Jumat, 07 Desember 2012

John Tondowidjojo: Professor Sepuh yang Produktif Berkarya




BIODATA


Nama                                       : Prof. Dr. K.R.M.T.  John Tondowidjojo. CM
Tempat Tanggal Lahir                : Ngawi, 27 September 1934
Alamat                                      : Paroki Kristus Raja, Jl. Residen Sudirman, Surabaya

Riwayat Pendidikan :

-          Filsafat, Sekolah Tinggi Filsafat Surabaya
-          Studi Teologia, Collegio Sale- Bignole, Negroni, Genova, Italia
-          Komunikasi intercultural ‘Ethnologia’, Pontificia Universitas Urbaniana, Roma, Italia

Spesialisasi :

-          Musik untuk ‘Komposisi dan Dirigent’ di Centro della Cultura, Venezia, Italia
-          ‘Communication, Art and Media’ di Trinity and All Saints College, Leeds University, Inggris
-          Intensive Job Training di bidang ‘Publishing’, di National Communication Centre, Dublin-Irlandia
-          Intensive Job Training di bidang ‘Visual Communication’, Selly Oak Colleges, Burmingham, Inggris
-          Intensive Job Training bidang ‘Radio, Televisi dan Film’, National Communication Centre, Hatch End, London, Inggris
-          Intensive Job Training bidang ‘Community Paper Journalism’ pada Communication Foundation for Asia , Manila, Filipina
-          Post-graduate study bidang ‘Interpersonal Communication and Public Relations’, Niagara University, Amerika Serikat
-          Post-Graduate study bidang ‘Human Resources Management’, World Trade Centre (WTC), Manhattan, Amerika Serikat
-          Sejak tahun 1965 menjadi wartawan freelance di berbagai media cetak

Lembaga :

-          Anggota UNDA / OCIC Indonesia (televisi, radio dan film)
-          Population Institute of the United Nations, U.S.A
-          IPRA (International Public Relation Association), Geneva
-          International Journalist (UCIP) Geneva, Swiss dengan status Ambassador
-          Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS)
-          Center for Business Ethics, U.S.A
-          AMIC (Asian Media Information and Communication Center), Singapore
-          Pontificial Council for Culture, Vatican
-          IFDO (International Federation for Training and Development Organization), U.S.A
-          ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia)
-          ASTD (American Society for Training and Development), U.S.A


Karier :

-          Imam Katolik sejak 1963
-          Pembina Sanggar Bina Tama, Surabaya




Professor Sepuh yang Produktif Berkarya


Alunan merdu lagu pujian gereja Katolik siang itu menemani pertemuan saya dengan Prof. Tondowidjojo, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Romo Tondo di Paroki Kristus Raja, Surabaya. Di usianya yang menginjak 77 tahun, Romo Tondo masih giat beraktivitas, baik menulis, membina yayasan dan mengajar di berbagai universitas. Professor ahli komunikasi Ethnologia itu melontarkan gagasan-gagasan yang ingin diraihnya sekaligus bercerita tentang masa lalunya dimana ia pernah memiliki pengalaman menjadi wartawan lepas.

Sekalipun usianya telah sepuh, Romo Tondo masih tajam dalam mengemukakan gagasan dan ide-idenya. Tampak, tubuhnya masih fit dan segar-bugar. Saya yang penasaran kemudian menyinggung mengenai resep sehatnya. Romo Tondo lalu mengungkapkan bahwa ia terbiasa dengan kedisiplinan dalam menjalani rutinitas. “Disiplin diri dan disiplin waktu harus diterapkan dalam hidup. Misalnya tidur harus teratur, makan teratur dan sebagainya,” tandas kerabat dekat pahlawan nasional R.A Kartini itu. Ia juga mengungkapkan pola makan yang ia terapkan bahwa ia lebih mementingkan makanan sehat daripada makanan enak. “Makan makanan sehat lebih penting daripada makan makanan enak,” tambahnya.

