Kamis, 30 Mei 2013

KOPERJATI: Komunitas Perupa Jawa Timur




Nama Komunitas        : Komunitas Perupa Jawa Timur (KOPERJATI)
Berdiri Sejak               : 2004
Ketua Komunitas        : Muit Arsa
Penasehat                    : Agus Koecing
Base Camp                  : Balai Pemuda Surabaya
Sekretariat                   : Jl. Pulo Wonokromo 255, Surabaya
Anggota Aktif             : 50 orang



Koperjati: Wadah Ekspresi Perupa Se-Jawa Timur

Dewasa ini perkembangan seni rupa Indonesia yang semakin mengalami kemajuan membuat semakin banyak jumlah perupa yang muncul ke permukaan. Adu kreativitas serta kreasi berlangsung di antara para perupa tersebut. Tentunya peran media massa, internet serta keterbukaan informasi membuat para perupa tidak pernah kehilangan referensi dan pengetahuan tentang dunia seni rupa.

Di Jawa Timur sendiri banyak berlangsung even pameran seni rupa yang diselenggarakan di berbagai daerah. Adanya dewan kesenian yang tersebar di daerah-daerah di Jawa Timur memberikan kesempatan bagi para perupa untuk bisa memamerkan karya-karyanya. Selain itu, dewan kesenian banyak memberikan informasi seputar seni rupa yang juga berguna bagi eksistensi para perupa di berbagai daerah.

Sebagai ibukota provinsi, Surabaya merupakan dambaan dari para perupa daerah untuk bisa berpameran di kota tersebut. Tentunya status sebagai kota Metropolitan dimana perputaran roda ekonomi serta keterbukaan informasi membuat perupa dari berbagai daerah berlomba-lomba untuk bisa berpameran di kota itu. Tentunya tidak mudah bagi para perupa, utamanya pemula untuk bisa berpameran di Surabaya, karena selain perupa lokal jumlahnya telah membludak, keterbatasan ruang pamer juga menjadi kendala.

Berdasarkan kegelisahan tersebut, Muit Arsa, seorang seniman seni rupa Surabaya berinisiatif mendirikan sebuah wadah untuk bisa menaungi seluruh perupa dari berbagai daerah di Jawa Timur. Jaringan luas yang dimiliki oleh Muit Arsa di Surabaya, terkait akses ke dalam sarana-sarana ruang pamer serta informasi tentang kolektor-kolektor seni ingin ia manfaatkan bagi para perupa di Jawa Timur untuk bisa eksis di dalamnya.

“Wadah itu selain sebagai sarana berpameran perupa Jawa Timur di Surabaya, juga berfungsi sebagai sarana ekspansi karya kami ke luar Surabaya, ke daerah-daerah di Indonesia, bahkan harapannya bisa membawa perupa Jawa Timur berpameran hingga ke luar negri,” ungkap Muit Arsa. Walhasil, dengan usaha kerasnya, tepatnya pada tahun 2004 ia mampu mengajak puluhan perupa dari berbagai daerah di Jawa Timur, bergabung dalam suatu wadah yang dinamakan Koperjati (Komunitas Perupa Jawa Timur).

Dengan harapan mampu mengakomodir para perupa Jawa Timur untuk bisa mengembangkan kreasi, kreativitasnya dengan berpameran di Surabaya dan Indonesia, Koperjati pada 2004 membuat gebrakan awal, yakni mengadakan sebuah pameran seni rupa yang dinamakannya pameran ‘Lintas Generasi’. Pameran itu diselenggarakan di Balai Pemuda, Surabaya, dan mengikutsertakan 70 perupa dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga perupa berusia lanjut. Gebrakan awal ini mendapat respon positif dari masyarakat Surabaya juga pengamat-pengamat seni rupa di Surabaya. Gebrakan awal yang melibatkan perupa lintas generasi itupun tak ayal membuat nama Koperjati mulai dikenal.

Gebrakan awal yang cukup mendapat respon positif dari masyarakat serta para pengamat seni itu rupanya tak cukup sampai disitu. Berbagai kegiatan yang mereka adakan dalam perjalanannya juga banyak menyita perhatian dari masyarakat luas. “Setiap tahun kami mengadakan beberapa kali even pameran dan selalu mendapat respon dari masyarakat,” ujar Hadi Gondrong, salah satu anggota Koperjati.

Tercatat dari tahun 2004 hingga kini Koperjati telah melakukan 12 kali pameran di Surabaya dan di berbagai daerah di Jawa Timur. Dalam setiap pameran, mereka melakukan sistem seleksi untuk menjaring karya-karya yang layak pamer. “Sistem seleksi ini melibatkan banyak pengamat seni, sehingga kami selalu bisa menjamin mutu dan kualitas karya yang dipamerkan. Maka dari itu Koperjati semakin dikenal masyarakat karena di dalamnya banyak perupa-perupa berbakat,” ungkap Juniarto, anggota Koperjati yang juga guru seni rupa di sekolah swasta itu.

Dalam perkembangannya, Koperjati semakin dikenal masyarakat luas. Perupa-perupa dari berbagai daerah secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan tiap tahunnya dan seiring perkembangan waktu, intensitas media massa dalam mengekspos keberadaan Koperjati semakin ramai dan tentu membuat anggota mereka semakin banyak. “Keberadaan media massa juga berpengaruh terhadap eksistensi kami dan pemberian informasi kepada para perupa daerah untuk bergabung,” ujar Wahyudi, anggota Koperjati. Diterangkannya pula, bahwa anggota Koperjati memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari guru, dosen, pengusaha, PNS hingga petani daerah.

