Jumat, 04 Januari 2013

PAGUYUBAN KARAWITAN SASTRA JENDRA SURABAYA





Terilhami dari Ajaran Sastra Jendra

“Nguri-uri ing Budoyo, Gawe Mulyaning Negoro. Nguri-uri ing Susastri, Tumrap Lestari ning Bumi (Mempelajari dan menekuni kebudayaan, demi kemuliaan bangsa. Menekuni dan mempelajari makna sastra, agar tetap lestari dan terjaga,”. Itulah petikan lirik lagu Jawa yang dibawakan oleh para sinden dari Paguyuban Karawitan Sastra Jendra, Surabaya. Sesuai dengan pepatah para cendekiawan: membangun sebuah bangsa harus diawali dengan membangun dan menjaga budayanya.

Semangat menjaga budaya Jawa sebagai produk asli Indonesia begitu tertanam di hati anggota Paguyuban Karawitan Sastra Jendra (Pakar Sajen) Surabaya. Sesekali alunan merdu musik Jawa terdengar nikmat di telinga, mengingatkan kita pada kejayaan bangsa Indonesia masa lalu yang begitu identik dengan kerukunan, rasa persaudaraan, keakraban dan sebagainya.

Paguyuban Karawitan Sastra Jendra adalah sebuah komunitas penggiat kesenian Jawa yang beralamatkan di Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya, tepatnya di dalam kompleks Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Komunitas itu eksis sejak tahun 2007, dan telah menghasilkan banyak karya juga malang melintang di jagad pementasan budaya Jawa di Jawa Timur.

Bagaimana sejarah terbentuknya? Joko Susilo, mantan ketua Pakar Sajen yang kini menjadi pembina menjelaskan bahwa awal terbentuknya Pakar Sajen didasarkan atas kegelisahan mereka karena melihat adanya perangkat gamelan berdebu dan tidak terawat, teronggok di sebuah ruang di lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya, Unair. “Kebetulan para pendiri Pakar Sajen yang juga aktif di bidang sastra Jawa prihatin melihat kondisi gamelan yang tidak terawat itu. Makanya kami berinisiatif untuk merawatnya sekaligus belajar mendalami musik jawa,” ujar Bapak anak satu itu.

Setelah melakukan pembersihan dan perawatan gamelan, para pendiri Pakar Sajen yang juga tercatat sebagai mahasiswa Unair berinisiatif untuk membuat komunitas pecinta budaya Jawa. Maka setelah dilakukan serangkaian pertemuan, terbentuklah Paguyuban Karawitan Sastra Jendra (Pakar Sajen) pada tanggal 10 November 2007 atau 27 Syawal 1940 dalam penanggalan Jawa. “Waktu itu anggotanya baru beberapa orang saja,” ujar Sigit Andriyanto, ketua Pakar Sajen.

Mengapa dinamakan Pakar Sajen? Mega Dian Pujasera, anggota Pakar Sajen mengatakan bahwa komunitasnya terilhami oleh ajaran Sastra Jendra. Sastra Jendra dalam pewayangan adalah sebuah ajaran luhur yang diajarkan oleh seorang Resi bernama Wisrawa dalam kisah Ramayana. Di dalam ajaran tersebut terdapat makna yang begitu dalam. “Seseorang yang dapat menyadari dan menaati makna yang terkandung di dalam ajaran Sastra Jendra akan dapat mengenal watak atau nafsu-nafsu yang berasal dari diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Sifat yang bersifat buruk dilenyapkan dan yang bersifat baik dipelihara untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar perempuan asli Probolinggo itu.

Sastra Jendra dalam pewayangan diyakini sebagai sebuah ajaran yang dipakai seseorang sebagai kunci untuk memahami tubuh manusia yang di dalamnya terdapat sebuah jagad indraloka, berada di dalam rongga dada, yaitu pintu gerbang atau kunci rasa jati, dalam hal ini bernilai sama dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib. Maka dari itu ilmu Sastra Jendra disebut juga sebagai sastra utama, puncak dari segala macam ilmu. “Nama ajarannya secara lengkap disebut sebagai Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kami memakai nama Sastra Jendra agar kami dapat menyelami ajaran kebaikannya sekaligus dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Indiar Manggara, dewan Pembina sekaligus salah satu pendiri Pakar Sajen.

Pada awal berdirinya, Pakar Sajen beranggotakan para mahasiswa penggiat sastra, utamanya sastra Jawa yang sebagian besar tidak memiliki kemampuan bermusik. Maka dari itu awalnya mereka meminta bantuan komunitas sejenis yang terdapat di Universitas Airlangga, yakni UKTK (Unit Kegiatan Tari dan Karawitan) untuk mengajarkan mereka dasar-dasar bermain musik Jawa. Selain itu mereka aktif mengadakan diskusi tentang budaya Jawa sebagai sarana untuk meningkatkan eksistensinya. “Saat itu kami diajari memainkan musik Jawa oleh teman-teman UKTK. Kemudian dibimbing pula oleh Broto, guru karawitan SMKN 9 Surabaya,” ujar Aulia Nugroho, salah satu anggota Pakar Sajen.

Perlahan tapi pasti Pakar Sajen mulai menunjukkan perkembangannya. Dari tahun ke tahun komunitas itu telah banyak belajar dan menguasai dengan baik tekhnik bermain musik Jawa. Bahkan, kini mereka dapat mengembangkannya dengan cara memasukkan unsur-unsur musik modern. Selain itu mereka aktif dalam mengadakan diskusi serta menulis geguritan (puisi Jawa) maupun prosa Jawa. Menariknya, mereka juga mengadakan seni pertunjukan lawak berbahasa Jawa yang mereka sebut ‘Drama Tubruk’. “Kami menyebutnya drama tubruk karena pementasan kami itu disebut Ludruk ya bukan Ludruk, disebut Ketoprak juga bukan ketoprak, tapi drama kami ini berbahasa Jawa. Full semua adegan dalam pementasan kami adalah lawak,” ujar Endik Nur Cahyo, koordinator seni pertunjukan Pakar Sajen.

Dalam perjalanannya, Pakar Sajen telah mulai aktif mengisi acara-acara baik di dalam maupun di luar Unair. Komunitas itu menjadi langganan dalam acara Dies Natalies maupun berbagai acara hajatan. ‘Drama Tubruk’ yang mereka gagas juga lambat laun mendapat respon luas dari masyarakat. Awal mula pementasan ‘Drama Tubruk’ diselenggarakan pada tahun 2008 oleh aktor-aktor teater Gapus, Surabaya, yang juga menjadi anggota Pakar Sajen. Dalam perkembangannya, Drama Tubruk Pakar Sajen banyak diminta tampil untuk mengisi berbagai acara di Surabaya hingga mendapat kesempatan tampil bersama komunitas Ludruk terkemuka Jawa Timur, yakni Irama Budaya. “Waktu itu tahun 2009. Kesempatan tampil bersama para maestro ludruk Irama Budaya merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami,” ujar Azizah, anggota Pakar Sajen.

Hingga kini Pakar Sajen tercatat memiliki anggota sebanyak 40 orang, yang mengejutkan, salah satu anggotanya adalah pria bule warga negara Meksiko bernama Miguel Angel Mesquivias. Ia mengaku tertarik mempelajari budaya Jawa. “Budaya Jawa itu menyenangkan dan memiliki makna yang dalam,” ujarnya.  Selama ini pria yang fasih berbahasa Indonesia itu aktif mendalami musik gamelan dan sedang belajar bahasa Jawa.

Dalam setiap minggu mereka melakukan latihan rutin setiap hari Senin maupun Rabu malam. “Bila ada pentas besar, kami menambah jadwal latihan pada hari Jumat. Jadi seminggu tiga kali,” ujar Raras Hafidha Sari, anggota Pakar Sajen. Selain itu, mereka aktif menggalakkan dan melestarikan sastra Jawa dan melakukan upacara ruwat gamelan setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa.


Minat Masyarakat Terhadap Budaya Jawa

Bagaimana anggota Pakar Sajen menyikapi perkembangan Budaya Jawa yang semakin hari terkikis oleh masuknya budaya asing? Tentunya menarik untuk disimak, mengingat anggota Pakar Sajen mayoritas dihuni oleh kaum muda yang memiliki kepedulian terhadap budaya Jawa.

Menurut Arief Rahman, budaya Jawa sebagai cermin budaya bangsa harus terus dipelihara sebab di dalam budaya Jawa terdapat falsafah hidup yang cukup bagus untuk diterapkan dalam kehidupan, demi menjaga keutuhan bangsa. “Budaya Jawa sekarang mengalami masa dekadensi. Tentunya hal ini perlu disadari bersama agar budaya Jawa tidak menghilang ditelan arus jaman,” ujarnya.

Minat generasi muda terhadap musik Jawa memang sangat kurang. Menurut Andriyanto Sigit, hal itu disebabkan oleh masuknya musik-musik asing ke Indonesia hingga mengikis eksistensi musik Jawa. “Tugas Pakar Sajen adalah menjaga budaya Jawa yang semakin tersisih. Alhamdullilah hingga kini kami mendapat dukungan dari para pemerhati budaya, akademisi dan masyarakat yang masih peduli terhadap budaya Jawa. Usaha kami ini setidaknya membuahkan hasil. Anggota kami dari tahun ke tahun semakin bertambah,” ujar ketua Pakar Sajen itu.

Bagaimana kiat Pakar Sajen dalam menjaga Budaya Jawa? Menurut Mega Dian, Pakar Sajen dalam hal bermusik kini telah mengembangkan kreasi untuk memadukan antara tradisi dan modernitas dalam aransemen musik yang mereka mainkan. “Kami berusaha untuk membuat gamelan dan musik Jawa bisa diterima oleh masyarakat dengan cara memasukkan kedua unsur, yakni tradisi dan modern sehingga bisa akrab di telinga kaum muda. Kami juga mengolah instrument lagu-lagu Jawa dengan mempercepat tempo lagu atau membuatnya lebih ceria,” ujarnya.




QUOTE




Arief Rahman 
“Budaya Jawa mengalami dekadensi. Pertunjukan selalu didominasi oleh penonton yang berusia lanjut. Sementara generasi muda memilih hal lain, seperti budaya-budaya asing yang diantaranya tidak bermoral. Maka kami, Pakar Sajen berusaha menanamkan budaya Jawa pada masyarakat”



 

 Mega Dian Pujasera
“Gending-gending Jawa sebenarnya banyak mengandung ajakan untuk menjaga kedamaian di bumi kalau saja kita mau mempelajari dan mengerti maksud dari gending-gending tersebut”



 


Miguel Angel Mesquivias
“Budaya Jawa sangat dalam dan kaya makna. Baik tari, musik, seni pertunjukan maupun sastra banyak memiliki makna tersembunyi. Budaya Jawa adalah sarana terbaik untuk mempersatukan masyarakat”





 
Sigit Andriyanto
“Pakar Sajen adalah salah satu bentuk dari upaya kami untuk menjaga dan memelihara kebudayaan Jawa di tengah-tengah masyarakat. Semoga budaya Jawa tetap lestari”





Joko Susilo
“Sastra Jendra mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Karena itu Sastra Jendra disebut sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan mencapai kesempurnaan hidup”




* Tulisan saya ini pernah dimuat di Surabaya Post edisi 23 Desember 2012

4 komentar:

  1. salam kenal,saya nanang kristianto.saya punya niat untuk menjual gamelan lawas.apabila temen temen berniat membantu untuk gamelan saya bisa laku saya akan sangat terbantu.gamelan saya dari besi tetapi besi lawas atau besi lama,jd bukan buatan baru...jd ada nilai historisnya.rata rata pembuatan di atas 15 tahun .jenis slendro.saya dulu pernah ambil tp sulit bgt lakunya,wlu pun akhirnya laku juga,,mungkin ada temen temen yg mau berkerja sama,agar gamelan itu bs banyak di miliki oleh komunitas di surabaya,alamat saya jln raya wiyung gg dpr,rt 1,rw 1 no 13.email blonangkristianto@yahoo.co.id.fb blonangkristianto@

    BalasHapus
  2. Saya berminat untuk belajar karawitan di daerah surabaya tpi di mna mohon informasinya
    Salam santun ku

    BalasHapus
  3. Salam... Saya juga minat belajar karawitan d Surabaya. Mohon info...

    BalasHapus
  4. Saya berminat gabung di komunitas ini.. Bagaimana cara nya? Trims

    BalasHapus