Cari Blog Ini

Jumat, 22 Juni 2018

Kiprah Ikatan Alumni Wirausaha Muda Mandiri (Ika WMM)


Ciptakan Kemandirian pada Sesama

Ikatan Alumni Wirausaha Muda Mandiri (Ika WMM) tidak sekadar menjadi seorang pengusaha untuk dirinya sendiri. Melainkan berani mengajak orang yang dianggap diasingkan seperti penderita ODA (Orang Dengan AIDS), mantan pengguna narkoba, dan lain-lain.  Para pengusaha muda ini tidak hanya memperkaya dirinya sendiri tetapi berusaha menciptakan iklim usaha di wilayah Jawa Timur khususnya dan Indonesia.

Banyak sekali kegiatan yang dilakukan Ika WMM ini seperti, gathering, senergy coaching, ataupun untuk membantu para mantan-mantan pengguna narkoba ataupun penderita AIDS.

Yang menarik dari Ika WMM ini yakni berani untuk membantu para penderita ODA maupun mantan pengguna narkoba untuk berwirausaha. Padahal banyak sekali pandangan negatif masyarakat kepada orang-orang ini. Hal tersebutlah yang ingin disosialisasikan kepada masyarakat bahwa mereka juga memiliki hak yang sama untuk hidup, dihargai, dan dipandang layaknya masyarakat normal. Tak selamanya mereka harus berjuang sendiri dikerasnya kehidupan bermasyarakat. Bukan berarti mereka dikucilkan, malah harus diberi semangat agar mereka bisa hidup mandiri dan normal.

Dengan menciptakan kemandirian pada kalangan penderita ODA maupun mantan penggunan narkoba. Para Ika WMM yang beranggotakan pengusaha-pengusaha muda, selalu memberikan pelatihan dan memberikan bantuan dana untuk mereka yang di nilai kurang beruntung. Agar mereka bisa hidup mandiri dan bisa menjadi pengusaha seperti para anggota Ika WMM.

”Memang cukup sulit untuk mengedukasi maupun mensosialisasikan para masyarakat untuk ikut serta membantu mereka. Karena image negatif kepada mereka sudah terlanjur melekat. Hanya dengan kemandirian mereka bisa hidup dengan normal selayaknya masyarakat lainnya. Mereka diberi pelatihan dan modal agar mereka bisa mandiri. Sudah penderita ODA maupun mantan pengguna narkoba yang hidup mandiri dengan pembelajaran yang kami berikan. Mereka sudah bisa membuka kedai kopi, membuka toko kue, menjadi agen rokok, dan lain-lain,” jelas Fajar Sandi Oktiono Ketua Ika WMM

Selain peduli kepada sesama, para anggota Ika WMM ini juga melakukan sinergy coaching. Tujuannya untuk saling melengkapi kekurangan maupun kendala pada setiap anggota. ” Sinergy coaching ini contohnya seperti salah satu pengusaha memberikan pelatihan kepada pengusaha lain yang menjadi anggota. Pelatihan ini bisa ditujukan kepada karyawan dari masing-masing pelaku usaha. Jadi mereka yang tergabung dalam Ika WMM bisa saling mengisi kekurangan baik dalam management, sdm, maupun pengadaan produk,” jelas Fauzan T. Hananto Humas Ika WMM

Hal ini akan lebih mempermudah setiap anggota untuk lebih menutupi kekurangan masing-masing setiap bisnis. Kegiatan sinergy coaching ini akan lebih memudahkan para pengusaha muda untuk saling sharing maupun saling menutupi setiap kendala yang dihadapi. Memang tujuan dari Ika WMM sendiri yakni dapat melebarkan sayap untuk menjadi company yang besar bukan menjadi home industri saja. 



Sejarah Terbentuk

Terbentuknya Ika WMM ini berawal dari salah satu Bank Negara yang memiliki tujuan untuk mengembangkan sikap entrepreneur untuk kalangan anak muda. Karena melihat di Indonesia iklim dunia usaha semakin berkembang pesat. Namun, kalangan muda ataupun pengusaha muda belum banyak tertarik untuk menggeluti sebuah bisnis. Dari sinilah Bank tersebut mulai mengadakan kompetisi untuk menjaring entrepreneur muda untuk berkarya dan melakukan usaha inovatif.

Dari mulai dibentuk sejak tahun 2008, banyak sekali pengusaha muda usia antara 20 sampai 35 tahun mengikuti kegiatan ini. sekaligus mencetak banyak sekali finalis-finalis dari berbagai kategori. Setiap pengusaha muda dikategorikan masing-masing kelompok seperti kategori boga, kategori perdagangan atau jasa, kategori retail, maupun kategori industri kreatif.  Dalam setiap kategori akan dipertandingkan dan dinilai juri siapa-siapa yang akan mendapatkan uang pembinaan.

”Pengkategorian oleh juri memang untuk mempermudah penilaian, sekaligus melihat perkembangan bisnis yang dijalankan oleh mereka para pengusaha. Hal ini akan lebih mudah untuk melakukan pelatihan maupun strategi usaha yang dijalankan,” jelas Arif Pemenang Kabid Program Ika WMM

Ika WMM sendiri beranggotakan 200 orang lebih sejak tahun 2008. Anggota sendiri merupakan alumni dari finalis-finalis yang mengikuti kompetisi. Dengan tujuan agar setelah kompetisi tidak begitu saja menghilang, dibentuklah Ika WMM ini agar mereka para pengusaha muda dapat menjalin hubungan baik antar anggota. Banyak sekali keuntungan yang didapat setelah bergabung dengan perkumpulan ini. Para anggota dapat sharing bersama, dan mengadakan pelatihan secara bersama. Jalinan relasipun semakin luas.

Anggota Ika WMM sendiri kebanyakan dari daerah Jawa Timur seperti Kediri, Nganjuk, Malang, Lamongan, Bojonegoro, Sidoarjo, Mojokerto, maupun kota-kota lainnya. Kebanyakan 70% anggotanya laki-laki dan selebihnya perempuan. Jiwa-jiwa muda ini dibentuk untuk menjadi entrepreneur handal agar mereka bisa memiliki usaha yang nantinya bisa menjadi company besar. Sekaligus membuat lapangan pekerjaan baru.

Untuk mempermudah kepengurusan Ika WMM menunjuk salah satu anggota untuk mengisi kepengurusan. Seperti adanya ketua, wakil, sekretaris, bendahara, humas, maupun lainnya. Gunanya untuk lebih mempermudah setiap kegiatan yang sampai saat ini terus terselenggara. Begitu juga yang dilakukan oleh pemrakarsa kompetisi sampai tahun 2012 ini pun masih mencari pengusaha muda untuk ditempa menjadi seorang entreprenuer handal.