Pola hidup sehatnya itu menunjang aktivitas mengajar, menulis, berkesenian dan memberi pelatihan komunikasi dan jurnalistik yang dijalaninya sejak 1965 hingga kini. Romo Tondo mengungkapkan pula bahwa di usianya yang sekarang, ia masih punya rencana untuk menerbitkan buku karya terbarunya, yakni ‘Dunia Wayang Purwa dan Pendidikan’. Buku itu akan diluncurkan kelak, tepat pada peringatan 10 tahun imamat, 31 Maret 2013. Ia menceritakan tentang pentingnya dunia pendidikan, utamanya untuk membentuk karakter siswa. “Dalam wayang purwa banyak keteladanan yang dapat dicontoh para siswa untuk membentuk karakter dirinya. Contohnya tokoh Abiyasa dalam pewayangan yang memberi keteladanan bagi sesama,” ujarnya. Romo Tondo juga mengungkapkan bahwa dunia pendidikan saat ini sangat kurang dalam hal pendidikan ‘Character Building’. “Sekolah saat ini memang banyak mencetak orang pintar, tapi bila pintar semata tanpa ditunjang karakter yang mumpuni, maka hasilnya percuma. Ironisnya, banyak guru tidak mampu mengajar dengan baik. Seharusnya guru selain mentransfer ilmu, mereka juga harus bisa membentuk karakter anak didiknya,” tandasnya.

Romo Tondo berbicara panjang lebar mengenai dunia pendidikan. Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan membuatnya menggagas sanggar Bina Tama, yang terletak di kompleks Residen Sudirman, Surabaya. Sanggar Bina Tama menaungi anak-anak dari kalangan tak mampu agar mereka bisa bersekolah. “Sanggar ini memiliki proyek anak asuh dari kalangan keluarga miskin. Kami membantu mereka untuk bisa meraih masa depannya dimana kami membantu pendidikan mereka dari SD hingga perguruan tinggi,” ujarnya. Romo Tondo juga menjelaskan bahwa sanggar Bina Tama mendapat bantuan dana dari para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Yayasan yang tiap tahunnya menerima 10 anak kurang mampu itu telah menghasilkan banyak anak didiknya yang berhasil meraih masa depannya. “Guru besar Unsud, Prof. Fransisca Suhartati dulunya adalah anak didik kami di sanggar Bina Tama,” ungkapnya dengan bangga.

Dalam sanggar Bina Tama yang dibinanya, Romo Tondo memaparkan bahwa ia menerapkan pendidikan karakter dan budi pekerti kepada anak didiknya. Ia juga menjelaskan bahwa dukungan orangtua sangat diperlukan dalam membentuk karakter anak didik. “Pendidikan di Indonesia terlalu difokuskan kearah iptek sehingga pendidikan pengembangan karakter dan budi pekerti menjadi kurang maksimal. Orangtua sebagai garda terdepan haruslah peduli terhadap pengembangan karakter anak,” ujar putra pasangan KRMT Tondowidjojo dan R.A Sutiretno Sosrobusono itu. Romo Tondo juga memaparkan bahwa pendidikan karakter dan budi pekerti sangat perlu, sebab bila tidak, anak akan menjadi tidak baik dan bangsa Indonesia akan kehilangan generasi penjaga karakter bangsa.

Dalam mengembangkan karakter anak didik, Romo Tondo telah melakukan sejumlah kegiatan yang menunjang karakter anak, utamanya penanaman kecintaan terhadap budaya Indonesia. Ia kerap mengadakan festival budaya nasional tiap tahun yang diikuti kalangan pelajar. Menurutnya, penanaman kecintaan terhadap budaya nasional dapat menunjang pengembangan karakter anak. “Budaya nasional harus benar-benar dijaga dan ditanamkan dalam jiwa setiap anak didik supaya karakter bangsa ini tidak lenyap oleh arus globalisasi,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa adanya pengaruh global membuat anak lebih tertarik pada arus baru budaya asing. Akibatnya, budaya bangsa semakin terpinggirkan, terlebih peran dunia pendidikan yang kurang memperhatikan pendidikan pengembangan karakter dan kecintaan budaya bangsa. “Padahal lewat budaya kita bisa membina nasionalisme. Pengaruh media massa dan orangtua yang ikut arus budaya asing yang masuk ke Indonesia membuat anak bisa kehilangan kecintaannya terhadap bangsanya sendiri,” paparnya. Ia juga menyebutkan bahwa kepeduliannya terhadap dunia pendidikan sejalan pula dengan dukungan gereja dalam dokumen Gravissimun Educationist, konsili Vatikan II, yang menyebutkan bahwa gereja mengingatkan dan menekankan orangtua untuk memberi pendidikan ‘Character Building’ pada anak. 

Romo Tondo juga mengisahkan bahwa aktifitas dan kegiatannya dalam menulis, berkesenian dan pendidikan membuatnya selalu bersemangat dalam menjalani hidup. “Puji Tuhan saya masih sangat sehat dan masih bisa beraktivitas dan berkarya, sebagai wujud sumbangsih saya bagi umat, masyarakat maupun bangsa dan negara,” pungkasnya.


Wartawan Freelance sekaligus Seniman Multitalenta

Romo Tondo dan Piagam Lukisannya
Selain menjadi imam, Romo Tondo adalah wartawan freelance yang tergabung dalam UCIP (Union Catholique International de la Press), forum wartawan internasional yang bertempat di Geneva, Swiss dengan status ambassador. Ia menjelaskan bahwa ia aktif sebagai wartawan freelance sejak tahun 1965 dan tulisannya banyak dimuat di berbagai media massa. 

Ditanya mengenai kegemarannya sebagai wartawan, Romo Tondo menyebutkan bahwa semua itu tak lepas dari kegemarannya menulis dan memperhatikan situasi. Ia juga menyebutkan bahwa wartawan sebagai pemerhati manusia, haruslah memiliki misi untuk membangun manusia supaya selaras, harmonis dan serasi dengan kehidupan. “Wartawan juga tidak boleh melanggar kode etik kewartawanan dan harus lebih memperhatikan etika jurnalistik. Wartawan yang baik adalah wartawan yang selalu giat mempelajari masyarakat dan manusia,” ungkap peraih Man of the year dari PBB di Amerika Serikat itu karena keaktifannya dalam kegiatan internasional dan keahliannya di bidang ilmu komunikasi.

Romo Tondo juga berkisah tentang kegiatannya berkeliling ke luar negri untuk mengikuti konferensi maupun memberikan pengajaran. Di luar negri, ia selalu menyempatkan diri untuk tampil di hadapan umum sembari memperkenalkan budaya Indonesia. “Saya memakai pakaian adat Indonesia dan meminta untuk tampil selama 10-15 menit dengan tujuan memperkenalkan budaya bangsa di luar negri,” ujarnya. Ia juga menceritakan tentang pengalamannya membawakan tarian nelayan ketika di luar negri dan membawakan tari senam pagi nasional di BBC, London, Inggris. 

Selain usahanya memperkenalkan budaya Indonesia ke luar negeri, Romo Tondo juga memperkenalkan musik Indonesia di luar negri. Pada 1960, ia mendalami pendidikan jurusan direksi dan komposisi di Centro della Cultura, Venezia, Italia. Ia mengungkapkan pula bahwa ia telah menciptakan 4 hymne. Ia aktif bermain musik hingga sekarang dan memiliki segudang pengalaman tampil di dalam maupun luar negri. “Saya pernah mengadakan demo permainan musik dan memimpin konser di dalam dan luar negri.

Melukis adalah keahliannya pula. Ia menunjukkan pada saya lukisan wayang yang ia kerjakan pada 1957 dan lukisannya itu telah diperkenalkannya ke luar negri. “Saya gemar melukis wayang. Lukisan saya pernah pula saya berikan pada acara ulang tahun guru besar saya di Italia, namanya professor Giachino dari Universitas Brignole Sale,” ujar professor yang juga anggota kependudukan nasional di PBB itu.

Aktivitas yang padat diimbangi pola hidup yang sehat membuat Romo Tondo selalu tampak segar bugar dan sehat walafiat. “Aktivitas yang padat harus diimbangi dengan pola hidup sehat agar kita tetap semangat,” pungkas imam Katolik yang total 90 bukunya dikoleksi oleh berbagai perpustakaan di Amerika Serikat dan Belanda itu.


* Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post 09 Desember 2012 

1 komentar:

  1. Slamat ulang tahun romo Tondo sehat sll n sll dlindungi Tuhan........ Doakan kami juga agar dpt mengikut jejakMu

    BalasHapus