Beberapa individu dalam masyarakat masih menganggap orang bertattoo sebagai preman, pelaku kriminal dan semacamnya. Padahal tabiat serta intelegensi seseorang tidak dapat dipengaruhi oleh tattoo yang terlukis di tubuhnya. 

Walaupun sebagian besar pemikiran masyarakat masih memandang negatif terhadap orang bertattoo, namun perlahan-lahan mindset mereka berubah seiring popularitas seni tattoo yang mendunia. “Ya sisi baiknya, masyarakat kini mulai menganggap bahwa tattoo adalah sebuah karya seni,” ujar pengusaha muda yang pernah bekerja sebagai graphic designer itu.

Bagaimana pendapat orangtua Paulus Riski ketika mendapati anaknya bertattoo? “Awalnya sih mereka tidak setuju. Namun seiring perkembangan waktu, saya berusaha meyakinkan mereka dan kini merekapun mau menerima. Apalagi mereka menilai profesi saya sebagai tattoo artist dan usaha tattoo saya bisa membuat saya mandiri, tanpa harus menggantungkan hidup pada orangtua maupun bekerja ikut orang lain,” pungkasnya.

Sabtu, 06 April 2013

Musang Lovers Indonesia Chp. Surabaya: Komunitas Pecinta Musang di Surabaya


Dari yang berbobot 40 kg, sampai harga Rp 40 juta

Musang atau yang dikenal sebagai Luwak jarang sekali menjadi hewan peliharaan. Karena kalah pamor dengan kucing ataupun anjing. Tapi jangan salah hewan dengan nama latin Paradoxurus hermaphroditus, bisa menembus harga Rp 40 juta lebih dari salah satu jenisnya. Tak hanya harga yang bisa melonjak tinggi, hewan yang terkenal rakus ini juga bisa mencapai bobot sampai 40 kilogram.

Sebagai pecinta hewan musang, Komunitas Musang Lovers Indonesia regional Surabaya ini ingin sekali mensosialisasikan hewan yang tergolong nokturnal. Apalagi sangat banyak sekali jenis musang yang ada di Indonesia. Ada jenis musang pandan, musang bulan, musang garangan, musang rase, musang binturong, maupun musang albino. Dari sekian banyak jenis musang tersebut ada yang menyita perhatian yakni jenis musang albino. Jenis musang yang bermata merah ini memang memiliki kelainan genetika atau cacat gen pada musang tersebut. Tak heran jika musang jenis ini amat langka dan harganya dikalangan musang lovers bisa mencapai Rp 40 juta bahkan lebih.

Selain jenis musang albino, musang bulan juga menyita perhatian karena kelangkaan di habitatnya. Hewan asli Bali, Sumatera, dan Kalimantan ini bisa mencapai bobot 20 kg bahkan lebih. Anggota Komunitas Musang Lovers Indonesia regional Surabaya memiliki hewan jenis ini dengan bobot mencapai 15 kg. sampai pernah ditawar dengan harga Rp30 juta lebih. Keunikan musang yang berwarna coklat dengan wajah mirip beruang ini memang bisa mencapai berat seukuran bayi manusia.

“Pernah saat saya membawa hewan ini ada yang berani menawar tinggi, karena saya masih sayang hewan ini saya tidak akan menjualnya. Karena merawatnya sampai jinak seperti ini butuh waktu dan perawatan ektra,” jelas Steven Kho (Anggota MLI regional Surabaya)

Kelangkaan lain juga ada pada musang jenis binturong, hewan endemic asal Sumatra ini bisa mencapai 40 kg. Sampai-sampai pihak kehutanan dan badan konservasi sumber daya alam melarang menangkap maupun memelihara hewan musang jenis ini. Karena jumlah dihabitatnya cenderung menurun. Memang kebanyakan orang mengira hewan ini merupakan hama, maupun hewan yang sering memakan ayam milik warga.

Kemudian musang garangan yang berwarna cenderung coklat bertubuh kecil nan panjang. Kebanyakan hewan jenis ini lebih memilih tempat semak belukar untuk bertahan hidup. Mirip dengan garangan, musang rase memiliki badan agak tinggi dan moncong agak pendek sekilas mirip musang pandan yang berwarna coklat memiliki bintik ditubuhnya.

Setiap musang memang memiliki porsi makan yang rakus. Apalagi jenis musang bulan dan binturong yang cenderung memiliki lambung yang besar. Tetapi Komunitas MLI regional Surabaya memiliki trik khusus memilih makanan untuk hewan kesayangannya. Agar pop yang dihasilkan tidak berbau diberikan melon ataupun pisang. Kalau diberi papaya pasti pop yang dihasilkan berbau tidak sedap. Untuk perawatan yang lebih juga bisa diberi bubur bayi untuk menambah kesehatan tubuh si musang.
Hewan yang tergolong arboreal yang menghabiskan waktunya diatas pohon ini juga bisa menjadi hewan kesayangan yang jinak. Dengan perawatan yang baik bisa merubah hewan liar ini menjadi hewan yang tak kalah dengan kusing maupun anjing.

Sekedar informasi, setiap jenis musang ataupun luwak bisa menghasilkan kopi terbaik. Yang sampai saat ini harga kopi paling mahal dan paling nikmat di dunia bisa mencapai Rp 1,5 juta per kilogramnya. Namun, dari sekian jenis musang tersebut lebih dipilih tingkat output yang dikeluarkan lebih banyak. Malahan di Lampung pemroduksi kopi luwak lebih memilih musang bulan untuk menghasilkan kopi terbaik.

Sejarah MLI regional Surabaya

Musang Lovers Indonesia regional Surabaya terbentuk pada bulan Februari 2012. Dibentuknya komunitas ini atas dasar karena banyaknya pecinta musang di seluruh Inonesia yang hampir 1000 orang lebih. Agar mereka lebih terwadahi dan mengenal lebih dekat hewan omnivora ini.

Komunitas MLI regional Surabaya sampai saat ini memiliki anggota sebanyak 30 orang. Tidak hanya dari Surabaya saja, anggotanya pun dari Sidoarjo, Gresik, Lamongan, bahkan Malang. Untuk lebih mendapat pengetahuan tentang hewan ini para anggota sepakat pada setiap minggu pertama, kedua, dan ketiga berkumpul di taman bibit pada setiap minggunya. Pada minggu keempat para anggota akan berpindah di sekitaran taman bungkul.

Untuk menjadi anggota Musang Lovers sangatlah mudah, meskipun tidak memiliki hewan nocturnal ini.  Para calon anggota bisa saling sharing dan mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan komunitas. Selain itu kita juga mengarahkan para calon anggota untuk cocoknya memelihara musang jenis apa. Agar hewan yang cenderung liar ini bisa jinak ada trik-trik khusus.

Banyak sekali kegiatan yang dilakukan para anggota dari mulai sharing kesehatan atau perawatan. Juga mengadakan gatering yang mendatangkan Dokter hewan maupun zookeeper. ”Selain sharing dengan anggota kita juga memilih mendatangkan para pakar kesehatan untuk hewan. Agar setiap anggota memiliki pengetahuan lebih untuk merawat dan melakukan pembiakan untuk hewan ini,” jelas  Sela Erfansyah (Ketua/Koordinator MLI regional Surabaya)

Kebanyakan para anggota komunitas berprofesi sebagai karyawan, juga pengusaha, frelance, pelajar SD, SMP, SMA, Mahasiswa, maupun usia 50 tahun lebih.  

Untuk merawat hewan ini lebih gampang dari pada anjing maupun kucing. Karena hewan yang tergolong liar ini memiliki fisik yang kuat. “Pernah ketika 1 biusan untuk hewan dengan dosis yang sama diberikan pada anjing dan musang. Ternyata anjing lebih dulu terpengaruh bius dari pada musang. Karena musang ini memang memiliki naluri liar yang sangat cocok di kehidupan liarnya,” jelas Baskoro Widyanto (Anggota MLI regional Surabaya)

Perawatan tidak terlalu sulit, hanya mandi diberikan seminggu sekali. Begitu juga makan makan dan minum cukup pagi dan malam hari. Kalau ingin perawatan lebih setiap beberapa bulan sekali lakukan cek up ke dokter hewan. Musang yang tergolong baby dengan usai 2-3 bulan lebih itensif untuk perawatan. Tambahan suplemen juga sangat diperlukan untuk menambah nafsu makan ataupun daya tahan tubuhnya

Selain gatering sebagai tempat curhatnya para pecinta musang, para anggota juga berusaha untuk mengawinkan maupun breeding. Tujuannya untuk mengurangi tangkapan di alam liar yang hampir 90% mereka pelihara. Namun, untuk mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat terkadang ada saja kendalanya. Tetapi bagi para anggota Musang Lovers tugas ini harus dituntaskan untuk menyeimbangkan populasinya di hutan.

Komentar

 
Sela Erfansyah (Ketua/Koordinator MLI regional Surabaya)

Semoga kita bisa melakukan breeding dan kegiatan melepas musang ini kehabitatnya sehingga musang-musang yang langka tidak akan punah.

 



Benny Kristanto (Wakil Ketua MLI regional Surabaya)
“Mengedukasi dan mensosialisasi bahwa hewan ini bukanlah hama yang pantas dibunuh maupun dimakan. Meskipun liar hewan ini bisa menjadi hewan kesayangan yang tak kalah dengan hewan lain,”




Baskoro Widyanto (Anggota MLI regional Surabaya)
“Perawatan setiap jenis musang ini sama, tetapi perlu diperhatikan tingkat usis dari setiap musang. Karena memang musang merupakan pemakan segala cenderung liar,”




 Steven Kho (Anggota MLI regional Surabaya)
“Jenis musang bulan ini memiliki tingkat makan yang tinggi karena memang lambung mereka memiliki tingkat yang lebih. Meskipun langka kita juga harus memperhatikan kelangsungan hidup hewan ini,”




 
 Kontributor tulisan : Nur Fadjruddin, wartawan Surabaya Post
Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post







Jumat, 05 April 2013

Ekskul Tari SMPN 22 Surabaya : Dapuda Dance School





Nama Ekskul                           : Dapuda  Dance School
Jenis Ekskul                            : Seni Tari
Sekolah                                   : SMPN 22 Surabaya
Pembina                                  : Suyitno, Riries Damayanti
Ketua Ekskul                          : Itdihar Nur Adibah
Jumlah Peserta                        : 35 orang
Prestasi                                    :
2011 :
-          Juara I Parade Tari Nusantara tingkat nasional di Jakarta
-          Juara I yel-yel DBL
-          Juara II Cak dan Ning Cilik tingkat Surabaya
-          Juara I lomba tari tradisional di SMKN 9 Surabaya
2012 :
-          Pertukaran Pelajar Seni Jepang-Indonesia
-          Juara I lomba tari tradisional di THR Surabaya
-          Juara III lomba boyband dan koreografi se-Jawa Timur




Meraih Prestasi dan Mencipta Karya Lewat Tari

Sendratari Sawunggaling. Ya, kisah tentang Sawunggaling, pahlawan asal Surabaya yang dengan gigih melawan kompeni Belanda itu dipentaskan secara anggun dalam bentuk sebuah tarian. Dengan gemulai selendang dipermainkan oleh penari, menyelip diantara jemari-jemari dan sesekali terlihat berkibar seakan penari adalah mahluk bersayap yang sedang menikmati perjalanan menyusuri awan.

Selendang itu adalah simbol dari selendang Cinde Puspita titipan ibu kandungnya yang dibawa Sawunggaling kepada ayahnya, adipati Jayengrana. Berkat selendang itu Jayengrana percaya bahwa Sawunggaling adalah benar-benar anak kandungnya. Sosok yang dalam perjalanan kisahnya itu diceritakan berhasil membunuh Jenderal De Boor, jenderal militer Belanda di Surabaya itu dipentaskan secara apik oleh Itdihar Nur Adibah, seorang siswa SMPN 22.

Itulah tarian yang mengantar Adiba menjadi juara I parade seni Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta. Saat itu ia berhasil mengalahkan para pesaingnya yang berasal dari berbagai latar belakang tingkat akademis dan dari berbagai daerah. Sedangkan Adibah sendiri saat itu masih kelas VIII SMP.
Pada saat perlombaan, seusai Adibah tampil membawakan sendratari Sawunggaling, penampilannya itu mendapat applause paling meriah dari para juri dan penonton. Alhasil, saat pengumuman disampaikan, Adibah mendapat juara I Parade Seni Tari Nusantara tingkat nasional, mengalahkan pesaing-pesaingnya yang kebanyakan telah duduk di bangku SMA, bahkan kuliah.

 “Sebelum lomba, selama satu bulan penuh saya ditatar oleh para pengajar saya di ekskul Dapuda Dance School,” ujar Adibah. Apa itu Dapuda Dance School? Rupanya, di balik kesuksesan Adibah dalam meraih prestasi tak lepas dari peran Dapuda Dance School yang telah mendidiknya secara disiplin dan fokus. Dapuda Dance School adalah salah satu ekstra kurikuler yang ada dalam SMPN 22 Surabaya yang kerap mengantar anak didiknya meraih prestasi.

“Dulu Adiba merupakan salah satu siswa yang terpilih untuk mewakili Jawa Timur dalam Parade Seni Nusantara tingkat nasional. Setelah terpilih, tentu kami melakukan pelatihan intensif selama 1 bulan supaya dia bisa maksimal, dan ternyata terbukti, Adiba meraih juara I tingkat nasional,” ujar Suyitno, pengajar ekstra kurikuler seni tari Dapuda Dance School.

Sebagai ekstra kurikuler seni tari yang ada di SMPN 22 yang juga memiliki segudang prestasi, Dapuda Dance School berhasil menjaring siswa untuk terlibat di dalamnya. Hingga saat ini Dapuda Dance School memiliki jumlah peminat sebanyak 35 orang. Ditanya mengenai pilihan, salah satu peserta ekskul Dapuda Dance School, Aprilia Rahmasari menerangkan bahwa konsep yang digunakan oleh Dapuda Dance School dalam melakukan pengajaran sangatlah menarik dan kreatif. “Inovasi para pengajar dan cara mengajarnya itulah yang membuat siswa jadi enjoy dan bersemangat. Itulah sebabnya kami selalu berprestasi,” ujarnya.

Dikatakan inovatif sebab Dapuda Dance School adalah ekskul yang berbeda dengan ekskul sejenis di Surabaya. Dalam Dapuda Dance School diajarkan dua bentuk tarian, yakni tradisional maupun modern. Merekapun memiliki inovasi menciptakan sebuah tarian kontemporer, perpaduan dari keduanya. “Kalau di sekolah lain yang ada ekskul dance dibagi dua, yakni tradisional dan tari modern. Sedangkan di ekskul kami, keduanya diajarkan,” ujar Annisa Irma, salah satu peserta ekstra kurikuler Dapuda Dance School.

Bagaimana prosentase porsi pengajaran tari tradisional dan tari modern yang diajarkan oleh Dapuda Dance School kepada anak didiknya? “50:50. Porsinya sama. Siswa selain mampu menguasai seni tari modern,  juga harus mengetahui seni tari tradisi. Tujuannya, siswa menguasai seni tari modern agar dapat mengikuti perkembangan zaman, sedangkan tari tradisional, siswa dituntut memiliki kepedulian terhadap usaha melestarikan budaya Indonesia, khususnya seni tari,” ujar Suyitno.

Dalam setiap latihan, Dapuda Dance School membagi waktu ekskulnya selama 2 jam: 15 menit pertama para siswa berlatih modern dance, 15 menit berikutnya para siswa berlatih tari tradisional, begitu seterusnya hingga ekstra kurikuler selesai. Mereka aktif berlatih rutin seminggu sekali dan jika ada even perlombaan dan sebagainya, mereka otomatis menambah jadwal latihan.

Ditanya mengenai tahapan-tahapan berlatih seni tari, mereka memaparkan bahwa awalnya mereka melakukan pemanasan fisik, kemudian dilatih untuk mengenal gerakan-gerakan dasar tarian, formasi dan penghayatan terhadap tarian dan lagu. “Setelah semua selesai, barulah menyelaraskan gerak tarian dan musik,” papar Hafara Ulufan Nuri, salah satu peserta  Dapuda Dance School SMPN 22 Surabaya.

Jenis-jenis tarian yang diajarkan dalam ekskul Dapuda Dance School dalam jenis tari tradisional meliputi tari Jejer, tari Labas, tari Banjar Kemuning, remo dan sebagainya. Sedangkan jenis tarian modern, mereka diajari untuk berlatih tarian hip-hop. 

“Ada tarian yang dibawakan secara grup, adapula yang perseorangan. Grup, jika tari tradisi, misalnya tari Lenggang Putri, membutuhkan ubarampe atau perlengkapan tarian seperti kipas, payung dan gongseng (gelang bergemerincing yang dipasang di kaki). Sedangkan musiknya adalah musik perkusi. Para pengajar yang membuat musiknya,” terang Novarinda Fanny,  peserta yang lain.

Tari Remo menurut para siswa adalah salah satu jenis tarian yang paling susah untuk dibawakan. Mengapa? Karena penari remo dituntut menunjukkan kelenturan tangan, mengikuti tempo musik dengan pas, ekspresi juga keharusan untuk tampil gagah seperti laki-laki sekalipun yang membawakannya adalah penari perempuan. “Itulah yang membuat tari remo cukup sulit untuk dipelajari. Tapi kami tetap antusias karena remo memiliki tantangan tersendiri,” ujar Rhesa Mileniasari, salah satu peserta ekskul Dapuda Dance School.

Antusiasme siswa yang cukup tinggi, diimbangi dengan kemampuan para pengajar, yakni Suyitno dan Riries Damayanti dalam membina anak-anak didiknya membuat daya tangkap siswa semakin terasah. Selain itu para siswa juga diasah memiliki kepedulian terhadap eksistensi seni tari, baik modern, terlebih tradisional. Prestasi yang seimbang dengan kepedulian menjaga kebudayaan itu merupakan bentuk kepedulian siswa terhadap keutuhan bangsa dan negara. 


Seniman Jepang pun Kagumi ‘Pesona Khatulistiwa’  

Para penari terlihat membentuk formasi. Mereka berdiri sejajar, sesekali saling membelakangi, kemudian membentuk komposisi pementasan yang anggun. Mereka membentuk sebuah tarian dengan kelenturan khas tarian tradisional. Beberapa saat kemudian mereka melakukan gerakan-gerakan khas tarian modern yang keduanya membentuk perpaduan yang unik.

“Kesenian dari waktu ke waktu semakin berkembang. Begitupula seni tari. Dapuda Dance School memadukan kedua jenis tarian dari dua zaman yang berbeda dan keduanya diolah hingga tercipta tarian kreasi baru yang kami beri nama ‘Pesona Khatulistiwa’,” ujar Suyitno.

Pesona Khatulistiwa adalah sebuah karya seni tari yang merupakan hasil dari inovasi Dapuda Dance School. Dalam tarian itu digambarkan wujud negara khatulistiwa, Indonesia, yang memiliki keragaman budaya dan keindahan alamnya. Karya yang merupakan kreasi mereka itu kerap dipentaskan pada acara-acara baik di dalam maupun di luar sekolah.

“Tari kreasi kami itu mengundang perhatian dari instansi pendidikan SJS (Sekolah Jepang Surabaya). Beberapa siswa dan pengajarnya, termasuk para pemerhati kesenian dari Jepang tertarik dengan tarian kami dan menawarkan melakukan pertukaran pelajar seni antara Indonesia-Jepang,” ujar Adibah. 

Berkat ketertarikannya, para peserta ekskul Dapuda Dance Schoolpun menyetujui tawaran itu dan dilakukanlah ajang pertukaran pelajar seni yang berlangsung dari tahun 2011 hingga sekarang.
Dalam perkembangannya, Dapuda Dance School selain kerap diundang tampil di SJS, mereka juga sering tampil dalam even-even kesenian di Surabaya maupun di kota-kota di Jawa Timur. Merekapun kerap melakukan pementasan di sekolah dan tidak lupa membawakan tari kreasi mereka yang konon mereka ciptakan dalam kurun waktu kurang lebih selama 10 bulan.
Wujud kreatif dan inovatifnya para generasi muda yang semakin mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan masa lalu sebagai warisan adiluhung dari para nenek moyang.



Komentar

 


Suyitno, pengajar ekskul
“Selama mengajar di SMPN 22, saya sangat senang dikarenakan daya tangkap anak-anak sekaligus minatnya cukup tinggi dalam melakukan olah seni tari”




 


Itdihar Nur Adibah, ketua ekskul
“Selama menjadi kapten ekskul, saya bangga dengan kekompakan semua peserta ekskul yang semakin hari semakin bagus. Mereka memiliki minat dan bakat yang bagus dan mampu menjaga solidaritas sesama penari”





 



Aprilia Rahmasari, peserta ekskul
“Konsep yang diberikan para pengajar di ekskul ini selalu menarik dan kreatif sehingga kami tidak pernah bosan untuk berlatih”





 


Annisa Irma, peserta ekskul
“Suasana dan sistem mengajar dalam ekskul ini sangat asyik, menarik, kocak dan seru. Kami tidak pernah merasa jenuh, terlebih para pengajarnya selalu membuat suasana have fun”



 



Hafana Ulufan Nuri, peserta ekskul
“Gerakan dalam tarian yang kami pelajari dalam ekskul ini diantaranya unik dan rumit. Namun kami menyebutnya sebagai tantangan dan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik”








Novarinda Vanny K.P, peserta ekskul
“Dalam ekskul ini kami dapat mengasah bakat, mendapat pengalaman serta teman baru. Kami selalu kompak dan membina kebersamaan kami dalam ekskul ini”



 




Rhesa Mileniasari, peserta ekskul
“Ekskul ini membuat kami dapat mengasah bakat dan mendapatkan banyak pengalaman”