Selain itu anggota Ika WMM ini kebanyakan mereka dengan membawa usaha yang unik dan inovatif. Sekaligus tidak main-main dalam urusan omzet setiap usahanyanya. Hampir rata-rata para pengusaha yang menjadi anggota Ika WMM memiliki omzet ratusan juta setiap bulannya bahkan ada yang lebih. Untuk mengikuti kompetisi sendiri cukup sulit untuk menjadi finalis harus menyingkirkan lebih dari 2000 orang pengusaha muda yang mendaftar untuk mengikuti kompetisi yang diselenggarakan salah satu bank negara ini. 

by: Nur Fajruddin
*tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post.

Jumat, 15 Juni 2018

Simfoni Doa di Langit Balun : Harmoni dan Sejarah Desa Pancasila




Angin berdesir melewati dedaunan padi yang mulai tampak menguning. Suara-suara cangkul membentur tanah. Tawa dan canda para petani mengiringi keseharian masyarakat di sebuah desa yang terbentuk dari keberagaman.
Jalan setapak beraspal harus dilalui untuk masuk ke dalam desa tersebut. Sungguh harus berhati-hati karena walaupun beraspal, lubang disana-sini cukup dalam; bila kurang waspada, pengendara motor bisa tergelincir. 
Jalan yang berlubang cukup parah tersebut berbanding terbalik dengan kondisi hubungan sosial di desa yang nyaris mulus tanpa cela. Dalam beberapa tahun terakhir bahkan tak sekalipun muncul masalah yang berpotensi membuat benturan antar personal ataupun antar komunitas dalam kehidupan masyarakat desa. Harmoni dalam keberagaman. Itulah wajah Desa Balun yang biasa disebut Desa Pancasila. Balun dapat dikatakan sebagai miniatur Indonesia yang bisa menjadi bukti bahwa kehidupan bermasyarakat dalam naungan ideologi luhur Pancasila bukan sekedar utopia.

Balun adalah sebuah desa di tepian kota Lamongan. Kondisi tanah yang subur untuk bercocok-tanam menjadikan masyarakat Balun tumbuh dengan budaya komunal yang lekat dengan semangat gotong-royong dan guyub-rukun dalam kesehariannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya tiga komunitas pemeluk agama di desa tersebut, yakni masyarakat pemeluk Islam sebagai mayoritas, kemudian pemeluk Kristen dan Hindu.
Di Balun pula terdapat tiga rumah ibadah yang cukup besar dan saling berdampingan. Masjid Miftahul Huda berdiri megah disamping Pura Sweta Maha Suci; tepat di depan, berdirilah Gereja Kristen Jawi Wetan.
Sekalipun hidup dalam masyarakat yang berbeda keimanan, mereka dipersatukan dalam satu cawan kehidupan sosial. Sisi kemanusiaan terbangun dari kultur sosial masyarakat desa Balun yang semakin menegaskan bahwa wilayah transenden adalah ruang pribadi masing-masing. Ramah, saling menyapa, saling membantu adalah kebiasaan sehari-hari tanpa memandang perbedaan.

Bagaimana toleransi di Balun dapat terbentuk? Rupanya sejarah panjang, bahkan diantaranya kelam, telah mewarnai lika-liku perjalanan menuju terciptanya keharmonisan di desa Pancasila. 

Bermula dari peristiwa berdarah di tahun 1965. Balun adalah sebuah daerah yang pada tahun tersebut terkena imbas peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober/G30S) dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit.

"Tahun 1965 tidak lama setelah Gestok, masyarakat Balun hidup dalam ketakutan. Bagaimana tidak, seluruh perangkat desa diciduk hingga akhirnya desa ini menjadi desa komplang, desa tanpa ada aparat pemerintahan," ungkap Mbah Jamal, sesepuh Balun yang juga salah satu warga pemeluk Hindu.

Pembunuhan, pembantaian terjadi di Balun. Siapa saja yang terlibat dalam PKI dapat dipastikan akan kehilangan nyawa. Semua berlangsung dengan penuh ketegangan dan rasa was-was.

"Hingga akhirnya datang seorang tentara bernama Pak Bati. Beliau ini anggota Angkatan Darat, putra asli Balun yang kebetulan pulang ke kampung halaman setelah beberapa tahun berdinas di Papua. Beliau inilah yang memberikan rasa aman dan memelopori semangat toleransi antar umat beragama di desa Balun," kata Mbah Jamal.

Kakek tua berusia hampir 90 tahun itu mengisahkan bahwa kedatangan Pak Bathi ke kampung halamannya waktu itu akhirnya membawa suasana kondusif.

"Pak Bati berbicara kepada orang-orang yang datang menggeruduk desa Balun karena kasus Gestok. Beliau menjamin bahwa Balun telah aman dan bersih dari anasir PKI. Bahkan beliau memberi peringatan kepada kelompok-kelompok itu, bila masih tidak percaya dan nekad datang kembali untuk membuat kekacauan, maka Pak Bati akan mengerahkan kawan-kawan tentaranya satu peleton untuk menghalau mereka," tambah Mbah Jamal.

Seusai Balun menjadi aman dan tenteram, Pak Bati berencana untuk kembali ke Papua, tempatnya berdinas di Angkatan Darat. Namun, seluruh warga desa memintanya untuk tetap tinggal di daerah Balun dan diminta untuk memimpin sebagai kepala desa. Akhirnya dengan semangat ingin mengabdi pada tanah kelahirannya, Pak Bati meminta ijin pada institusinya agar ia menetap di Balun dan menjadi pemimpin disana. Institusinya menyetujuinya dan untuk menghormati proses demokrasi, Pak Bati ingin diadakan pemilihan kepala desa.

"Akhirnya saat itu diadakan pemilihan kepala desa. Calonnya ada dua. Pak Bati terpilih menjadi Kepala Desa. Saat itulah desa Balun mulai menyusun kembali struktur pemerintahan desa setelah sekian lama terjadi kekosongan," ungkap Ngarijo, tokoh masyarakat sekaligus pemuka agama Hindu di Pura Sweta Maharani Suci.

Saat Pak Bati memimpin desa Balun, muncullah keputusan dari pemerintah pusat agar setiap aparatur desa di Indonesia giat menyosialisasikan kembali Pancasila sebagai dasar negara yang wajib dipatuhi dan falsafahnya diamalkan oleh seluruh rakyat. Penduduk mulai didata untuk dibuatkan KTP. Pada kolom agama, masyarakat wajib memilih satu dari lima agama yang diakui negara.

"Saat itu di Balun, selain agama Islam, aliran kepercayaan seperti Jawa Wisnu, Sapta Darma, Kawisnan, Rasa Sejati dan lain-lain cukup dominan dianut oleh masyarakat. Pada 1967 aliran-aliran tersebut tidak diakui oleh negara. Maka dari itu sesepuh-sesepuh kami dahulu mencari agama apa yang dekat dengan kepercayaan mereka. Akhirnya, didapatkan kesimpulan bahwa Hindu merupakan agama yang cocok. Berkembanglah disini agama Hindu," tutur Ngarijo yang juga merupakan penduduk asli Balun.

Pada waktu itu di Balun terdapat sebuah lapangan yang disebut alun-alun Balun. Disekitarnya terdapat lahan kosong yang cukup luas. Mengingat keberagaman masyarakat Balun yang berbeda keyakinan, serta untuk memfasilitasi ibadah para pemeluk agama, Pak Bati akhirnya berinisiatif membangunkan masjid di sebelah barat alun-alun. Berdiri berdampingan, dibangunkan sebuah Pura sebagai tempat ibadah umat Hindu.
Pak Bati sendiri adalah Nasrani yang taat dan saat itu di Balun terdapat pula pemeluk-pemeluk Kristen. Maka dari itu di sebelah timur dibangunlah sebuah gereja Kristen Jawi Wetan. Posisinya berhadapan dengan masjid dan Pura.

Di Balun pula, Pak Bati membentuk Rukun Tetangga, sebagai kepanjangan tangan pemerintah yang ada di struktur paling dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Awalnya, hanya beberapa RT yang terbentuk dan hingga kini di Balun telah ada sekitar delapanbelas RT, masing-masing terdiri dari seratus KK. Pak Bati tak lelah menekankan kepada warganya agar senantiasa rukun walaupun berbeda latar belakang keimanan. 

"Selain peran Pak Bati sebagai Kepala Desa, toleransi masyarakat Balun terbentuk dari kultur agraris yang membuat masyarakat hidup dalam budaya komunal dan akrab dengan alam. Kami disini hidup dengan keakraban dan semangat persaudaraan. Di satu sisi, toleransi semakin tumbuh berkembang karena adanya faktor pernikahan dan hubungan darah antar sesama warga," tutur Sutrisno, warga asli Balun yang juga seorang tokoh Nasrani setempat.

"Jadi tidak heran, di setiap KK, seringkali terdapat sebuah keluarga dengan agama berbeda-beda. Ada yang orangtuanya Islam, anaknya Kristen, anaknya yang kedua Hindu. Atau warga Kristen, punya hubungan kekerabatan dengan warga pemeluk Hindu dan Islam. Banyak sekali disini," tambah Sutrisno yang juga guru sekolah negeri di Lamongan.

Pak Bati sebagai Kepala Desa yang memelopori terciptanya keharmonisan di Balun, pada akhirnya dipanggil Tuhan pada tahun 2002. Namun, meskipun Pak Bati telah tiada, kepala desa penerusnya tetap dapat meneruskan semangat Pak Bati dalam menjaga kerukunan warganya. Seperti yang dicontohkan Bapak H.Khusairi, Kepala Desa Balun saat ini, beliau tidak segan untuk mengunjungi warganya dan selalu datang setiap ada hajatan maupun perayaan-perayaan hari besar keagamaan.

Malam Natal 2017 di Balun, seusai diadakan misa, diadakanlah ramah tamah antar warga dan pemerintah desa. Kepdes H.Khusairi bahkan memberikan sambutannya di dalam podium gereja GKJW Balun. Dalam sambutannya itu, ia menekankan bahwa toleransi di Balun sudah sangat bagus dan cukup sesuai dengan semangat Pancasila.

 "Assalamualaikum, Om Swasty Astu, Shalom. Selamat Hari Natal saudara-saudaraku. Saya tidak ragu untuk mengucapkan selamat Natal, karena saya yakin ini yang terbaik bagi kita semua," tandasnya yang diikuti oleh gemuruh tepuk tangan warga dan juga umat Kristiani setempat.

Dalam perayaan Natal itu, H.Khusairi juga menekankan bahwa sebagai warga yang toleransinya terbangun dengan baik, tak usahlah sesama warga antar pemeluk agama membahas tentang agama, atau berdebat tentangnya; karena perdebatan yang demikian, bisa memicu perpecahan.

"Tak usahlah kita menafsiri yang lain; toleransi kita cukup bagus. Mari kita pertahankan," tambahnya.

Di Lamongan, terdapat tradisi 'rewang', yakni tradisi para warga untuk membantu salah satu penduduk yang mempunyai hajatan. Seperti misalnya seorang warga mengadakan hajatan pernikahan, maka ibu-ibu tetangga akan membantu memasak di dapur, para lelaki akan membantu memasang terop, tenda dan sound system. Balun sebagai bagian dari Lamongan lekat pula dengan tradisi rewang. Yang unik, bila ada pernikahan salah satu warga, misalnya pemeluk Hindu, maka sudah biasa bila terlihat pemandangan ibu-ibu berkerudung dan ibu-ibu dari kalangan Nasrani ikut membantu memasak di dapur. Setiap hajatan pula ketiga pemuka agama dari agama masing-masing datang menghadirinya. Tidak ketinggalan Pak H.Khusairi sebagai kepala desa. Bahkan, merekapun turut pula mengantar pengantin masuk ke dalam Pura. Para pemeluk Hindu mengadakan prosesi pernikahan, sedangkan pemeluk agama lain datang dan menyaksikan.

Di kalangan muda-mudi Balun, toleransi juga terjaga dengan baik. Karang Taruna di tempat mereka banyak diisi oleh muda-mudi lintas agama. Mereka mengadakan kegiatan bersama, berkumpul bersama dan menjaga kekompakan diantara mereka. Tidak jarang, ketika ada perayaan hari besar agama tertentu, remaja dari pemeluk agama yang lain akan membantu menjaga perayaan tersebut.

"Ketika kami mengadakan shalat Ied atau shalat hari besar lainnya, muda-mudi Kristen dan Hindu membantu dalam sisi keamanan, mengatur parkir dan lalu-lintas kendaraan. Sebaliknya, jika saudara Kristen atau Hindu mengadakan perayaan, maka kami pemuda-pemudi dari lintas agama juga selalu kompak saling membantu," ujar Herman, anggota Karang Taruna dan Remaja Masjid setempat.

Bagaimana para pemuda di Balun dapat menjaga toleransi di desanya?

"Kenapa harus tidak rukun? Kita sama-sama manusia. Perbedaan keyakinan tak pernah membuat kita melupakan persaudaraan. Dalam Islam, cinta dan keramahtamahan kepada sesama begitu kuat tertanam dalam agama kami. Mewujud dalam Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Jadi tidak ada alasan untuk tidak rukun," tambah Herman.

Apakah tidak ada secuilpun persinggungan atau masalah diantara pemuda-pemudi Balun?

"Pernah. Tapi itupun hanya masalah pertandingan sepakbola. Tidak ada yang namanya main fisik. Cuma saling melempar komentar saja. Sorenya, sudah ngopi bareng di warung. Hahaha.." pungkas Herman sambil tertawa.

Badai di tahun '65 telah usai. Gelap berganti cerah. Matahari membuat kerlip pelangi mewarnai langit Balun. Setiap hari doa-doa dipanjatkan untuk sebuah ketentraman, kesejahteraan dan keharmonisan. Begitulah hari-hari di Balun, sebuah desa miniatur Indonesia yang bergerak dinamis, harmonis dalam bingkai Pancasila. Dari generasi ke generasi, masyarakat di desa ini hidup dalam suasana saling menghormati dan bertenggang-rasa. Pak Khusairi, Pak Sutrisno, Pak Ngarijo, Mbah Jamal, Herman adalah beberapa dari sekian banyak orang yang berperan dalam menopang pelangi itu.

Jika pergi ke Balun, udara Pancasila begitu segar tercecap dalam panca indera. Ketika keluar dari Balun, maka jalan setapak kembali dilewati. Kembali ditemui jalan penuh lubang. Balun nyatanya lebih Indonesia dari keadaan diluar Balun yang juga masih ada di wilayah Indonesia. Sekeluar dari Balun, udara harmoni tercium samar. Diluar Balun adalah tempat dimana Pancasila sekedar hafalan anak-anak sekolah, sekedar jargon di tengah kebencian bagi siapa saja yang berbeda keyakinan atau pilihan politik, sekedar diyakini sebagai kearifan masa lalu tanpa pernah ada yang mau berusaha melebarkan sayap Garuda demi menaungi kehidupan Nusantara. Tubuh dan sayap Garuda ada di Balun, setengah bulunya saja yang memayungi daerah diluar Balun.

Samar-samar, bayang Mbah Jamal tetua desa kembali menyeruak. Sebuah pesan persatuan dari bibir seorang sepuh yang kenyang pengalaman:

"Kalau kami-kami ini sudah tiada, anak cucu diharapkan dapat tetap mampu untuk menjaga kerukunan di Balun. Sebab jika sampaikan konflik antar umat beragama pecah, maka pemerintahan akan berantakan".



-Thx to Tim Creative G7 : Ganjar Ahadiyat, Arief Rahman Hakim, Eddy Purwanto, Rendy Brilian & Mahasti Budi Hapsari.

Minggu, 03 Juni 2018

Tanjung Kodok: Masa Lalu Numpang Lewat (sebuah memoar masa kecil)



Masa kecilku dulu sempat kulalui di Paciran, sebuah daerah di pesisir Lamongan. Tiap siang, aku dan adik-adik sepupuku pergi ke Pantai berkarang Tanjung Kodok. Beren
ang, mencari udang kecil, rajungan dan siput laut.
Dua batu besar berbentuk kodok dan semilir anginnya selalu bersahabat. Belum lagi lambai pohon-pohon kaktus yang kami lalui sebagai akses masuk pantai. Aku masih ingat, kaktus memiliki buah berwarna merah pekat. Kami sering memetiknya dan melumuri badan dengan air buah kaktus, hingga kami tampak seakan berdarah-darah.

Tentu masih segar dalam ingatan, kami berlompatan antara satu batu karang yang besar ke batu karang yang lain. Tangan kami berulur saling membantu agar langkah kami aman, sebab di bawah begitu curam, penuh dengan karang-karang tajam dan air laut yang dangkal.
Jika kami telah sampai di bibir pantai, kami segera berenang. Air laut kadang teduh, kadangpula mengganas. Di kejauhan, tampak perahu-perahu nelayan berlayar. Aku ingat pula bahwa si Tria, adik sepupuku, kakinya pernah tak sengaja menginjak hewan laut berduri. Aku sampai sekarang tak tahu nama hewan itu, namun mereka menyebutnya 'Kirung'. Bila 'Kirung' terinjak oleh kulit tubuh manusia, puluhan durinya akan menancap dan masuk ke dalam daging. Dengan tangan atau alat apapun, kita tak bisa melepaskan duri-duri itu. Namun ada pengobatan tersendiri yang masyarakat setempat sudah lama mahfum, bahwa duri-duri itu akan terlepas dengan sendirinya ketika bagian tubuh yang terkena bulu Kirung disiram dengan urine. Saat itu, kami beramai-ramai mengencingi telapak kaki si Tria dan memang ajaib, perlahan-lahan duri yang menancap begitu dalam, keluar dengan sendirinya.

Tapi memang masa kecil Tria sering apes. Selain pernah tertusuk Kirung, ia pernah pula jatuh dan mengalami patah tulang saat memanjat pohon beringin raksasa yang sampai saat ini masih berdiri menjulang di Penanjan, desa kami. Ia juga pernah pingsan secara tak sengaja ketika sedang bermain dengan salah seorang kakaknya.

Di bibir pantai Tanjung Kodok pula kami selalu teringat akan hangat suasananya. Adik-adik sepupuku yang lain, seperti Gaguk yang diam-diam menghanyutkan, Dwi yang sering berperan jadi penengah, Tria yang bolak-balik apes, Awin yang slowly dan Sandi yang pernah kebingungan mencari cara untuk pulang, karena saat berenang, seluruh pakaiannya kami bawa kabur, sampai saat ini kami sering membicarakan kenangan-kenangan itu dengan gelak tawa.

Tanjung Kodok menyimpan mitos-mitos yang aku dengar dari nenekku, bahwa di tiap-tiap malam tertentu, penguasa pantai Utara Jawa akan menampakkan diri di lautan, mengendarai ikan hiu berwarna putih. Belum lagi, ada penjaga gaib berupa wanita cantik bertubuh ular disana. Di Tanjung Kodok pula, terdapat sebuah makam keramat yang disebut makam tunggal, terletak persis di bibir pantai. Pagar berwarna merah mengelilinginya. 
Konon, makam tersebut menyimpan salah satu bagian tubuh Adipati Ranggalawe, penguasa Tuban yang disebut-sebut memberontak terhadap kekuasaan Majapahit. Dulu, seganas apapun ombak air laut mengikis karang dan daratan, makam itu aman tak terjamah.

Sedangkan kedua batu berbentuk kodok, salah satu monumen alam yang paling terkenal di Tanjung Kodok, menyimpan legenda tentang pasangan raja dan ratu kodok yang tinggal di sebuah kerajaan berbentuk gua, yang sempat mengalami peperangan melawan para raksasa, kemudian ditolong oleh seorang manusia. Ketika manusia itu pergi, raja dan ratu kodok berjanji akan menunggunya di pinggir lautan sampai ia kembali. Tapi sayang, ia tak kembali. Pasangan raja dan ratu kodok itu menanti kepulangannya hingga membatu. Gua tempat tinggal mereka yang saat itu tidak diketahui keberadaannya, kemudian secara tidak disengaja, ditemukan oleh penduduk sekitar saat sedang menggali. Gua itu dinamakan gua Maharani. Berkembanglah tafsir masyarakat sekitar, hingga sampai pada kesimpulan: paripurnalah teka-teki tentang keberadaan gua tempat tinggal raja dan ratu kodok. Tapi ada juga versi berdasarkan Ilham sang penemu sebelum menemukan gua itu: penghuninya seorang wanita cantik, busananya seperti ratu (Rani), dan roh gaibnya masih bersemayam disana; makanya gua itu dinamakan Maharani.

Sampai pada suatu hari ketika kendaraan-kendaraan besar masuk, menghancurkan pepohonan kaktus, menggali dan mengubah struktur bukit hingga yang nampak hanya warna putih khas bebatuan gamping, dan tinggal menyisakan debu-debu beterbangan di udara. Saat itulah Tanjung Kodok ditutup untuk umum. 

Keseharian yang tampak hanya lalu-lalang kendaraan-kendaraan berat.
Setelah beberapa bulan berlalu, wajah wisata Tanjung Kodok telah berubah sepenuhnya. Halaman depan yang dulu biasa dipakai pedagang kaki lima yang menjual pernak-pernik, juga bapak tua pemikul wadah bambu berisi minuman legen (minuman dari buah Siwalan) tak tampak lagi. Mereka digantikan oleh keangkuhan megah kelas atas: hotel sekaligus resort yang berdiri menantang. Di bagian timur, berdirilah Wisata Bahari Lamongan (WBL).

Masyarakat sekitar, tak lagi bisa masuk ke dalam tempat yang telah diakrabinya puluhan tahun, kecuali jika memang mereka punya duit dan mau bayar. Kamipun hanya bisa melihat batu kodok dari jauh, tepatnya dari sisi pantai sebelah barat. Harus bersusah-payah untuk sekedar kembali mengakrabi memori masa lalu.

Di satu sisi, pembangunan yang telah merubah struktur alam keseluruhan wisata Tanjung Kodok itu punya sisi positif. Perekonomian warga terangkat. Masyarakat dapat berdagang di sekitar area itu. Jumlah pengangguran pun menurun, karena banyak diantara masyarakat yang dipekerjakan di dalamnya. Ya, jika tak punya uang untuk mengakrabi masa lalu, maka solusinya, bekerjalah pada pemilik baru.

Memang perubahan wisata alam Tanjung Kodok menjadi wisata buatan berupa hotel dan WBL, patut diperhitungkan demi mengangkat perekonomian masyarakat sekitar yang sejak lama mengandalkan hidup dari hasil laut dan hewan ternak. Namun, ada satu bagian kami yang hilang: keakraban terhadap alam yang alami telah dipaksa menjadi sebatas memori. Hinggap untuk sekedar dikenang, dan sekedar diceritakan. Anak-anak kami sekedar mendengar.

*Foto diambil dari Google dan kiriman dari Dimas Antovoni*

Selasa, 29 Mei 2018

Camp Alumni Kegelapan: Wadah Para Seniman Berjiwa Sosial.



Kesenian harus punya Kontribusi bagi Masyarakat

Sore itu menjelang berbuka puasa, di Raya Waru, Sidoarjo, terdapat kesibukan yang tidak biasa. Sekumpulan pria dan wanita dari berbagai usia terlihat sibuk membungkus makanan dalam kantung-kantung plastik, sebagian lainnya menata peralatan musik.
Tidak berapa lama, setelah makanan telah terbungkus rapi dan perlengkapan musik sudah ditata, sekumpulan musisi mulai mempertunjukkan keahliannya dalam bermusik, sementara yang lainnya berdiri berjajar di pinggir jalan, sembari membagi-bagikan plastik berisi makanan kepada para pengendara kendaraan bermotor, tukang becak, ojek online dan pejalan kaki yang satu-persatu mulai menepi.

'Bagi Takjil & Live Performance'. Itulah tema besar yang mereka selenggarakan dihari itu. Para pria dan wanita dari berbagai usia tersebut rupanya adalah sekumpulan insan kreatif dan berjiwa sosial, yang bergabung dengan wadah 'Camp Alumni Kegelapan' (C.A.K).
Meski usianya baru seumur jagung, namun kontribusinya bagi masyarakat dan dunia kesenian di Sidoarjo cukup menarik banyak perhatian dari khalayak ramai.

C.A.K sebagai sebuah wadah eksistensi para seniman, khususnya musik, terbentuk pada tahun 2017. "Berawal dari kegelisahan yang sama, masa lalu yang sama-sama kelam, juga rasa persaudaraan sesama seniman, maka kami berinisiatif untuk membuat suatu wadah yang bisa menampung ide-ide kami dan mewujudkannya dalam bentuk even kesenian, yang didalamnya dibungkus dengan kegiatan sosial," ungkap Blake Yono, salah satu pendiri C.A.K.

Masa lalu para anggota yang suram, diantaranya pernah menjadi seniman yang pernah terjebak dalam gelapnya dunia malam, seperti narkoba, miras dan sebagainya, membuat mereka sadar akan perlunya kehidupan yang lebih baik. Hal itu diantaranya mereka wujudkan melalui kegiatan-kegiatan kesenian yang memiliki kontribusi bagi masyarakat yang membutuhkan. "Even pertama C.A.K pada 2017 adalah Sahur on the Road. Ketika itu kami mengumpulkan dana secara swadaya, kemudian membuat sendiri dan membagi-bagikan menu sahur gratis bagi masyarakat di Sidoarjo yang membutuhkan," ujar Brint Widodo, salah seorang musisi yang dulu pernah bermasalah dengan narkoba.
Dari acara Sahur on the Road di tahun 2017 yang diadakan tiap dua minggu sekali tersebut, kemudian dilanjut dengan even-even jamm session di berbagai tempat, C.A.K mulai mendapat perhatian dari masyarakat. Anggota mereka semakin bertambah, terlebih, adanya media sosial yang kemudian dapat menyambung tali silaturahmi antara kawan-kawan mereka, juga ketertarikan dari para seniman-seniman lain yang membuat C.A.K dapat mengembangkan sayapnya semakin lebar.

"Seniman, utamanya musisi yang tergabung dalam C.A.K, banyak diantaranya pernah memiliki masa lalu yang kelam, juga pengalaman-pengalaman buruk yang dapat dibagikan kepada sesama anggota. Maka dari itu kami intens untuk berkumpul dan saling sharing. Kami sering mensosialisasikan tentang bahaya narkoba, kehati-hatian dalam menerjuni dunia malam, juga saling berbagi pengalaman tentang dunia entertain," tukas Hendro, musisi asli Sidoarjo. Jadi, di dalam C.A.K, tutur mereka, selain sebagai wadah silaturahmi antar sesama musisi, juga sebagai wadah bagi mereka yang berjiwa sosial, bagi mereka yang ingin belajar entertain, serta bagi mereka yang ingin mengentaskan kehidupan masa lalunya yang gelap dan membentuk hidup baru yang terang benderang.

"Oleh karena itu wadah ini dinamakan 'Camp Alumni Kegelapan', karena didirikan oleh banyak anggota kami yang memiliki pengalaman dalam menjalani hidup di masa lalu yang gelap, namun kini sudah berubah menjadi lebih baik dan menjadi kewajiban kami untuk mensharing pengalaman kami kepada para pemuda. Salah satu hal positif yang dapat kami buat, adalah bagaimana C.A.K sebagai wadah, dapat menjadikan kesenian itu selain sebagai ajang pertunjukan eksistensi seniman, juga harus punya kontribusi kepada masyarakat. Wujud kontribusi kami adalah adanya kegiatan sosial disela-sela even kesenian yang kami adakan," tutur Koko Ken Arok, seorang musisi heavy metal sekaligus tokoh pemerhati satwa langka.


Komunitas Tanpa Struktur

C.A.K dalam perkembangannya, kini tidak hanya digeluti oleh para musisi, namun juga para fotografer, desainer, pelukis dan para penggiat teater. Uniknya, dalam menjaga kekompakan, mereka menerapkan slogan 'Loss, Gak Katek Rewel' (mengalir saja, tidak usah rewel / terjang saja tidak usah merengek). Semuanya dikerjakan bersama, tanpa perlu memikirkan rengekan-rengekan receh tentang tendensi dalam berkesenian dan berkegiatan sosial.

"Maka dari itu di dalam menjalin persaudaraan, kami sepakati bahwa C.A.K adalah komunitas atau organisasi tanpa struktur. Kalau mau bikin kegiatan, ya mari duduk bareng, kita bicarakan dan kita putuskan bareng," tukas Dartox, vokalis Dartox and the Gank yang juga seorang juru masak jempolan Sidoarjo.

"Di dalam C.A.K jangan coba-coba berpikir untuk mendapat penghasilan atau menambah pundi-pundi uang, namun bagaimana caranya kita bisa berbagi penghasilan kita kepada mereka yang membutuhkan," tambah Anggoro, gitaris Portal Band, sebuah band yang sudah melanglangbuana dari Pulau Jawa hingga Bali.

Beberapa bulan lalu, C.A.K pernah dimintai untuk berperanserta dalam acara launching Kafe Bravo, di Tropodo, serta meramaikan acara musik di Bolodewe & Angkringan Cafe, di daerah Pagerwojo, Sidoarjo. Ketiga acara tersebut sukses membuat eksistensi C.A.K semakin dikenal. "Jikapun memperoleh dana atau kompensasi dari sebuah even, dana tersebut seluruhnya kami sumbangkan kepada anak yatim maupun masyarakat lain yang membutuhkan," ungkap Tato Tara, anggota C.A.K yang juga gitaris Sekaring Jagad, band yang membawakan lagu-lagu karya (alm) Gombloh.

Banyak diantara anggota C.A.K yang pernah merasakan sendiri bagaimana buruknya iklim perkomunitasan di Sidoarjo dan Surabaya. Berkaca dari hal tersebut, maka, selain memiliki karakter sebagai komunitas seniman berjiwa sosial, C.A.K juga memiliki keunikan sebagai komunitas tanpa struktur yang secara alamiah, berasal dari kesadaran untuk menekan ego masing-masing, dan hasilnya, sejauh ini mereka sangat berhasil menjaga kekompakan dan kebersamaan sesama anggota. 


Mendapat Perhatian dari BPBD & Rencana Kedepan

Setelah beberapa kali mengadakan acara pembagian takjil dan live performance di Raya Waru, mereka mulai dilirik oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), yang berkantor di dekat tempat diselenggarakannya even tersebut. Ketertarikan BPBD terhadap kegiatan sosial yang dibungkus dalam even kesenian tersebut membuat C.A.K diajak untuk menjadi bagian dari tim relawan BPBD dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan.

"Setelah kegiatan, kami dipanggil oleh BPBD dan ditawari untuk menjadi relawan kemanusiaan. Tugas kami, memberikan hiburan dan kegiatan sosial untuk membantu para korban bencana, dan mereka yang membutuhkan. Tentu saja tawaran itu kami iyakan karena memang sesuai dengan tujuan C.A.K," ungkap Galuh, fotografer perempuan yang menjadi anggota C.A.K.

Ditanya tentang rencana ke depan, para anggota C.A.K menuturkan bahwa mereka akan lebih mengembangkan kegiatan-kegiatan mereka dalam berkesenian dan berkegiatan sosial. Tawaran-tawaran untuk mengadakan even diluar Sidoarjo mulai berdatangan, dan saat ini mereka sibuk mematangkan konsep-konsepnya.
Merekapun berharap kedepannya tidak hanya menampilkan musik, namun juga pameran seni rupa, fotografi, teater dan lain-lain.

"Kami juga punya rencana, terkait keprihatinan kami terhadap eksistensi seni tradisi seperti ludruk. Kami ke depan akan membawa 'Camp Alumni Kegelapan' bersama masyarakat untuk rutin datang ke Kampung Seni THR, membeli tiket dan menonton ludruk disana, sembari memberi support dan sumbangan dana sebagai bentuk perhatian kami terhadap mereka," pungkas Setyawan, anggota C.A.K dengan blangkon khasnya.

* Foto by Aan Zio & Galuh
* Tulisan ini pernah dimuat di portaltiga.com & beritajatim.com

Jumat, 25 April 2014

Rencana Penutupan Dolly: Antologi Curahan Hati



Mengapa setiap manusia
Menghina kehidupannya
Mencari nafkah hidupnya
Sebagai seorang pramuria

(Kisah Seorang Pramuria, The Mercy’s)


Penggalan lirik tersebut mungkin cukup untuk menyadarkan kita semua, sekaligus menunjukkan betapa ironisnya menjadi seorang pramuria. Menjadi pramuria, apakah itu pekerjaan yang diharapkan oleh pelakunya? Tentu saja siapapun takkan mau menjual kehormatan juga harga dirinya demi meraup keuntungan dengan melakoni pekerjaan tersebut. Sayang, di negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini ternyata jauh panggang dari api. Tuntutan ekonomi telah nyata-nyata memaksa masyarakatnya untuk melakukan apa saja, melakoni pekerjaan apa saja demi sesuap nasi.

Dolly, siapapun pasti tak asing dengan nama itu. Lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yang konon telah berdiri sejak jaman kolonial dan mulai dikenal oleh masyarakat sejak tahun 1966 tersebut hingga kini menjadi lahan untuk mencari nafkah bagi ribuan orang, mulai dari PSK,Mucikari,PKL,Tukang becak,pemilik warkop,pemilik parkir,dan lain sebagainya. APBD Surabaya tentu mendapat pemasukan yang besar pula. Lokalisasi yang terletak di Jalan Putat, Surabaya itu telah dikenal namanya di berbagai tempat.

Bertahun-tahun sudah usia lokalisasi Dolly di Surabaya dan menjelma menjadi lokalisasi yang melegenda bahkan di seluruh Indonesia. Setelah bertahun-tahun pemerintah membiarkan lokalisasi itu berdiri tegak, maka pada pemerintahan Walikota Tri Rismaharini, digulirkanlah wacana untuk menutup lokalisasi Dolly. Sebagai kompensasi, para PSK dan Mucikari akan diberi dana sebesar lima juta rupiah plus pelatihan ketrampilan selama tiga hari. Tentu keputusan pemerintah itu mengundang reaksi pro-kontra dari masyarakat. Kontan, protes paling keras dilakukan oleh seluruh elemen di lokalisasi Dolly, mengingat, lokalisasi itu telah menghidupi mereka, sekaligus menghidupi denyut nadi perekonomian Surabaya selama berpuluh-puluh tahun.

Dua orang PSK dari Dolly, mereka memperkenalkan nama samaran mereka, yakni Ida dan Titin, menyatakan bahwa mereka menolak keras usulan ditutupnya lokalisasi Dolly. Alasannya, kompensasi yang diberikan pemerintah masih belum cukup untuk dapat menunjang kehidupannya kelak jika Dolly sudah ditutup. “Pemerintah menjanjikan para PSK dan Mucikari disini akan mendapatkan dana kompensasi sebesar lima juta rupiah. Mereka pikir, apa duit segitu cukup untuk biaya hidup kami setelah lokalisasi ini ditutup? Saya punya keluarga yang butuh makan, butuh kiriman uang setiap bulannya. Anak saya juga masih sekolah. Hutang saya juga banyak. Saya bisa menghidupi keluarga dari pekerjaan ini. Jika ditanya, apakah saya mau menjadi PSK? Sebenarnya saya tidak mau, tapi keadaanlah yang memaksa saya,” ujar Ida. 

Senada, Titin juga mengatakan bahwa selama ini, lokalisasi Dolly selalu mengikuti ketentuan pemerintah. “Dulu pemerintah meminta dilakukan pemeriksaan kesehatan rutin selama dua minggu sekali, kami selalu aktif. Pemerintah memberi penyuluhan, kami selalu hadir. Jika sekarang pemerintah mengusulkan akan menutup lokalisasi tempat saya mencari nafkah selama ini, dengan sangat menyesal saya akan menolak,” ujar perempuan yang mengaku berasal dari Kediri dan telah memiliki enam orang anak yang masih bersekolah itu.
Bagaimana dengan pelatihan ketrampilan yang diberikan pemerintah? Ida dan Titin berkata bahwa mereka mengikuti pelatihan ketrampilan yang diberikan oleh pemerintah. Ketrampilan merajut, tata rias, tata boga, membuat handycraft dan lain-lain itu selalu tak pernah absen mereka ikuti. “Tapi pelatihannya cuma berlangsung selama tiga hari. Apa yang didapatkan peserta hanyalah tekhnik dasar. Mana ada pelatihan yang hanya dilakukan selama tiga hari dapat membuat kita bisa terampil dan mandiri? Nol besar,” ujar Ida yang juga diamini oleh Titin.

Pernahkah Ibu Walikota turun langsung untuk mensosialisasikan penutupan lokalisasi Dolly di hadapan seluruh stakeholder lokalisasi? Kedua perempuan itu mengaku bahwa Tri Rismaharini pernah melakukan beberapa kali penyuluhan, namun hanya kepada PSK dan mucikari saja. Saat itu, Ida mengaku bahwa ia sempat mendebat Ibu Walikota dan membuat pejabat nomor satu di Surabaya itu diam seribu bahasa. “Saya bilang kepada Ibu Walikota bahwa beliau hanya melihat pada permukaan saja. Beliau tidak pernah mengerti kondisi di dalam lokalisasi itu seperti apa. Lalu saya bilang kepada Bu Walikota, bahwasanya kami setuju lokalisasi ditutup, asalkan tiap-tiap kami diberi kompensasi sebesar lima puluh juta rupiah untuk modal usaha. Jika hanya diberi lima juta rupiah dan pelatihan selama tiga hari, itu sama saja omong kosong,” ujarnya. Menurut penuturan Ida, Bu Risma saat itu terlihat bingung dan tidak bisa berkata-kata.

Alasan Tri Rismaharini untuk menutup Dolly adalah ketakutan adanya trafficking dan potensi timbulnya berbagai permasalahan kesehatan, juga karena adanya penindasan yang dilakukan mucikari terhadap PSK. Setelah dikonfirmasi kepada Ida dan Titin, mereka menolak alasan-alasan walikota itu. “Pemerintah sudah melarang adanya PSK baru di lokalisasi ini. Itu kami patuhi. Sekarang juga bisa dicek langsung. Pemerintah takut akan masalah kesehatan, padahal, kami selalu rutin mengikuti tes kesehatan dan cek darah yang dianjurkan pemerintah selama dua minggu sekali. Tentang penindasan? Penindasan macam apa? Memang kami mempunyai hutang kepada mucikari dan kami membayarnya melalui pekerjaan kami ini. Mucikari tidak pernah memeras kami untuk segera membayar hutang dan sebagainya. Bila kami bekerja dan hutang berhasil dilunasi, kami boleh bertindak sesuka kami kok. Mau tetap bekerja sebagai PSK ya tidak apa-apa, mau keluar dari pekerjaan dan pulang ke kampung halaman juga tidak mengapa. Kami tidak merasakan penindasan,” ujarnya.

“Satu-satunya perasaan tertekan yang setiap kali kami alami hanyalah sebuah keterpaksaan untuk melakoni pekerjaan PSK seperti ini. Tapi Tuhan tahu, ini tuntutan ekonomi, bila tidak seperti ini, anak kami mau dikasih makan apa? Saya yakin Tuhanpun tahu, bilamana kami sudah cukup memiliki tabungan, ekonomi kami membaik, kamipun akan berhenti dari pekerjaan seperti ini,” tambah Ida.


Jeritan yang Tak Pernah Didengar 
          
“Ibu saya adalah seseorang yang umurnya lebih dari enam puluh tahun dan sampai sekarang beliau menghidupi anak-anaknya dari pekerjaan sebagai buruh cuci dan ngemong bayi di lokalisasi ini,” ujar Yoyok, salah seorang pegawai sebuah wisma di Dolly. Menurutnya, jika lokalisasi ditutup, maka bukan hanya PSK dan Mucikari semata yang dirugikan, melainkan ada ribuan orang yang akan kehilangan penghidupan, termasuk Ibunya.

Yoyok menuturkan bahwa setiap hari, ibunya menjadi buruh cuci dan merawat bayi atau anak-anak dari para PSK yang dititipkan kepadanya. “Setiap hari, menjelang PSK bekerja, para PSK itu banyak yang menitipkan anak-anaknya pada Ibu saya. Dari pekerjaan itu, ibu saya bisa mendapat penghasilan sebesar satu setengah juta sebulan,” tambahnya. Bertahun-tahun sudah Ibunya melakoni pekerjaan semacam itu. Yoyok sendiri selepas lulus sekolah juga bekerja sebagai pegawai di sebuah wisma di Dolly dan iapun bisa menghidupi keluarganya dari pekerjaannya itu.

Selain Yoyok, ketua RW di lokalisasi yang juga sempat diwawancarai menyebutkan bahwa selain buruh-buruh kecil, pedagang kaki lima juga akan terkena dampak penutupan dolly. “Di setiap wisma terdapat rombong-rombong kecil pedagang rokok. Mereka mengandalkan pemasukan sehari-hari dari berjualan rokok di tiap wisma itu. Jika ditutup, mereka mau makan apa? Itu masih PKL; belum buruh cuci, buruh masak, buruh ngemong bayi, buruh kebersihan, tukang becak, pemilik warung sampai tukang parkir. Pemerintah hanya berpikir satu sisi saja, padahal selain PSK dan pemilik wisma, bahkan pasar yang ada di belakang kawasan ini juga akan terkena dampaknya. Dengan kata lain, akan banyak sekali yang dirugikan dengan usulan penutupan itu,” ungkapnya.

Seorang mucikari yang juga sempat diwawancarai juga mengungkapkan kekecewaannya. “Kurang apa kami menuruti pemerintah? Kami juga menjamin bahwa tidak ada PSK baru di lokalisasi ini sesuai anjuran pemerintah. Kontrol kesehatan juga selalu diikuti oleh para PSK. Pemakaian kondom juga merupakan sesuatu yang wajib. Bila pemerintah mau menutup tempat ini, tolong dipastikan bahwa pemerintah juga punya solusi yang jitu. Bukan hanya sekedar menutup, tapi perhatikan pula nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari lokalisasi ini. Bila disebut penindasan, dari cara seperti apa kami para mucikari ini menindas PSK? Bila PSK kami beri hutang dan kemudian ia tidak mau membayarnya dengan cara, misalnya kabur, kami bisa apa? Banyak kejadian seperti itu. Bila kami mencari para PSK yang kabur karena belum membayar hutang dan memaksanya untuk melunasinya, mereka bisa melapor ke polisi dengan tuduhan pemerasan, penindasan, pelanggaran HAM dan ujung-ujungnya kami juga yang kena. Dari sisi manapun kami ini sudah tidak bisa berbuat banyak. Bila sampai ditutup, kami mau dikemanakan?” ujarnya.
Itulah jeritan-jeritan yang telah berhasil dikumpulkan. Apakah akan didengar? Entah kapan kita akan mengetahui jawaban dari pertanyaan itu.


Secuil Harapan Untuk Penguasa

Dapat dipastikan, seluruh elemen lokalisasi Dolly dan sekitarnya menolak usulan penutupan yang digagas oleh pemerintah Surabaya yang menurut rencana akan disahkan pada tanggal 19 Juli 2014. Entah apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, kita semua tidak mengetahuinya; yang jelas, komunikasi antara pemerintah dan seluruh stakeholder lokalisasi sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Bukan sekedar marah ataupun pasrah, tentu seluruh elemen lokalisasi memiliki secuil harapan pada pemerintah. Bila para PSK mengharapkan solusi yang pasti seperti pembiayaan kebutuhan hidup, pelunasan hutang serta pekerjaan tetap yang dapat menjaga dapur rumahnya tetap ngebul. Para PSK-pun memastikan bahwa bila lokalisasi benar-benar ditutup dan solusi yang diberikan tidak sepadan, maka mereka akan mencari tempat lain untuk menjajakan diri demi kebutuhan ekonomi, sekalipun dengan cara sembunyi-sembunyi.

Maka sama halnya pula dengan harapan para elemen masyarakat sekitar, mulai dari mucikari, PKL, buruh cuci, buruh ngemong bayi, buruh memasak, tukang parkir, pemilik warung dan sebagainya. Mereka kompak menyatakan bahwa pemerintah haruslah memiliki solusi yang benar-benar jitu yang bisa menjamin kehidupan mereka setelah penutupan dilakukan. 

“Jika Bu Risma menutup lokalisasi dengan tidak memberikan solusi yang pasti, maka ia hanya akan menjadi germo intelektual yang akan membiarkan prostitusi tumbuh subur di berbagai tempat di Surabaya. Hal itu akan lebih mengotori wajah kota ini,” ujar Yoyok.

Lilik Sulistyowati, yang juga akrab dipanggil Vera, sebagai ketua yayasan Abdi Asih yang menampung dan membina para PSK serta pengidap HIV/AIDS turut angkat bicara. Ia mengatakan bahwa yayasan Abdi Asih butuh waktu selama berbulan-bulan untuk memberi bekal bagi para mantan PSK yang ingin hidup mandiri tanpa berkecimpung di dunia prostitusi dengan pelatihan ketrampilan seperti menjahit, tata rias, tata busana dan sebagainya. “Jadi tidak mungkin hanya dengan pelatihan selama tiga hari oleh pemerintah dapat membuat para PSK ataupun mucikarinya bisa membuat usaha sendiri setelah penutupan dilakukan. Keterampilan itu butuh waktu yang tidak cukup hanya tiga hari. PSK yang berhasil dibina oleh yayasan Abdi Asih saja butuh waktu berbulan-bulan untuk memiliki bekal pengetahuan yang cukup dan bisa mandiri,” ungkap perempuan yang memasuki usia enampuluh tahun itu, yang juga sangat menyesalkan bahwa pemerintah kurang melibatkan LSM-LSM terkait serta seluruh elemen dalam upaya penutupan lokalisasi.

Lebih lanjut, para narasumber juga mengatakan bahwa sebaiknya pemerintah giat melakukan komunikasi yang betul-betul ideal, bukan hanya sekedar pengarahan dan penyeruan penutupan semata. “Pernah kami diundang oleh salah satu instansi pemerintah, namun sesampainya disana, kami seperti mendengarkan radio, setelah siarannya selesai, kami pulang ke rumah masing-masing. Undangan saat itu katanya sosialisasi, diskusi, nyatanya, cuma koar-koar soal penutupan tanpa ada sesi tanya jawab dan semacamnya. Kamipun kecewa,” ujar ketua RW.

Untuk itu, para narasumber mengatakan bahwa mereka memiliki harapan kepada pemerintah untuk memperpanjang waktu penutupan. Mereka menyatakan bahwa mereka setuju lokalisasi ditutup dengan syarat pemerintah memberikan solusi yang tepat, seperti memberi kompensasi yang layak kepada semua pihak, juga memberikan pelatihan kepada semua elemen lokalisasi yang tidak hanya berlangsung tiga hari, melainkan dalam hitungan tahun. “Kami butuh pelatihan untuk kemandirian itu dalam hitungan tahun, entah satu tahun atau dua tahun atau berapa; setelah kami bisa mandiri dan pemerintah bisa memastikan bahwa kami bisa hidup layak tanpa terjun dalam dunia prostitusi, maka kami akan menyetujui usulan penutupan ini,” ungkap seseorang dari para narasumber tersebut.

Bagaimana bila pemerintah tetap bersikeras untuk menutup lokalisasi dalam tenggat waktu yang telah ditentukan? Para narasumber yang juga mewakili berbagai elemen lokalisasi itu serentak menjawab,
“Kami akan melawan dengan cara apapun,”

Menyusul jawaban-jawaban lain yang terlontar dari para narasumber:

“Karena usulan tersebut dapat membuat keluarga kami kehilangan sandang-pangan, maka apalagi yang akan kami perbuat selain melawan?”

“Jangan bertanya soal kesatuan pendapat kami sebagai masyarakat yang hidup dalam kawasan lokalisasi ini. Pemerintahlah yang berupaya menindas kami. Lebih baik melawan sekalipun kami sadar bahwa kami harus melawan penjajah yang berasal dari bangsa kami sendiri”

Sekali lagi, dengarkan
inilah ironi
dari sebuah negri yang katanya gemah ripah loh jinawi


* Tulisan ini adalah hasil penelitian lapangan dari tugas mata kuliah Gender & Seksualitas, Program Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Airlangga.

* Kontributor: Yuni Kuswidarti, Muhammad Zamroni, Nuke Ladyna

* Foto diambil dari berbagai sumber di google.