Search This Blog

Tuesday, January 22, 2013

Ekstra Kurikuler Peduli lingkungan ala Smpk St Stanislaus Surabaya




BIODATA

Nama Ekstra Kurikuler       : Science Club
Sekolah                               : Smpk St Stanislaus, Surabaya
Pembina Ekstra Kurikuler   : Lilik Andajani

Prestasi 
                              
2011
-          Juara 1 Eco School tingkat Surabaya
-          Juara 1 Energy Challenge tingkat Surabaya

2012
-          Juara 2 Eco School tingkat Surabaya

Award Mingguan Sepanjang tahun 2012
-          Eco Teacher of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Program of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Mass Media Aproach of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Student of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Journalism of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya
-          Eco Headmaster of the Week, program pemeliharaan lingkungan hidup se- Surabaya




Ekstra Kurikuler Peduli Lingkungan ala Science Club

Berdasarkan data, jumlah sampah yang dihasilkan oleh kota Surabaya perharinya mencapai 1100 ton. Jumlah yang mencengangkan bukan? Sampah tentu menjadi salah satu persoalan pelik di kota ini, dan sudah barang tentu dibutuhkan kepedulian berbagai pihak, baik instansi pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan dan sebagainya. 

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah di Surabaya, misalnya, pemerintah mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah; bisa juga dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup; serta jika dilihat dari kacamata institusi pendidikan, penanaman kedisiplinan anak untuk membuang sampah sejak dini, penanaman kecintaan terhadap lingkungan hidup, juga pemberian pengetahuan kepada anak untuk mengelola sampah dengan baik dan benar adalah salah satu dari sekian banyak solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi menumpuknya sampah di Surabaya.

Selama ini banyak sekolah yang memberikan pelajaran tentang lingkungan hidup dan pelestariannya, namun, jika pemberian pelajaran berlangsung hanya pada tataran teori tanpa praktik, maka hal itu sama saja dengan nol besar. Hal itu merupakan salah satu kegelisahan yang sangat disadari oleh Smpk St Stanislaus, salah satu institusi pendidikan swasta di Surabaya. 

Berawal dari ide dari pembina ekstra kurikuler yang juga guru biologi dan kimia, Lilik Andajani, yang gelisah terhadap pengetahuan yang diberikannya kepada siswa bisa jadi akan menguap dengan sendirinya jika siswa tidak diajak untuk terjun langsung dalam praktek pemeliharaan lingkungan hidup yang diajarkannya. Maka dari itu pada tahun 2011 dibentuklah ekstra kurikuler Science Club di Smpk St Stanislaus yang fokus pada pemeliharaan lingkungan hidup serta pengolahan tanaman- tanaman tertentu seperti klerak dan tanaman berjenis TOGA untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Awal pembelajaran memang di dalam kelas, kemudian saya kembangkan dalam bentuk ekstra kurikuler untuk membina siswa agar peduli terhadap lingkungan hidup. Selain itu tujuannya untuk mendidik para siswa agar mereka tidak terlalu bergantung pada bahan kimia, melainkan memakai alternatif bahan lain yang ramah lingkungan,” ujar Lilik, Pembina ekstra kurikuler Science Club. Di dalam ekstra kurikuler Science Club, siswa diberi pengetahuan tentang pemeliharaan lingkungan serta dapat membuat sendiri alternatif bahan ramah lingkungan untuk keperluan sehari-hari.

Untuk pemeliharaan lingkungan hidup, para siswa anggota ekstra kurikuler Science Club dituntut untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolahnya menyangkut kebersihan dan sebagainya. “Salah satunya kami diajarkan untuk membuat ‘keranjang composter’, yakni tempat sampah inovatif yang bisa menyulap sampah menjadi pupuk kompos,” terang Silvy Octavia, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club.

Bagaimana cara membuat, juga cara kerja ‘keranjang composter’? Para siswa ekstra kurikuler Science Club memaparkan bahwa pembuatan keranjang itu diawali dengan mengalasi bagian dalam keranjang dan menutup berbagai sisi dalam keranjang dengan kardus bekas,kemudian bagian bawah diberi bantalan sekam, ditimbun dengan pupuk kompos, kemudian ditutup kembali dengan bantalan sekam. “Setelah semua selesai baru ditutup dengan kain dan akhirnya ditutup dengan penutup keranjang,” terang Sausa, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club. ‘Keranjang Komposter’ ditaruh di beberapa sudut sekolah. Sampah yang dibuang ke dalamnya akan diolah secara alami oleh bahan-bahan yang ada di dalam keranjang composter menjadi pupuk yang berguna untuk menyuburkan tanaman.

Untuk pemeliharaan lingkungan, selain membuat ‘keranjang composter’, para siswa dari ekstra kurikuler Science Club juga diajarkan untuk membuat lubang biopori, yakni lubang resapan yang dibuat dengan ukuran tertentu, yang diisi dengan sampah organik yang berfungsi sebagai penyerap air ke tanah dan membuat kompos. “Pembuatan lubang biopori ini membuat sekolah kami terbebas dari banjir. Biji-biji tanaman yang terbuang ke tanahpun dapat tumbuh subur,” ujar Melania Setyawati, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club.

Berkat usaha keras dari ekstra kurikuler Science Club, pada 2011, Smpk St Stanislaus meraih juara 1 lomba bertajuk Eco School, yakni lomba pelestarian lingkungan hidup antar sekolah se-Surabaya yang diselenggarakan oleh Pemkot dan bekerjasama dengan LSM Lingkungan Hidup, Tunas Hijau. Dalam kejuaraan itu mereka mendapat penghargaan atas pembudidayaan serta pemanfaatan tanaman klerak sebagai tanaman multiguna yang mulai langka di Indonesia.

Cara mereka mengawali budidaya tanaman klerak di sekolahnya juga terbilang unik. Mulanya, mereka mencoba membuat lotion anti nyamuk dari biji klerak yang direndam dalam baker glass, kemudian air rendamannya dicampur dengan body lotion. Setelah usai, biji klerak dibuang di tanah dan secara tidak sengaja beberapa hari kemudian dapat tumbuh subur. “Dari situ kami mulai membudidayakan klerak dan mempelajari manfaatnya,” ujar Pietra, wakil Pembina ekstra kurikuler Science Club Smpk st Stanislaus, Surabaya.

Selain digunakan sebagai lotion anti nyamuk, para siswa ekstra kurikuler Science Club juga memanfaatkan klerak sebagai bahan insektisida alami, sabun mandi, serta shampoo. “Buah klerak mengandung zat saponin, yaitu bahan pembersih yang ramah lingkungan. Orang-orang di pedesaan serta nenek moyang kita kerap menggunakan klerak untuk mandi dan mencuci. Sayangnya kini orang lebih memilih bahan kimia yang tak ramah lingkungan,” ujar Michael, salah satu anggota ekstra kurikuler Science Club.

Berdasarkan inovasi-inovasinya di bidang pemeliharaan lingkungan hidup dan pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan, Smpk St Stanislaus mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah dan seringkali memenangkan kejuaraan di bidang lingkungan hidup. Pada 2012 mereka meraih juara II Eco School tingkat Surabaya, dan berturut-turut meraih award mingguan, meliputi guru terbaik, kepala sekolah terbaik, siswa terbaik, karya tulis terbaik, program pemeliharaan lingkungan terbaik dan sebagainya.

“Semua tidak lepas dari peran serta berbagai pihak untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup,” ujar Lilik Andajani, pembina ekstra kurikuler Science Club, Smpk St Stanislaus.



Berbakti Kepada Masyarakat, Berkarya dan Persiapan Kejuaraan Internasional

Selain memelihara lingkungan hidup di sekolah, siswa-siswi peserta ekstra kurikuler Science Club di Smpk St Stanislaus juga berperan aktif di luar sekolah. Salah satunya mereka aktif membuat lubang biopori di berbagai sekolah di Surabaya, juga blusukan ke kampung-kampung untuk pembuatan lubang biopori serta aktif melakukan penyuluhan tentang lingkungan hidup hingga bekerja bakti untuk memelihara kebersihan tempat ibadah. “Contohnya Gereja Kristus Raja yang berdiri di depan sekolah kami. Disana kami aktif melakukan kerja bakti serta membuat lubang biopori agar tidak terkena banjir,” terang Carollina, siswa peserta ekstra kurikuler Science Club, Smpk St Stanislaus, Surabaya.

“Semua itu menunjukkan partisipasi aktif kami untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup agar tetap lestari,” ujar Valeria Tasya, salah satu siswa anggota Science Club

Selain aktif berbakti kepada masyarakat, Science Club saat ini tengah mengembangkan berbagai inovasi tentang lingkungan hidup, salah satunya mereka merambah pada bidang budidaya lele, membuat kertas dari daur ulang serta membuat jus bunga sepatu. “Kalau jus bunga sepatu, bahannya dari buah sirsat, dicampur kelopak bunga sepatu, kemudian dicampur gula dan es. Diblender dan jadilah jus yang nikmat dan berfungsi untuk menyembuhkan batuk, panas dalam dan segala keluhan menyangkut tenggorokan,” ujar  Michael.W, salah satu anggota Science Club 

 Hingga saat ini Smpk St Stanislaus kerap dijadikan tempat studi banding dari berbagai instansi pendidikan untuk mengetahui inovasi-inovasi mereka tentang pemeliharaan lingkungan hidup. Salah satunya adalah sekolah YPJ Kuala Kencana, dari Papua yang datang beberapa bulan lalu untuk belajar.

Ditanya mengenai harapan ke depan, Lilik Andajani selaku Pembina memaparkan bahwa Science Club yang kini anggotanya berjumlah sekitar 50 siswa itu akan terus mengembangkan inovasi-inovasinya yang ramah lingkungan serta intensif untuk melakukan langkah pemeliharaan terhadap lingkungan hidup. “Kalau lomba-lomba, saat ini kami sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan Volvo Sains, yakni, proyek sains tentang lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh United Nation Environtment Program (UNEP) di tingkat internasional,” pungkasnya.


QUOTE


 



Lilik Andajani, Pembina Science Club
“Melalui ekstra kurikuler ini sekolah ingin mendidik siswa untuk berpikir kritis, ilmiah, melatih kemampuan menulis dan lebih mencintai lingkungan”






 


 Melania Setiawati
“Saya menyukai Science Club kaena memberi banyak pengetahuan dan memberi manfaat untuk kehidupan di masa depan”







Sausa. S

“Science Club sangat menyenangkan. Selain itu berguna pula untuk menambah wawasan tentang pemeliharaan lingkungan serta pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan






 



Carollina. J
“Ekstra Kurikuler Science Club sangat inspiratif dan dapat memotivasi generasi muda lain agar mau mencintai lingkungannya”

 






Valeria Tasya
“Bagi saya, kegiatan yang dilakukan di Science Club sangat inspiratif dan memotivasi semangat kami untuk terus menjaga lingkungan hidup. Ciayoo!!”






Michael. AT
“Science Club membuat saya seakan menjadi ilmuwan yang akrab dengan percobaan yang menarik dan menantang!”




 #Tulisan saya ini pernah dipublikasikan di Surabaya Post tanggal 27 Januari 2013

No comments:

Post a Comment