Selain mengadakan even pameran rutin, Koperjati kerap kali mengadakan even-even semisal melukis bersama yang diikuti oleh puluhan anggotanya. Kegiatan melukis bersama itu kerap diadakan di berbagai tempat, seperti di gedung kesenian, cafe, hotel maupun tempat-tempat lain di Surabaya. Selain itu mereka juga kerap menyewa model untuk acara lukis model dan pergi ke daerah-daerah tertentu untuk melukis landscape secara bersama-sama.

Selama ini Koperjati dalam hal menjaga silahturahmi antar anggota, mereka kerap mengadakan diskusi seni dan ngobrol santai di sekretariat mereka di Jl.Pulo Wonokromo 255, Surabaya. Tiap sebulan sekali mereka selalu menyempatkan diri untuk silahturahmi ke berbagai daerah untuk berkumpul dengan para anggotanya di daerah-daerah. “Anggota kami tersebar di berbagai daerah. Jadi, kami selalu menyempatkan diri untuk mengadakan acara kumpul bareng di berbagai daerah,” ujar Misgeiyanto, anggota Koperjati.

Sekalipun beranggotakan individu dari keilmuan yang sama, yakni seni rupa, Koperjati mampu menjaga kesolidan organisasinya. “Tidak ada aroma persaingan yang buruk disini; yang ada adalah saling mengisi. Persaingan dalam hal kualitas itu biasa. Kami sering berbagi tekhnik melukis,” ujar Asep, salah satu anggota Koperjati.

Koperjati yang berdiri sejak 2004 dan tetap eksis hingga sekarang adalah suatu keberhasilan bagi tiap anggotanya, mengingat, iklim komunitas kesenian di Surabaya yang akrab dengan nuansa persaingan sangat kental. Keberhasilan itu memancing kekaguman dari seorang Agoes Koecing, kurator seni rupa nasional yang kini menjabat sebagai penasihat Koperjati. “Anggota Koperjati tersebar di berbagai daerah, dan hingga kini mereka masih tetap eksis serta sangat solid. Salut!,” ujarnya.



Kepedulian dalam Tema Karya Seni Rupa

Dua belas kali pameran seni rupa hingga sekarang bukanlah suatu hal yang bisa dipandang sebelah mata. Itulah hasil kerja keras Koperjati, komunitas seni rupa Jawa Timur yang beranggotakan puluhan perupa dari berbagai daerah.

Jika kita banyak membaca kecenderungan seni rupa baik di Indonesia maupun dunia, pergerakan-pergerakan seni rupa avant garde kerap dipelopori oleh para individu dan tidak jarang pergerakan itu merupakan buah pemikiran sebuah komunitas seni. Di Indonesia kita mengenal Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) yang aktif dengan tema-tema kritis terhadap pemerintahan, maupun komunitas-komunitas lain yang tersebar di berbagai wilayah. Lalu bagaimana dengan Koperjati?

“Dalam setiap pameran sebenarnya kami kerap tidak membatasi ekspresi para perupa dalam kerangka tematik tertentu. Namun adakalanya kami membuat tema-tema yang berkaitan dengan kepedulian, baik kepedulian sosial maupun budaya,” ungkap Sulton, anggota Koperjati.

Kepedulian sosial dalam tematik pameran Koperjati telah beberapa kali diwujudkan, seperti penyelenggaraan pameran yang hasilnya didonasikan untuk korban bencana lahar merapi beberapa tahun yang lalu, juga pameran-pameran lain yang hasil penjualannya dipergunakan untuk amal.

Pada pameran yang akan digelar beberapa bulan ke depan, Koperjati akan mengadakan pameran dengan tema kepedulian terhadap kesenian reog. “Jadi kami akan melukis segala sesuatu tentang reog. Tema itu merupakan wujud kepedulian kami terhadap kesenian reog, agar jangan sampai diklaim bangsa lain,” tukas Jiyu, anggota Koperjati.

Ke depan, selain menyelenggarakan pameran di Surabaya, Koperjati akan menyelenggarakan pameran keliling Indonesia, bahkan beberapa bulan ke depan mereka akan berangkat ke Malaysia untuk berpameran di negri jiran itu.

Tentu kepedulian, baik sosial maupun kebudayaan sangat dibutuhkan di negri ini. Komunitas-komunitas dan individu-individu telah banyak yang memulainya. Bagaimana dengan kita? m17



Komentar

 

Muit Arsa, Ketua Koperjati
“Koperjati adalah wadah untuk mengakomodir para perupa di Jawa Timur agar bisa tetap eksis dan berpameran di berbagai kota di Indonesia, bahkan di luar negri. Mari membangun seni rupa Jawa Timur untuk bisa lebih baik lagi”






 

Agus Koecing, Penasehat Koperjati
“Koperjati adalah komunitas yang mempunyai gerakan bersenirupa yang konsisten, solid dan tidak segan berdiskusi dengan orang yang dianggap mampu berdiskusi, demi kebaikan mereka semua”






 

Misgeiyanto, anggota Koperjati
“Di dalam Koperjati para perupa bisa saling bertukar wawasan berkesenian yang membuat pengetahuan kami semakin bertambah, baik dalam tekhnik berkarya maupun wawasan seni”






 

Juniarto, anggota Koperjati
“Kehadiran Koperjati di tengah-tengah seniman Jawa Timur sangat terasa, terutama bagi seniman daerah dimana mereka bisa ikut berpameran bersama-sama. Komunitas ini penuh kekeluargaan dan solidaritas





 



Mang Asep Bandung, anggota Koperjati
“Koperjati mengakomodir para seniman di Jawa Timur dan tetap eksis di tengah isu-isu industri kreatif yang sedang dinyalakan dimana-mana. Tidak lupa, Koperjati juga bisa mengakomodir kesenian lokal dan kearifannya”








*Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar