Jumat, 07 Desember 2012

Brangerous Art Community



Anggota Komunitas Brangerous



Brangerous 
Ruang Ekspresi Seni Kaum Perempuan


Perempuan kerap dijadikan sasaran kekerasan, pelecehan, bahkan trafficking yang dilakukan oleh banyak oknum di negri ini. Bias genderpun masih tampak nyata dalam kenyataan masyarakat. Munculnya Organisasi perempuan serta adanya peran serta masyarakat yang peduli setidaknya dapat mengingatkan masyarakat serta pemerintah tentang pentingnya perlindungan terhadap kaum perempuan.

Macam-macam bentuk kriminalitas yang mengancam perempuan, semisal pelecehan seksual serta eksploitasi seks, trafficking serta ketidaksetaraan gender mengundang perhatian dari sejumlah seniman wanita, di antaranya bernama Maria, Dinar, Jajaq, Igna, Tantru dan (alm) Sapta, alumnus jurusan Desain Produk, Institut Teknologi 10 November (ITS), Surabaya untuk membuat sebuah gerakan kesenian sebagai upaya untuk mengeskplorasi ragam permasalahan yang menyangkut kaum perempuan dan menyelipkan pesan kepada masyarakat bahwasanya perempuan perlu perlindungan, perempuan mampu bekerja dan berkarya seni sebagai upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia.

‘Brangerous’, itulah nama komunitas yang mewadahi gerakan kesenian yang digagas oleh para seniman wanita, yang didirikan pada tahun 2008. “Brangerous didirikan agar masyarakat dapat tahu bahwa kami kaum wanita juga mampu berkarya seni. Komunitas ini sekaligus sebagai wadah bagi seniman wanita untuk berekspresi dan bereksistensi lewat karyanya,” ujar Iis Yunus, anggota Brangerous.

Visi dan misi Brangerous adalah mendukung perempuan yang melakukan aktivitas berkesenian, melakukan aktivitas pameran seni lintas genre dan memberikan kesempatan bagi para perempuan untuk mengutarakan pandangan, pendapat, mimpi, obsesi, imajinasi, kritik dan saran untuk permasalahan-permasalahan perempuan maupun permasalahan dunia lewat karya seni. “Melalui karya seni Brangerous ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwasanya kaum perempuan patut dihargai, patut dilindungi dan dihormati,” ujar Abigail Niendy, anggota Brangerous.

Mengapa memilih nama ‘Brangerous’? Mereka menjelaskan bahwa ‘bra’ identik dengan perempuan, sedangkan ‘dangerous’ dalam bahasa Inggris berarti berbahaya. “Eits, tapi bra bukan sekedar bra yang dipakai kaum perempuan, namun bra juga memiliki kepanjangan, yakni Brain Release Art. Karya-karya kami berasal dari ide, pemikiran serta kedekatan sesama wanita dalam hati,” ujar Citra Ratih Prameswari, anggota Brangerous.

Dijelaskan pula bahwa seni adalah media kebebasan menyuarakan pendapat dan tidak ada aturan yang mengikat. “Hal itulah yang melandasi kami untuk membuat komunitas yang bergerak di bidang seni, selain karena memang kami cinta terhadap seni itu sendiri,” tandas Adrea Kristatiani, anggota Brangerous. Brangerous sebagai komunitas seniman wanita juga menjalin kerjasama sosial dan memperluas jaringan. Tujuannya, agar mereka lebih peka terhadap permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat, khususnya yang menimpa kaum perempuan.

Brangerous sejak tahun 2008 memiliki banyak kegiatan pameran seni yang memasukkan segala unsur kesenian, mulai dari seni rupa, prosa, puisi, video art, komik, ilustrasi, film dokumenter dan lain-lain. “Kami memasukkan segala bentuk kesenian dalam aktivitas pameran kami. Brangerous bebas, tidak memiliki kecenderungan terhadap seni tertentu. Siapapun kaum perempuan yang memiliki karya seni dalam bentuk apapun, kami terima dengan tangan terbuka,” ujar Iis Yunus, anggota Brangerous.

Contohnya pada Oktober 2012 mereka menyelenggarakan pameran seni yang merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap kesadaran untuk melakukan pencegahan Breast Cancer. Mereka memaparkan bahwa pameran tersebut sebagai bentuk luapan kasih sayang mereka untuk kaum perempuan di seluruh dunia serta penghargaan yang mereka berikan tentang perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh kaum perempuan untuk mencapai keinginan menjadi manusia seutuhnya dengan harapan dapat dipandang sebagai objek dengan segala eksistensinya. “Atas nama perempuan, pameran Oktober kemarin diselenggarakan juga untuk memperingati bulan Oktober sebagai bulan kesadaran kanker payudara sedunia, International Breast Cancer Awareness dengan satu pesan yang sama, yakni perlindungan terbaik adalah pendeteksian dini,” ujar Abigail Niendy.

Dalam eksistensinya, Brangerous kerap bekerjasama dengan pihak-pihak lain, utamanya menyangkut pihak yang bergerak di bidang pemberdayaan atau perlindungan perempuan. Sebut saja Koalisi Perempuan Indonesia, tokoh perempuan, Ester Kuntjara maupun lembaga Reach to Recovery Surabaya, sebuah lembaga yang menangani permasalahan kanker payudara. “Seringkali kami didukung oleh banyak pihak dalam setiap pameran seni yang kami selenggarakan. Disana kami kerap membuka suatu ruang diskusi yang membahas tentang permasalahan-permasalahan perempuan dan anak-anak, misalnya eksploitasi seksual, trafficking maupun ketidaksetaraan gender,” ujar Shelly Bertha Idelia, anggota Brangerous.

Ketika ditemui, komunitas Brangerous tampak membawa serta karya-karya milik masing-masing anggotanya. Terdapat puluhan karya yang sebagian besar mengeksplorasi bra sebagai media berekspresi. Contohnya karya Maria Cecilia yang berjudul Breast Cancer Awareness Coin Purse (Bra dan alat jahit). Tampak disitu sebentuk karya dompet yang dibuat dari kedua ujung bra yang dikaitkan dan dijahit serta sebagai pemanis, dikaitkan pula pernak-pernik kain untuk menambah nuansa artistiknya. Menurut Maria, karyanya itu dibuat sebagai bentuk penghargaan terhadap kaum perempuan, utamanya yang peduli terhadap kanker payudara. “Tujuannya agar para wanita dapat menyimpan koin sisa belanjaannya. Meski uang koin bernilai kecil, namun dapat bermanfaat bagi wanita lain yang membutuhkan. Melalui hal kecil itu para wanita dapat memberikan dukungan kepada para survival kanker payudara,” ujarnya.

Adapula karya Luri Renaningtyas yang berjudul ‘Sex Sells’, dimana dalam karya itu Luri mengeksplorasi uang kertas sebesar 100 ribu rupiah yang saling ditempelkan dikaitkan hingga membentuk sebuah bra. Ketika ditanya maknanya, Luri mengatakan bahwa karyanya itu menarasikan perempuan yang selalu jadi komoditi. “Perempuan kerap menjadi komoditi ekonomi, seakan-akan perempuan adalah sosok yang punya kekuatan magis bagi kebutuhan kapital yang menjadikannya sesuatu yang menjual,” terangnya.

Komunitas Brangerous sejak tahun 2008 telah melakukan pameran seni. Di antaranya Go,Go Girl (2008), Brativity (2009), Merah Putih Harimu, The Way I Dress Up, Dream / Obsession (2010), What We Love about Friend (2011) dan yang terakhir, di tahun 2012 adalah pameran ABRAcadaBRA yang mengulas tentang Breast Cancer. Sampai saat ini mereka memiliki banyak anggota, namun yang aktif berkarya sekitar 30-40 orang. Di dalam Brangerous, tidak ada susunan ketua, bendahara, sekretaris dan semacamnya. “Kami bergerak bersama-sama, mempunyai visi dan misi secara bersama-sama. Tidak ada ketua dan semacamnya karena kami satu hati dalam melakukan segalanya. Semua sama rata,” ujar Icha, anggota Brangerous.

Mereka mengatakan bahwa mereka akan tetap konsisten dalam mengulas permasalahan-permasalahan wanita dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa perempuan juga bisa berkarya seni dan berekspresi. Sebagai media eksplorasi, di lain kesempatan mereka akan menggunakan media lain selain bra. “Kami juga punya rencana untuk mengeksplorasi media lain selain bra. Apa itu? nantikan saja pameran-pameran kami selanjutnya. Kami akan terus berkarya, kalau perlu sampai titik darah penghabisan,” pungkas Iis Yunus dengan menggebu-gebu.



QUOTE 



Iis Yunus
“Brangerous bukan tempat untuk dinilai. Kami hanya berekspresi dan bereksistensi”





 
Citra Prameswari
Brangerous sebagai media eksistensi wanita melalui visual art. Semoga dapat menginspirasi wanita, khususnya di Surabaya




 

Shelly Bertha Idelia
“Brangerous bukan hanya seni rupa, tapi lebih meluas, meliputi banyak bentuk seni, seperti grafis, ilustrasi, instalasi, fotografi, mural dan lain-lain. Kami menyuarakan pesan lewat seni”

  
 



Adrea Kristatiani
“Brangerous adalah tempat para perempuan berjiwa seni untuk menyalurkan dan berbagi inspirasi serta sebagai eksistensi perempuan sebagai subjek dalam karya seni”



  


Abigail Niendy
“Sebut kami perempuan, jangan wanita! Kami adalah Mpu. Aku, kami, kita atau mereka adalah empunya kehidupan. Disini ada tawa, tangis dan benci. Disini ada nafas-nafas untuk merayakan kebebasan berekspresi”




* Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post edisi 09 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar