Search This Blog

Thursday, December 6, 2012

Gregorius Soeharsojo Goenito (Alumnus Pulau Buru 1978)





BIODATA




Nama                                        : Gregorius Soeharsojo Goenito
Tempat / Tanggal / Lahir         : 10 Februari 1936, Madiun
Alamat                                      : Jl. Beringin Indah IV / 2A, Trosobo, Sidoarjo


Riwayat Pendidikan :

-          Sekolah Rakyat Taman Siswa, Madiun (setingkat SD)

-          Sekolah Rakyat Taman Dewasa, Madiun (setingkat SMP)

-          Sekolah Rakyat Taman Madya, Madiun (setingkat SMU)
-          AAPV (Akademi Administrasi Perusahaan Veteran), Surabaya


Karier :

-         1952 : Mengawali karier melukis di Sanggar Tunas Muda, Madiun dibawah bimbingan pelukis Sediyono, Soenindya dan Kartono

-          1963-1965 :Bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) di bawah pimpinan pelukis Roestamadji

-          1965 : Berproses melukis di Pulau Buru
-          1978 : Kembali ke Pulau Jawa, menetap di Surabaya
-          2005 : Melakukan Kegiatan Pameran Bersama Bunga Rampai Pelukis Lekra di Galeri Surabaya
-          2010 : Pameran Lukisan Tunggal Memoar Pulau Buru di Universitas Airlangga, Surabaya
-          2007 – sekarang : Sedang menyelesaikan proses penulisan buku ‘Tiada Jalan Bertabur Bunga’
 



Optimis, Berkaryalah dan Jangan Pernah Memanjakan Diri!

Sudah 76 tahun usianya, namun ia masih terlihat gagah. Tubuhnya yang kekar menyiratkan guratan-guratan masa muda yang dilaluinya dengan penuh perjuangan. Banyak kisah getir, kisah perpisahan, penjara, pengasingan dan banyak kisah lainnya hingga ia pernah berpikir bahwa ia tak akan kembali lagi ke Pulau Jawa, tempat asalnya. Dalam usia yang telah lanjut, mungkin sejarah kota ini akan mencatat bahwa ia merupakan satu-satunya pelukis yang merekam kejadian pengasingannya di Pulau Buru lewat sketsa dan lukisan. 
Dialah Gregorius Soeharsojo Goenito, pelukis yang sampai saat ini aktif berkarya.

Ketika saya bertandang ke rumahnya, dengan ramah ia mempersilahkan masuk. Kemudian, sejenak ia pergi ke dalam rumah dan datang kembali dengan mengangkat sendiri lukisan-lukisannya yang sebagian besar berukuran jumbo, sekitar 3-4 meter. “Saya masih kuat melakukan pekerjaan mengangkat barang berat seperti ini, Puji Tuhan saya sehat walafiat,” ujarnya.

Setelah puas melihat lukisan hasil rekam jejaknya ketika diasingkan di Pulau Buru, saya yang penasaran terhadap resep sehatnya, mulai bertanya. Ia menerangkan bahwa ia telah melalui berbagai macam pahit getir kehidupan, terlebih saat bertahun-tahun di Pulau Buru. “Saya menjadi terlatih dengan kondisi macam itu. Disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin dalam hal apapun dan tidak pernah memanjakan diri,” ujar Bapak empat anak itu. Dijelaskannya pula bahwa kesehariannya ia habiskan dengan berolahraga, bersepeda dan kerap berbelanja dengan berjalan kaki. “Sekalipun ada motor atau mobil, saya tidak mau menggunakannya. Itu sama saja dengan memanjakan diri. Saya memilih berjalan kaki atau bersepeda supaya sehat,” ujarnya.

Aktivitas yang dilakukan Gregorius Soeharsojopun bisa dibilang cukup banyak dibanding orang seusianya. Ia masih aktif melukis, bermain biola, menulis buku, menulis puisi dan berkebun. Saat ini ia sedang mempersiapkan buku berjudul ‘Tiada Jalan Bertabur Bunga’, yang dibantu oleh Janet.E.Steele, warga Amerika Serikat yang juga dosen Luar Biasa Universitas Indonesia. “Melukis, menulis, bernyanyi membawa kebahagiaan dan semangat hidup. Manusia yang hidupnya selalu bersemangat, gembira, damai dan senantiasa bersyukur akan memperoleh kesehatan yang berlimpah, apalagi jika ia terus berkarya,” ujarnya. Aktivitas berkebun juga setiap hari ia lakukan. Menyirami kembang dan menata tanaman di halaman rumahnya membuat estetika rumahnya benar-benar tampak sebagai rumah seorang seniman.

Untuk pola makan, ia menghindari makan makanan berlemak, berkadar gula dan teratur menjaga pola makan. “Disiplin pola makan juga harus dilakukan setiap hari. Tujuannya agar menjaga kesehatan tubuh,” ujarnya. “Selain itu hidup harus tetap optimis. Bila sedang dirundung masalah, berkaryalah, entah itu melukis, membuat lagu, puisi dan sebagainya. Berkarya juga dapat membuat orang menjadi optimis. Saya saja tidak kerasa bahwa umur saya sudah 76 tahun. Rasanya umur saya masih 30 tahun,” ujarnya sambil tertawa. Optimisme dalam hidup menurutnya sangat perlu, karena dapat menghilangkan segala beban pikiran.

Soeharsojo pada masa kecilnya dikenal sebagai anak seorang birokrat, pensiunan pegawai Belanda. Kehidupan keluarganya tercukupi, namun demikian, ia memilih bergaul dengan kehidupan rakyat yang menurutnya punya banyak kisah. Menurutnya, aktif  bersosialisasi dengan masyarakat membuat wawasan kita luas, serta membangun semangat kebersamaan. “Bersosialisasi juga merupakan salah satu pola hidup sehat. Kita dapat melakukan banyak aktivitas di dalamnya; yang penting harus terus beraktivitas, seperti kata saya tadi, jangan memanjakan diri,” ucap seniman yang telah merasakan kepemimpinan 6 presiden itu.



Pelukis Sejarah yang Terpotong

Soeharsojo muda ketika di Pulau Buru
Pada 1963 ia bergabung dengan Lekra. Menurutnya, pada saat bergabung, ia tak tahu-menahu tentang komunisme dan semacamnya. Niatnya hanya ingin berkesenian karena Lekra pada waktu itu adalah lembaga kesenian terkemuka yang didalamnya berisi pelukis dan seniman-seniman terkemuka. Meletusnya G 30 S/PKI membawanya berpetualang dari bui ke bui dan akhirnya ditempatkan dalam instalasi rehabilitasi dengan 12 ribu orang yang dianggap terlibat komunisme. “Waktu itu saya dibawa oleh orang-orang itu ke Pulau Buru, padahal sebenarnya saya tidak tahu menahu tentang komunisme dan politik. Waktu itu niat saya ikut Lekra adalah murni ingin berkesenian, bukan berpolitik,” ujarnya

Program instalasi rehabilitasi itu membawanya ke Pulau Buru. Sebuah pulau yang berdekatan dengan Maluku. Kenang Soeharsojo, Pulau Buru adalah tempat yang indah, dikelilingi pegunungan Batabual. Airnya bersih dan lingkungan masih terjaga. Akses masuk hanya satu, yakni melalui sungai Wayapo. “Tidak bisa jika tidak melalui wayapo, karena jalan lainnya dipenuhi pepohonan dengan akar-akar dan cabang-cabangnya yang besar,” kenangnya.

Selama di Pulau Buru, 12 ribu orang termasuk dirinya, selama bertahun-tahun bekerja melakukan pembangunan disana. Di waktu senggang, ia melukis sketsa tentang apa yang dilihatnya. Dari hasil bercocok tanam dan sebagainya ia mengambil hasil panen dan dibawanya ke komunitas suku Bugis yang ada disana untuk dibarternya dengan alat tulis dan buku gambar. “Dari sanalah saya bisa melakukan aktivitas membuat sketsa. Seluruh kegiatan saya di Pulau Buru saya rekam dalam sketsa-sketsa saya,” ujarnya.

Tampak, dalam sketsa-sketsanya kehidupan di Pulau Buru, seperti sketsa saat ia dan teman-temannya bekerja, sketsa kedatangan kapal yang memuat 500 tahanan politik, sketsa tentang masjid, gereja yang didirikan oleh pemuka-pemuka agama, sketsa tentang upacara bendera pada pagi hari, memanen hasil bercocok tanam serta sketsa tentang dua orang penduduk asli Pulau Buru yang menyunggi keranjang besar di kepalanya, dan salah satunya memegang tombak. “Waktu itu tak seorangpun berpikir untuk bisa pulang ke tanah asalnya,” ungkapnya sambil memperlihatkan sketsa berjudul ‘Jangan Pernah Berpikir Untuk Pulang’, yang memuat gambar-gambar para pekerja.

Pada tahun 1978, ia dan rekan-rekannya dipersilahkan untuk pulang ke tanah asalnya. Tahun itu pula Soeharsojo pulang ke tanah Jawa dan melanjutkan hidup. Ia juga tetap meneruskan aktivitas melukisnya itu dengan memindahkan gambar sketsa yang dilukisnya selama masa pengasingan ke dalam lukisan. “Ketika saya dan rekan-rekan Pulau Buru pulang ke Pulau Jawa, kami sudah dilabeli cap tapol yang pernah terlibat kegiatan PKI. Otomatis aktivitas saya menjadi terbatas. Ingin bekerja di pemerintahan juga sulit. Anak-anak saya juga otomatis sulit mencari kerja. Maka dari itu sepulang dari Pulau Buru, saya bekerja seadanya, asal bisa makan setiap hari dan bisa melukis,” kenang pria yang menjalani masa pengasingannya bersama novelis terkenal, Pramoedya Ananta Toer itu.

Pada 2005, ketika banyak sketsanya telah rampung menjadi lukisan, Soeharsojo mulai aktif berpameran. Telah banyak lukisan yang ia hasilkan. Kesemuanya bercerita tentang kehidupannya di Pulau Buru. Ia menerangkan pula bahwa dalam umurnya yang sudah lanjut, ia masih menyimpan cita-cita terpendam. “Saya ingin orang tahu bahwa lukisan saya bertemakan kemanusiaan, bercerita tentang sejarah yang terpotong, juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Soeharsojo selalu antusias saat bercerita tentang Pulau Buru. Menurutnya disana adalah pengalaman yang seru, indah sekaligus menyedihkan bila teringat sanak saudaranya di tempat asal. “Keadaan disana yang membuat saya tetap tegar, tetap optimis menjalani hidup, mendapat inspirasi lebih untuk berkarya, membuat saya tetap sehat dan tentunya awet muda,” ujar Pelukis yang karyanya mendapat perhatian luas dari kalangan masyarakat, utamanya akademisi, sejarahwan serta dosen luar biasa UI, Janet.E.Steele, warga Amerika Serikat yang tertarik untuk membantu menerbitkan bukunya yang masih dikerjakan hingga saat ini.

*Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post, 25 November 2012

No comments:

Post a Comment